Posted on

Strategi Investasi Ibu Rumah Tangga Menabung Dana Pendidikan Anak 10 Tahun Ke Depan

Menyiapkan dana pendidikan anak adalah tantang keuangan umum yang dihadapi masyarakat. Tanpa persiapan yang cukup, banyak orang tua kelabakan dengan meningkatnya dana pendidikan yang tinggi. Di artikel ini kami menyajikan strategi investasi Ibu Rumah Tangga (atau bisa siapa saja) dalam menyiapkan dana pendidikan anak 10 tahun yang akan datang.

Mari Bertemu Ibu Fatimah

Ibu Fatimah punya seorang anak yang akan masuk kuliah 10 tahun lagi. Ibu Fatimah ingin mempersiapkan biaya kuliah anaknya sebaik-baiknya agar di masa depan ia tidak panik menghadapinya.

Ibu Fatimah menghitung semua kebutuhan keuangan untuk kuliah anaknya dari: pendaftaran, biaya kuliah selama 4 tahun, bayar kos, dan makan—hingga lulus. Kebutuhan keuangan sekolahnya sekitar Rp100 juta untuk masa kuliah 4 tahun. Kebutuhan keuangan untuk kos dan biaya hidup sekitar Rp100 juta selama 4 tahun. Total semuanya Rp200 juta. Angka ini hanya perkiraan kasar. Kebutuhan keuangan untuk kuliah bisa lebih besar.

Penyesuaian Kebutuhan Keuangan Setelah Terkena Potensi Inflasi

Biaya pendidikan punya tingkat kenaikan yang lebih tinggi, sekitar 220% dalam 10 tahun (lihat Bab 1 Inflasi di Cerdas Berinvestasi), angka inflasinya jika disetahunkan adalah 12,33% per tahun.

Sementara itu kebutuhan keuangan untuk biaya hidup akan dihitung memakai inflasi 6% per tahun. (Baca Inflasi Indonesia 10 Tahun)

Perkiraan kebutuhan keuangan setelah terkena efek inflasi:

  • Perkiraan kebutuhan keuangan untuk biaya sekolah Rp100 juta akan menjadi Rp320 juta karena asumsi kenaikan pendidikan 220% selama 10 tahun.
  • Perkiraan kebutuhan keuangan untuk biaya hidup Rp100 juta setelah terkena inflasi 6% per tahun selama 10 tahun akan menjadi Rp179,1 juta (kita bulatkan Rp180 juta).

Total perkiraan kebutuhan keuangan untuk biaya kuliah anak Ibu Fatimah 10 tahun lagi adalah Rp320 juta + Rp180 juta = Rp500 juta.

Bagaimana Strategi Investasi Ibu Fatimah untuk menyiapkan Dana Kuliah Anaknya 10 Tahun Lagi?

Sekarang kita tahu Ibu Fatimah harus menyiapkan dana Rp500 juta dalam waktu 10 tahun lagi. Bagaimana strategi investasinya?

Dalam setiap diskusi strategi investasi, kami akan menyajikan dua pilihan, yaitu: investasi penuh dan investasi berkala.

Untuk memahami kedua strategi ini, silakan baca edukasi: Cara Berinvestasi: Penuh dan Berkala.  Di sana kami menyajikan penjelasan kenapa harus investasi penuh atau berkala, juga pilihan instrumen investasi dan alasannya.

Jika sudah selesai baca, silakan kembali ke sini lagi.

Strategi Investasi Penuh untuk Ibu Fatimah

Perkiraan investasi penuh untuk mencapai kebutuhan keuangan Rp500 juta setelah 10 tahun adalah sebesar Rp176,1 juta. Asumsi pengembalian investasi jangka panjang yang kita pakai adalah 11% per tahun. Karena investasi penuh, Ibu Fatimah bisa bisa memanfaatkan reksadana saham.

Untuk perkiraan hasil yang konservatif, bisa juga waktu investasi diperpendek jadi 8 tahun. Setelah itu Ibu Fatimah bisa menarik dananya dari investasi jangka panjang untuk dipindah ke instrumen investasi jangka pendek yang tidak fluktuatif. Perkiraan investasi penuh dalam instrumen yang sama untuk kebutuhan keuangan Rp500 juta selama 8 tahun dengan ekspektasi pengembalian 11% per tahun adalah Rp216,97 juta.

Strategi Investasi Berkala untuk Ibu Fatimah

Untuk mencapai kebutuhan keuangan Rp500 juta dengan ekspektasi pengembalian investasi 11% per tahun selama 10 tahun, Ibu Fatimah mencapainya lewat dua cara:

  • Investasi berkala sebesar Rp26,94 juta per tahun
  • Jika ingin berinvestasi bulanan, ia perlu mengangsur Rp2,29 juta per bulan

Andai Ibu Fatimah punya sedikit dana awal, katakanlah Rp50 juta di awal periode, lalu dia ingin menggunakan dana itu, bagaimana hitungan investasinya? Cara menghitungnya memakai teknik sama, dengan angka awal dikurangi Rp50 juta terlebih dahulu.

Dengan berinvestasi memakai dana awal Rp50 juta, ibu Fatimah bisa mencapainya dengan dua cara:

  • Investasi berkala Rp19,29 juta per tahun
  • Jika ingin berinvestasi bulanan, ia perlu mengangsur Rp1,6 juta per bulan

Bisa dilihat, kalkulasi di atas mirip skema cicilan kendaraan atau rumah. Jika dana panjar (DP) awal semakin besar, maka nilai investasi akan makin ringan. Semua investasi berkala disetor di awal periode, di awal tahun atau di awal bulan, agar efek bunga majemuknya bekerja.

Dengan berinvestasi Rp2,29 juta, yang dirasa cukup ringan untuk keluarga Ibu Fatimah, kini dia bisa tenang karena telah tahu cara menyiapkan dana dana keuangan untuk pendidikan anaknya 10 tahun mendatang.


Ingin Belajar Lebih Lanjut?

Unduh Gratis

Contoh ilustrasi di atas bisa ditemukan di buku Cerdas Berinvestasi yang tersedia gratis sebagai bentuk kontribusi Bolasalju untuk edukasi investasi di Indonesia. Anda bisa mempelajari berbagai sarana investasi, kelebihan/kekurangannya, pilihan beberapa strategi investasi, juga disertai bukti dan alasan kenapa pilihan itu yang baik. Kami juga menyediakan cara kalkulasi investasi bulanan memakai Excel.

Bagaimana Memilih Instrumen Investasinya?

Sayangnya, investor pasif dan pemula hanya punya pilihan terbatas untuk mencapai hasil investasi yang layak melalui strategi investasi berkala. Pilihan itu bukan reksadana. Pilihan yang tepat justru melalui investasi berkala di saham.

Untuk mempelajari kenapa investasi berkala di reksadana tidak tepat, silakan baca artikel Hasil Simulasi Investasi Berkala di 10 Reksadana Terbaik di Indonesia Selama 10 Tahun: Reksadana Kalah oleh Inflasi.

Untuk mempelajari investasi berkala di saham langsung sebagai pilihan yang layak, silakan baca artikel Hasil Simulasi Investasi Berkala Di 10 Saham Selama 10 Tahun Menghasilkan Perolehan Lebih Baik Dibanding Reksadana dan Bisa Mengalahkan Inflasi.

Untuk mencari pilihan saham yang baik buat strategi investasi berkala, kami telah menyediakannya:

Saham Pilihan Untuk Investasi Berkala

  • Mengenal strategi investasi berkala
  • Dua puluh saham berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia
  • Hasil simulasi 
investasi berkala selama 10 tahun di 10 saham pilihan
  • Hasil simulasi investasi dengan berbagai pilihan saham-saham, misalnya: 5 terbesar, BUMN, dan syariah.
  • Data profil dan bisnis, tahun penting, data fundamental, kinerja perusahaan 10 tahun (laba, ekuitas, saham), hasil simulasi investasi berkala, hasil perolehan dividen, hasil akumulasi dan hasil disetahunkan.

Beli