CLPI Bergoyang

Hari ini saham Colorpak Indonesia, Tbk (CLPI) sedang tertiup angin kencang. Dan ternyata angin itu membawa angka saham ini ke pergerakan naiknya yang kedua. Pagi hari pasar dibuka pada 350, tiba pada sore hari sekitar pukul 3-an, harganya bergoyang-goyang membumbung tinggi hingga ditutup mencapai 380 dengan jumlah transaksi 3.144.500 lembar saham. Tertinggi kedua setelah periode jumpalitan sebelumnya pada 15 Maret lalu, yaitu terjadi transaksi hingga 10 juta saham. Padahal tidak ada rencana aksi perusahaan dalam waktu dekat yang bisa mempengaruhi harga saham, demikian laporan manajemen CLPI 9 Maret lalu.

Grafik saham CLPI di Reuters pada 24 Maret 2011
Grafik CLPI hari ini 24 Maret 2011 di Reuters

Sumber: Reuters.

Sebagai pemegang CLPI tentu saja saya siap menyambut pergerakan apapun di saham ini. Apakah dia nanti akan menanjak ke 450-an, saya tidak akan mengulang kesalahan sebelumnya. Bila nanti saham ini akan kembali ke angka rendahnya, saya pun siap.

Memahami Logika Rumor

Pagi hari sebelum pasar buka, seperti biasa ada banyak email datang dari perusahaan sekuritas saya menjadi anggota bursa. Biasanya mereka mengirim rekomendasi transaksi saham, laporan keuangan perusahaan tertentu, perkembangan bursa dan pasar regional, kadang-kadang analisis emiten, dan sebagainya.

Hari ini ada satu kiriman yang agak aneh, sebuah rumor.

Setelah saya baca, ternyata rumor itu tidak dibuat oleh pihak sekuritas, melain sebuah berita dari detikfinance: Hedge Fund Asing Incar Saham Floating BBTN.

Saya tidak akan mengajak untuk berburu saham itu, namun saya ingin mengajak untuk memahami logika rumor. Kenapa perlu dipahami? Sebab dengan memahami logika rumor, kita bisa paham bahwa rumor hanya rumor, atau rumor bisa dianggap sebagai peringatan. Kalau yang terakhir itu jadinya, kita jadi punya pegangan bila ada berita sesungguhnya datang.

(lebih…)

Disclaimer is On

Pada awal ketika saya mulai serius menekuni dan belajar investasi, saya langsung terkesiap dengan kata ini, “Disclaimer is On.” Begitu tulis mereka.

Tulisan ini bisa kita jumpai di laporan analis yang kita terima dari perusahaan sekuritas. Juga artikel dan rekomendasi yang banyak saya jumpai. Kata ini hampir tidak pernah dijumpai pada tulisan atau rekomendasi di bidang lain, kecuali berhubungan dengan investasi. Setelah sebuah tulisan panjang lebar dan detail, penuh hitungan dan rumus yang rumit, disertai statistik dari berbagai metode dan teori, tabel-tabel yang berwarna-warni, tiba-tiba saja ada kata ini dalam satu baris.

Anda merasa aneh? Itu yang saya rasakan pada awalnya. Kenapa harus ada kata ini? Mari kita selidiki arti kata ini.

(lebih…)

Tentang Fluktuasi Saham

Setiap investor yang ingin masuk ke pasar saham pasti paham bahwa saham punya resiko tinggi. Nilai saham itu juga fluktuatif. Menurut arti harfiahnya, fluktuatif artinya labil atau berubah-ubah. Ya, nilai saham bisa berubah nilainya, kadangkala naik, kadang turun. Kadang naik lambat, kadang naik cepat. Kadang turun cepat, kadang turun lambat.

Begitulah yang terjadi dengan koleksi saham saya, Colorpak Indonesia, Tbk (CLPI), yang pada saat tulisan ini ditulis sore ini tercatat masih ada 45.000 lembar saham. Lho, apakah saya tidak memanfaatkan kenaikan nilai CLPI yang menanjak hingga Rp 450 beberapa hari yang lalu? Tidak. Saya memang tertinggal. Saya tidak melakukan apa-apa.

Meskipun tidak melakukan transaksi lepas saham CLPI, saya tidak pernah kehilangan informasi. Saya sudah memantau perkembangan ini sejak transaki terakhir pada 7 Maret lalu. Hampir tiap hari saya memantau informasi saham ini, baik ketika senggang, saat bekerja, juga ketika lagi di jalan melalui aplikasi Bloomberg di iPhone dan iPad. Saya juga mengecek data CLPI di situs IDX, apakah ada aksi korporasi, laporan keuangan terbaru, ataukah berita lain. Ternyata tidak ada. Semuanya nil. Jadi, apakah ini murni aksi spekulasi para pemegang saham saja, ataukah kenaikan ini adalah dasarnya?

Maka kembalilah diskusi kita ke fluktuasi saham. Lalu sebenarnya bagaimana kita harus menyikapi fluktuasi saham?

(lebih…)

Bisnis Saham

Sebuah Iklan "Bisnis Saham" yang sangat menjanjikan

Di harian Kompas edisi kemarin, saya menemukan iklan bisnis saham seperti di atas. Nama perusahaan, foto, nama sistem, dan mungkin nama branding sengaja saya hitamkan agar tidak mengarah ke seseorang atau sistem tertentu. Yang ingin saya angkat di tulisan ini adalah, andaikan Anda orang awam dan tidak pernah mengetahui apa dunia saham sebelumnya, apakah Anda terpikat dengan iklan tersebut?

(lebih…)

Colorpak Indonesia, Tbk (CLPI) – Jan 2011

Profil Perusahaan

PT Colorpak Indonesia Tbk. didirikan pada tahun 1988 sebagai suatu perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) yang memproduksi tinta cetak berkualitas unggul dengan harga kompetitif untuk dapat memenuhi kebutuhan pasokan domestik tinta cetak dan bersaing dengan produsen tinta cetak yang telah lebih dulu berperan.

Saat ini dengan menempati area seluas 6200 m2 di daerah Tangerang-Banten, Colorpak Indonesia memiliki kapasitas terpasang mencapai 6000 MT per tahun yang meliputi manufaktur tinta cetak dan pelapis dengan tingkat utilisasi mencapai 90%.

Pada tahun 2001, perseroan telah mencatatkan seluruh sahamnya pada Bursa Efek Jakarta dengan kode perdagangan CLPI, dengan demikian sebagai Public Company tuntutan yang ada akan menjadi semakin tinggi.

Menurut pendapat saya, bisnis Colorpak Indonesia, Tbk (CLPI) termasuk mudah dipahami. Salah satu hukum dalam memilih perusahaan sebagai kandidat berinvestasi adalah mudah dipahami bisnisnya. Saya berpikir usaha tinta untuk packaging ini adalah bisnis yang tidak lekang oleh waktu. Lebih-lebih di waktu mendatang, kemungkinan pertumbuhan stabil, dan ia sedikit terpengaruh oleh berbagai gejolak. Melihat performanya juga bagus, dalam rekam jejak lima tahun, CLPI hampir selalu untung. Rasio hutang bagus. Dan selalu membagikan dividen. Jadi tugas sebagai investor tinggal menghitung harga wajar sahamnya.

Harga Wajar Saham

Menurut perhitungan saya, harga wajar saham CLPI adalah Rp 500-an.

Saya juga memantau sejarah harga sahamnya, ternyata harganya masuk kisaran Rp 430-Rp 450,-. Ada fenomena menarik terjadi pada periode November 2007 saham CLPI yang biasanya hangat dan tenang pada kisaran Rp 450,-an tiba-tiba melonjak hingga Rp 1.530,- (dan bahkan Rp 1.680-an). Fantastis. Tapi fenomena ini tidak mengagetkan saya. Setelah membaca public expose 6 April 2010, pada periode itu ternyata ada transaksi besar dan ini adalah masuknya investor asing seperti Merril Lynch dan JP Morgan Bank (ambil alih saham dari Crendwell Pte. Ltd) hingga masing-masing menguasai 19,59% dan 5,36%. Wajar, memang. Dan kemudian setelah April hingga saat ini, harga saham CLPI berkutat pada kisaran 450-an.

Harga CLPI ketika tulisan ini ditulis sedang jatuh hingga Rp 325 (dua minggu lalu) dan saat ini harganya ada di Rp 345. Harga yang sangat menarik. Saya berpendapat akan mengkoleksi saham ini hingga harganya mencapai Rp 440-an atau harga rata-rata normalnya, yaitu harga minimal untuk mendapatkan margin safety yang cukup dalam investasi.

Referensi

Investasi

Tulisan ini bukanlah definisi formal. Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi, saya ungkapkan dengan nalar dan pemahaman umum, dengan harapan semoga mudah dipahami.

Investasi menurut pemahaman yang saya pelajari adalah kegiatan manusia untuk meningkatkan nilai harta kelolaannya. Ini adalah definisi yang sangat umum. Ben Graham menambahkan kategorisasi tambahan bahwa investasi adalah kegiatan yang lebih spesifik, yaitu tidak spekulatif, berdasarkan kalkulasi matang dan hati-hati. Anda bisa menemukan definisi investasi ala Graham ini dari bukunya The Intelligent Investor (sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Serambi). Saya lebih menyukai definisi tambahan dari Ben Graham itu karena terasa lebih masuk akal.

Belakangan kita banyak mendengar berbagai kegiatan disebut investasi: mulai dari “bermain saham”, foreign exchange (forex), jual-beli emas, investasi properti, asuransi pendidikan, reksadana, deposito, tabungan, obligasi, dan bahkan ada yang menyebut aktivitas MLM juga sebagai investasi. Investasi memang tidak bisa dibulatkan kedalam suatu istilah, saya setuju hal ini. Namun investasi pada dasarnya adalah kegiatan penuh perhitungan dengan tujuan meningkatkan nilai aset yang kita kelola. Penuh perhitungan artinya kita mempunyai dasar, ilmu, pertimbangan sebelum melaksanakan kegiatan itu.

Mari kita ambil contoh investasi properti. Saya tidak setuju dengan anggapan bahwa investasi properti adalah paling aman, nilainya cenderung naik secara stabil. Bila statistik umum berkata kebanyakan seperti itu, memang benar adanya. Tapi sebelum melangkah ke properti, ada baiknya kita juga melihat resiko properti, biaya-biaya yang timbul karena investasi properti itu tidak sedikit, belum lagi biaya renovasi, resiko properti yang tidak likuid (jualnya lama), dan sebagainya. Properti juga punya resiko, seperti bila suatu saat daerah terkena banjir, maka otomatis harga tanah/rumah di daerah tersebut bisa jatuh terpuruk.

Saya memahami investasi selalu mempunyai resiko. Emas punya resiko keamanan, likuiditas, biaya penyimpanan, dan mungkin hal-hal lain. Properti seperti di atas tadi. Saham punya resiko jatuhnya nilai saham, perusahaan bangkrut dan delisting, dan sebagainya. Semua konsep investasi punya resiko. Tapi kalau kita paham akan resiko, kita bisa siap dengan segalanya dan kita akan bisa memperhitungkan resiko tersebut sehingga kita bisa mengantisipasi atau keluar dari resiko agar tidak timbul kerugian, atau minimal mengurangi resiko kerugian yang kita alami.

Produk Investasi Pasar Modal

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas investasi selain pasar modal karena itu kegiatan yang tidak menjadi fokus saya. Blog ini adalah tentang investasi pasar modal. Beberapa produk investasi pasar modal:

Reksadana

Reksadana adalah produk investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI) dengan menampung dana dari masyarakat untuk diinvestasikan melalui berbagai produk pasar modal, pasar uang, dan juga surat hutang. Ada berbagai jenis reksadana seperti Reksadana Saham, Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Terproteksi, dan mungkin berbagai jenis lainnya. Jangan pusing dengan penamaan ini, karena produk reksadana mungkin bisa bertambah atau berkurang. Prinsip pokoknya adalah MI mengelola dana kelolaan reksadana untuk diputar ulang ke dalam berbagai produk investasi, umumnya adalah ke dalam instrumen saham dan obligasi.

Tata cara berinvestasi melalui reksadana cukup mudah. Kita cukup mendaftar ke agen reksadana yang terdaftar di pasar modal, mengisi macam-macam formulir, lalu mengisi formulir pembelian reksadana yang kita inginkan, transfer dana, dan selesai sudah. Kita mendapatkan bukti investasi berupa salinan konfirmasi transaksi pembelian/penjualan. Setiap bulan MI akan mengirim rekap dana kelolaan kita melalui surat. Cukup mudah bukan?

Saham

Pengertian saham secara umum adalah suatu bagian kecil dari modal yang digunakan oleh sebuah perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sebuah perusahaan terdaftar di bursa artinya sebagian (atau seluruh persentase) komponen modalnya dimiliki oleh umum. Semua orang bisa memiliki porsi kecil modal perusahaan ini dengan cara membelinya di bursa saham. Kegiatan memiliki porsi kecil andil dari suatu perusahaan inilah yang disebut sebagai investasi saham.

Tata cara investasi saham cukup mudah. Anda datang atau mendaftar ke salah satu broker (apa istilah Indonesianya ya?), mengisi formulir dan segala persyaratan yang ditentukan, lalu menyetor dana deposit sebesar yang ditentukan oleh broker, dan setelah rekening aktif, kita bisa jual beli saham. Mudah bukan?

Produk Investasi yang Terkait Pasar Modal

Perlu dipahami ada beberapa produk investasi yang terkait dengan pasar modal. Hal ini perlu diketahui karena khalayak umumnya tidak menyadari bahwa hal itu terkait, atau dikesankan demikian oleh pembuat produk agar tidak terkesan rumit. Beberapa produk ini terkait secara langsung atau tidak langsung dengan pasar modal:

  • Asuransi Pendidikan, pengelola asuransi pendidikan (di Indonesia, mereka ini seperti Axa-Mandiri, Allianz, Prudential, Manulife, dsb) umumnya menginvestasikan dana kelolaan melalui saham, reksadana, dan juga obligasi.
  • Unitlink, pengelola UL umumnya menginvestasikan kelolaan dana mereka melalui shaam, reksadana, dan obligasi. Maka jangan marah-marah kalau kelolaan UL turun kalau pasar saham turun.
  • Dana Pensiun, sama seperti saudaranya di atas, pengelola Dana Pensiun umumnya juga menginvestasikan kembali dananya melalui produk-produk pasar modal.
  • Dan sebagainya…..

Untung/Rugi Investasi Pasar Modal

Investasi di pasar modal itu mudah dan efisien. Apalagi karena sifat transaksi yang serba elektronis, bahkan kebanyakan kita tidak perlu keluar rumah untuk melakukan hal ini. Karena gampangnya ini maka kesan kegiatan ini sebagai investasi bisa jadi makin menurun, saya melihat kebanyakan orang melihat sebagai permainan, lebih-lebih dalam kegiatan investasi saham. Kebanyakan kita lebih sering menyebutnya sebagai bermain saham. Ini adalah salah besar.

Satu hal yang disebut berulang kali oleh Ben Graham dalam bukunya, juga dalam komentar edisi terbaru, investasi bukan permainan. Investasi saham bukan judi. Investasi saham adalah kegiatan nyata, melibatkan uang nyata, uang hasil kerja keras kita, melibatkan perusahaan nyata yang mempunyai (ratusan dan mungkin ribuan) karyawan. Dengan melihat investasi saham sebagai memiliki andil perusahaan, kita akan lebih berhati-hati dan penuh perhitungan.

Saya setuju kegiatan investasi tidak sama dengan spekulasi. Investasi bukanlah kegiatan ramal-meramal, bukan pula kegiatan mengikuti perasaan, bukan kegiatan tanpa acuan, apalagi kegiatan ikut-ikutan pendapat umum. Ketika kita berkomitmen untuk investasi, maka kita akan berpikir tentang resiko, baru kita berpikir tentang peluang keuntungan.

Kami tidak menjual apa-apa

Setelah mengamati data catatan pengunjung di blog ini, kami melihat ada sebuah situs yang mengarahkan pengunjung ke blog kami. Kami tidak ingin menyebut situs apa itu.

Terus terang kami penasaran, karena kami tidak pernah melakukan promosi apa pun, tidak mengedarkan blog ini, dan juga tidak ada usaha lain bahkan cerita ke teman atau tetangga. Tentu saja kami menyebarkan blog ini melalui mesin pencari seperti Google, Yahoo, Ask atau Bing, itu saja dan karena itu normal. Kami pun ingin blog ini banyak pembaca.

(lebih…)

Tuan Pasar

Tuan Pasar adalah alegori kesukaan Ben Graham dalam menjelaskan istilah investasi yang rumit. Dan Tuan Pasar menjadi metofora paling cerdas untuk menggambarkan harga saham bisa salah.

Menurutnya Tuan Pasar adalah seseorang yang setiap hari mengetuk pintu rumah para investor untuk menjual atau membeli saham-saham pada harga yang berbeda-beda. Seringkali harga yang ditawarkan oleh Tuan Pasar tidak masuk akal mahalnya, tapi tidak kalah sering dia juga menawarkan harga yang kelewatan murahnya. Sebagai investor kita bebas untuk menyetujui atau bertransaksi dengan setiap harga yang ditawarkan oleh Tuan Pasar, atau tak ada masalah bila kita mengabaikannya. Tuan Pasar tidak mempermasalahkan hal ini, dan dia akan kembali esok harinya untuk menyebutkan harga yang berbeda lagi.

(lebih…)

Margin of Safety

Arti dasar bahasa Inggrisnya kira-kira batas akan keamanan. Tetapi kita semua mengenal istilah ini, khususnya dalam dunia keuangan, dari Benjamin Graham dan David Dodd dalam bukunya The Security Analysis (1934). Menurutnya, batas akan keamanan adalah perbedaan antara nilai intrinsik suatu saham dengan harga saat ini. Atau dalam pengertian untung-rugi, batas akan keamanan adalah sampai seberapa jauh kita bisa menjalani usaha hingga usaha itu menunjukkan rugi.

Kembali ke pengertian pertama, seandainya kita tertarik dengan suatu saham. Misalnya saja harga saham tersebut saat ini dijual dalam kisaran Rp 900. Bila margin of safety-nya adalah 10% atau dalam harga Rp 1.000, maka bila kita membelinya saat ini, kita bisa mencari nilai aman hingga batas 10% itu. Jadi semakin besar batas akan keamanan suatu saham, tentu saja akan membuat kita merasa tenang karena nilainya masih menjamin investasi kita (masih akan) untung.

Panduan dasar investasi metode Graham adalah dari Batas akan Keamanan ini. Untuk aplikasinya, tentu harus menetapkan nilai Harga Wajar Saham. Ketika tahu harga wajar suatu saham, kita akan bisa menghitung apakah harga sekarang masih underpriced (dihargai murah, batas akan keamanan masih ada) atau overpriced (dihargai terlalu tinggi, melampaui batas akan keamanan).

Analoginya begini, misalnya saja kita dalam bisnis jual beli susu, harga wajar seliter susu adalah Rp 10.000 (anggap saja demikian). Dalam cerita ini kita anggap semua susu kualitasnya sudah teriuji dan baik. Suatu hari ada pemasok dari peternakan baru datang dan menawarkan pada kita seliter susu harganya Rp 9500, maka Rp 500 itulah batas akan keamanan kita. Kita yakin bila membeli darinya maka kita masih aman. Seandainya kita bisa menawar lebih murah lagi, maka batas akan keamanan kita akan jauh lebih baik lagi. Itulah analogi sederhana batas akan keamanan.

Dengan memegang teguh batas akan keamanan pada setiap saham yang kita beli inilah kita bisa yakin kapan harus membeli (atau menjual) saham, tanpa pusing dengan pergerakan saham harian. Atau bila kita yakin suatu saham kualitasnya bagus dan punya dividen menarik yang bisa memberikan pertumbuhan dalam jangka panjang, kita bisa dengan tenang menyimpannya saja.