Pasar Saham Jatuh, Apa yang Harus Dilakukan?

Apa yang Bisa Kita Lakukan Saat Pasar Jatuh?

Posted on

Tiga puluh (30) hari terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau indikator Bursa Efek Indonesia sudah turun -9,44% dari 6113,045 pada 29 Januari 2020 menjadi 5.535,694 pada 27 Februari 2020. Hari ini IHSG masih turun terus di kisaran 5.311, atau penurunan -13,11% lebih. Ini adalah penurunan terparah selama 3 tahun terakhir dalam waktu yang relatif singkat. Apa yang bisa kita lakukan saat pasar jatuh seperti sekarang ini?

PERHATIAN: Sebelum ke topik utama, saya ingin memberi peringatan bahwa fokus artikel ini dimaksudkan bukan untuk upaya spekulasi saham. Saya tidak tertarik dan tidak punya kapasitas dalam upaya spekulasi.

Bahasan di bawah hanya untuk kegiatan investasi melalui analisa sungguh-sungguh untuk mencapai keuntungan jangka panjang. Jika Anda perlu pengantar, boleh juga mengikuti artikel atau podcast berjudul, “Gimana Biar Tidak Mudah Panik Saat Bursa Anjlok?“. Artikel serupa pernah dimuat di blog Stockbit berikut pada Agustus 2018 lalu.

Panduan dalam artikel ini bersifat lebih pragmatis dan detail. Bahasan versi video bisa diikuti di bawah ini.


Edukasi video di YouTube, Pasar Saham Crash/Jatuh, Apa yang Harus Dilakukan?

Apa yang Bisa Kita Lakukan Saat Pasar Jatuh?

Panduan di bawah berguna jika Anda tertarik mengevaluasi struktur portofolio Anda baik untuk injeksi modal baru untuk membeli saham-saham yang sudah turun atau menukar beberapa saham dengan saham lainnya jika dana terbatas.

  1. Fokus utama kegiatan investasi di saham adalah untuk jangka panjang. Dalam jangka panjang, fluktuasi jangka pendek baik -15% (saham BBRI sudah turun segini per hari ini dari harga tertinggi), atau -50% pun tidak ada. Saat kinerja perusahaan baik terus-menerus, saatnya akan tiba market menghargai perusahaan tersebut pada waktunya.
  2. Ingat saat Anda membeli saham perusahaan tersebut, Anda sudah menganalisa dan membelinya di harga lebih murah dibanding harga wajarnya.
  3. Evaluasi masing-masing emiten. Apa alasan Anda untuk beli? Berapa harapan harga targetnya? Bagaimana prospek usahanya? Bagaimana prospek pertumbuhannya?
  4. Peringkatkan masing-masing. Dari evaluasi nomor 3, evaluasi apakah perusahaan masih bagus, ataukah underperform—baik karena prospek usahanya tidak menarik lagi, apakah ada kesalahan analisa, atau justru ekspektasi Anda berlebih. Lalu beri tanda A (bagus sekali, on the track), B (sedang), C (kurang meyakinkan lagi) sesuai analisis terakhir tersebut.
  5. Jika masih punya dana. Kalau penurunan saham lebih dari 10%, atau hingga 20%, saatnya untuk mengambil langkah: cairkan dana cadangan dan belikan saham. Saham turun adalah peluang bagi value investor yang percaya kualitas perusahaan. Bahwa perusahaan sedang didiskon. Tapi selalu yakinkan murahnya bukan karena isu integritas atau isu kekhawatiran permodalan (seperti kekhawatiran gagal bayar obligasi, dll). Lalu ikuti panduan langsung membeli saham yang taktis di bawah. Jangan main hantam semua.
  6. Jika tidak ada dana tambahan, Anda masih bisa menukar saham perusahaan yang tidak begitu baik ditukar dengan yang lebih baik dan lagi turun lebih parah. Strateginya ikuti panduan menukar saham di bawah.

Strategi Membeli Saham Saat Pasar Bergejolak Dari Tambahan Dana Cadangan

Setiap value investor pasti tangannya sudah gatal ingin membeli semua saham yang sedang turun agar averagenya atau biaya modal investasinya lebih turun. Pasar sedang sale. Gimana tidak senang? Tapi tunggu dulu. Tarik nafas. Lakukan 24 Langkah Tai-Chi, eh maksud saya, atur strategi dulu. Ini saran saya:

  1. Bagi dana cadangan menjadi empat bagian. Ya cukup empat. Namun kalau Anda konservatif, boleh saja dibagi enam. Misal dana tambahan Anda Rp100 juta. Empat bagian artinya Rp25 juta. Setiap bulan habiskan dana hanya Rp25 juta untuk membeli saat pasar dalam penurunan.

    Kenapa 4-6 enam? Selama 4 bulan hingga 6 bulan nanti, jika memang benar krisis, Anda punya kesempatan untuk average down saham-saham tersebut. Selama sejarah resesi umumnya terjadi antara 6-9 bulan. Tentu bisa lebih jika yang terjadi lebih buruk. Namun bisa juga lebih cepat. Empat bulan adalah masa yang cukup aman untuk mengakuisisi. Pembagian dana untuk pembelian menjadi 4-6 kali masa untuk menjaga agar emosi Anda stabil. Ya, kestabilan dan ketenangan emosi jauh lebih penting loh di masa tenang, apalagi di masa susah.
  2. Asumsinya, jika sebelum empat bulan market sudah naik, maka krisis yang terjadi hanya gejolak kecil. Riak sungai yang mengganggu jalur utama. Krisis kecil lewat. Investasi Anda kembali kelihatan bagus. Semua selamat.
  3. Jika yang terjadi adalah krisis besar, waktu 4-6 bulan akan cukup menambah tambahan kepemilikan saham Anda lebih banyak. Kalau dana habis. Sudah lupakan saja. Anda masih hidup. Anda masih sehat. Kalau itu krisis besar. Semua orang kena juga kok. Bukan Anda saja. Syukurilah kenikmatan hidup bahwa negara masih aman, tenteram, tidak terlibat perang, tidak ada krisis politik atau keamanan.
  4. Setelah periode pesimisme lewat, jika pasar kembali ke titik seimbang awal, saya yakin beberapa saham kriteria value yang Anda beli sudah kembali ke harga mendekati semula. Bahkan nilai portofolio Anda mungkin sudah kembali untung. Jual sebagian kecil portofolio investasi yang sudah naik kembali. Kembalikan sisa dana cadangan sesuai perencanaan keuangan Anda ke rekening reksadana pasar uang atau deposito. Biarkan sebagian besarnya menuju keuntungan jangka panjangnya.

Disclaimer: Anda bebas tidak setuju terhadap saran saya. Uang Anda sendiri, investasi Anda sendiri, tanggungjawab Anda sendiri.

Strategi Menukar Saham Saat Pasar Bergejolak, Tanpa Ada Tambahan Dana

Ini adalah strategi untuk orang-orang yang terpaksa ?

  1. Anda sudah punya peringkat emiten tadi. Lihat poin pertama nomor 4. Fokuskan ke peringkat C. Jual semua.
  2. Dari peringkat tadi, saring yang peringkat B, kategori yang Anda masih ragu apakah ini jelek atau bagus. Jual yang minusnya paling kecil. Misal: saham AAAA -10%. Saham BBBB saat ini -25%. Jual saham AAAA itu (ralat, sebelumnya tertulis BBBB, maksud saya yang minus kecil yaitu AAAA).
  3. Dari dana penjualan langkah 1 dan langkah 2, belikan saham kategori A yang minusnya terbesar. Berangsur merata ke saham-saham yang minusnya lebih kecil. Berangsur ke peringkat yang paling bawah. Ada baiknya disesuikan dengan rencana portofolio Anda.

Hasil akhirnya, uang Anda berpindah dari perusahaan yang sudah tidak cukup baik ke perusahaan yang sangat baik. Di sini Anda membeli waktu dan peluang. Ini adalah strategi memanfaatkan opportunity cost.

Tidak ada strategi yang baku dalam langkah ini. Semua tergantung analisa masing-masing yang bersifat subyektif. Dan ingat, kalau sudah mengambil keputusan, nggak usah menyesal di kemudian hari. Dan, risiko adalah tanggungjawab sendiri-sendiri.

Investor harus tega juga cut loss dan berinvestasi di perusahaan yang lebih baik. Perusahaan yang kinerjanya sedang stagnan sering harganya tidak diapresiasi cukup cepat oleh pasar dibanding perusahaan sangat bagus. Menambah komposisi kepemilikan perusahaan yang lebih baik akan memberi lebih banyak peluang lebih bagus kepada aset Anda untuk berkembang.

Tujuan Strategi Ini

Tujuan langkah-langkah di atas adalah alokasi kapital untuk mencapai hasil yang paling positif. Upaya itu bisa dicapai dengan memiliki investasi lebih banyak atau mengalihkan yang buruk ke yang baik namun turun lebih buruk. The goal is to get the most positive result, not the most diversified portofolio. Tujuannya adalah mencapai tambahan hasil positif lebih banyak dalam jangka panjang. Dari menjual yang negatif lebih kecil ditukar dengan yang negatif lebih besar. Dalam jangka panjang seharusnya hasil positifnya lebih besar.

Risiko

Tentu ada risiko strategi seperti di atas itu. Secara average, nilai biaya modal Anda akan hilang karena realisasi rugi. Apalagi jika pasar saham jatuh lagi. Ini seperti adagium trader yang berkata, “Jangan menangkap pisau jatuh!”

Dari sisi angka memang benar. Tapi ingat, kita adalah investor jangka panjang dengan modal uang dingin yang tidak perlu menganggap fluktuasi ada. Mengalokasikan dana ke sarana investasi potensial yang sedang didiskon parah adalah strategi jitu untuk menangkap peluang keuntungan yang lebih besar.

Pelajaran Penting Dari Kegiatan 10 Tahun Berinvestasi

Selama 10 tahun berinvestasi di pasar modal. Saya bersyukur mengikuti metode atau aliran atau paradigma investasi yang diajarkan Ben Graham, gurunya Warren Buffett itu. Selain faktor ketenangan, ternyata metode ini juga membawa keberuntungan dalam jangka panjang. Berikut adalah beberapa pengalaman saya.

Pertama, selama selalu membeli dengan harga terdiskon, gejolak pasar parah seperti akhir Agustus 2018, Mei 2019, atau Agustus 2019 pun sering mencatatkan akumulasi penurunan portofolio tidak parah amat. Bahkan kadang masih lebih baik dibandingkan kinerja IHSG. Tapi bisa juga lebih parah. Lebih sering tidak. Namun hasil akhirnya, selamat. Ini membuktikan bahwa ajaran Graham memang benar. Jika kita membeli yang sudah didiskon pasar, probabilitas kerugian dari saham itu tidak terlalu besar.

Kedua, saham small cap atau mid-cap kadang menyelamatkan. Saham-saham yang sudah dibeli turun dan tidak populer ini kadang diam saja meskipun IHSG sudah -10% lebih. Kadang turunnya sedikit.

Ketiga, kegagalan performa investasi umumnya berelasi dengan sebuah langkah investasi yang sedang berlawanan dengan tren. Misalnya, kita baru masuk investasi lalu pasar turun. Atau keperluan dana lain yang bersifat terpaksa. Sejauh ini kinerja minus saya lebih banyak terpengaruh dua faktor ini.

Akhirnya, Semua Patut Disyukuri

Setelah semua krisis fluktuasi pasar lewat. Anda boleh merayakannya dengan makanan yang enak dan murah seperti sebungkus mi instan yang sering menggoda namun Anda menundanya karena takut kebanyakan micin.

Jangan lupa selalu jaga kesehatan agar kita bisa terus berinvestasi dengan bahagia.

Be greedy, in a good way, ya! Semoga bermanfaat!