Mengenal Rasio PER

Mengenal Price-Earnings Ratio atau PER

Posted on 5 Komentar

Price-Earnings Ratio dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih Rasio Harga-terhadap-Laba, sering kali kita sebut P/E ratio (rasio P/E), atau ada yang suka menyebut PER saja.

Bagi Anda yang sudah lama berkecimpung di dunia investasi, istilah PER pasti hapal di luar kepala. Tapi bagi yang awam, mungkin lebih banyak yang bingung. Mari kita kenal kenalan dengan si PER, si rasio yang paling sering digunakan dalam penilaian saham.

Formula PER

Seperti namanya, baik dalam bahasa Indonesia atau Inggris yang sudah cukup jelas itu, PER adalah metode penilaian (valuasi) saham/sekuritas yang didefinisikan dari harga per lembar saham dibandingkan (dibagi) dengan laba per lembar saham. Formulanya seperti di bawah:

PER = harga per lembar saham ÷ laba bersih per lembar saham (EPS)

Sebagai contoh, bila sebuah perusahaan saat ini sahamnya diperdagangkan seharga Rp500 per lembar dan laba perusahaan tersebut selama 1 tahun terakhir (12 bulan penuh) adalah Rp65 per lembar saham, maka PER-nya adalah 7,69 (500 ÷ 65).

Tentang EPS atau Laba Bersih per Saham

EPS atau laba bersih per saham adalah hasil pembagian dari laba bersih yang dihasilkan perusahaan (untuk periode pelaporan keuangan) dibagi jumlah saham beredar di periode tersebut.

Nilai laba bersih setiap perusahaan biasanya dilaporkan dalam laporan keuangan keuangan perusahaan yang dilaporkan ke pihak otoritas bursa. Setiap perusahaan diwajibkan menerbitkan laporan keuangan perusahaannya minimal setiap tiga bulan sekali (kuartalan). Setiap laporan keuangan terbit inilah kita bisa mengevaluasi kinerja perusahaan tempat kita berinvestasi.

PER dari Beberapa Macam EPS

Pada suatu saat kita mendapatkan angka EPS untuk tahun penuh, maka perhitungan PER bisa utuh dan sempurna. Tapi kadang kita hanya mendapatkan angka EPS untuk satu kuartal saja, biasanya ada yang menyebut Q1-2013, 1Q2013, atau K1-2013 untuk kuartal (seperempat tahun) pertama atau tiga bulan pertama tahun buku 2013. Karena keterbatas nilai laba yang belum satu tahun penuh, kadangkala analis menggunakan perkiraan atau proyeksi EPS, perhitungan EPS dua-belas-bulan-berjalan, atau metode lainnya.

Macam-macam perhitungan PER dari beberapa jenis EPS:

  • EPS penuh dari laporan tahunan, maka perhitungan PER seperti formula di atas. Investor dianjurkan memperhatikan laporan tahunan untuk perhitungan EPS. Namun bila kapasitas riset Anda mencukupi, EPS kuartalan bias digunakan untuk memantau kinerja rutin investasi atau melihat peluang investasi.
  • Perkiraan EPS proyeksi dengan estimasi laba empat bulan ke depan, maka perhitungan PER-nya pun disebut forward P/Eprojected atau proyeksi). Perhitungan forward PER tinggal membagi harga saham dengan EPS-proyeksi tersebut. Contoh berikut menggunakan harga saham Rp500 seperti tadi:
    • EPS K1 (kuartal ke-1 atau 3 bulan) misalnya 15, maka perkiraan EPS proyeksi penuhnya adalah 15 × 4 (empat untuk menghasilkan 12 bulan penuh dari laporan 3 bulan tadi), maka EPS-proyeksi 2013 adalah 60, maka PER-nya 8,33x.
    • EPS K2 (kuartal ke-2 atau 6 bulan) sebesar 24, maka EPS-proyeksi adalah 48 (dari 24 × 2), PER proyeksi adalah 10,4x.
    • EPS K3 (kuartal ke-3 atau 9 bulan) sebesar 50, maka EPS-proyeksi adalah 66,6, PER proyeksi adalah 7,5x.
    • Bisa kita lihat pada contoh di atas, PER proyeksi mempunyai kelemahan bila penghasilan perusahaan tidak stabil pada setiap periode maka hasil proyeksi EPS kurang akurat sehingga PER pun berubah-ubah. Adakah metode perhitungan lainnya? Untungnya ada.
  • Metode perhitungan dua-belas-bulan-berjalan atau twelve-trailing-month (TTM) metode ini menjulamlahkan EPS pada dua belas bulan berjalan, atau tepatnya penjumlahan empat kuartal terakhir. Caranya cukup sederhana, dengan cara menjumlahkan EPS dari empat kuartal terakhir yang sudah dilaporkan. Bila saat ini K1, maka EPS TTM adalah penjumlahan dari EPS K1-2013 + EPS K4-2012 + EPS K3-2012 + EPS K2-2012 (mundur ke belakang). Penghitungan PER tinggal membagi harga dengan EPS hasil penjumlahan tersebut.
  • Variasi lainnya adalah penjumlahan EPS dari dua kuartal terakhir dan proyeksi dua kuartal berikutnya. Tapi ini jarang kita pakai.

PER Ideal Untuk Investasi

Lo Kheng Hong bilang ia selalu mencari saham yang rendah, dia bilang PER di bawah lima biasanya saham murah. Tapi berapakah PER ideal untuk investasi?

Menurut statistik, PER rata-rata saham sekitar 17x. Artinya PER di atas itu sudah terlalu mahal. Tapi kadang pasar saham berani membayar saham sektor tertentu atau perusahaan tertentu dengan PER yang lebih tinggi dari itu.

Menghindari Imajinasi atau Jebakan PER

Bisa diakui PER adalah penilaian paling sederhana dari sebuah saham. Investor membayangkan saham yang mempunyai PER rendah di bawah 8 (delapan) kali laba konon masih dijual murah. Apakah memang seperti itu? Berikut beberapa hal penting yang wajib dipahami investor agar kita bisa menghindari apa yang saya sebut tipuan/imajinasi PER:

  • Seiring pertumbuhan laba perusahaan, maka EPS akan naik, maka bila harga sahamnya stagnan atau di kisaran yang sama, misal kisaran harga saham berkutat di Rp500-550 padahal EPS sudah naik menjadi Rp100 dari Rp50, maka PER pun akan turun. Investor harus mencari perusahaan yang seperti ini.
  • Dalam jangka panjang, karena sifat pasar saham yang dipercayai adil, bila EPS naik maka harga sahamnya pun akan naik, sehingga PER pun terjaga. Konon investor mempunyai patokan PER tertentu untuk jenis saham di sektor tertentu, misal di sektor retail mereka berani menghargai hingga PER 30x sementara di sektor asuransi PER kebanyakan di bawah 7. Entah apa ini bisa dijadikan filosofi kita untuk berinvestasi, tergantung pandangan masing-masing investor.
  • Bila PER rendah (di bawah 8) tapi juga diikuti dengan pertumbuhan laba dan pertumbuhan aset serta ekuitas, maka kita bisa yakin PER perusahaan tersebut memang murah.
  • Karena EPS adalah faktor pembagi dari formula PER, ada suatu kemungkinan perusahaan yang memasak laporan keuangan (biasanya financial engineering atau cooking-up) dengan cara membuat pertumbuhan palsu, misalnya menjual aset, lalu kemudian memasukkan hasil penjualan tersebut dalam laporan rugi/laba, dan akhirnya….. jreng..jreng..jreng.. laba bersihnya naik pesat sehingga PER-nya turun. Investor yang tidak memperhatikan laporan keuangan secara detil akan tertipu. Padahal kalau dilihat dalam laporan neraca, aset atau ekuitasnya sudah turun karena banyak yang sudah dijual.
  • Selalu waspada dengan laporan keuangan perusahaan yang baru melakukan aksi korporasi yang berhubungan dengan komposisi saham, misalnya: right-issue atau penerbitan saham baru, saham bonus, pemecahan saham dan juga kebalikan dari pemecahan saham (reverse split). Berubahnya komposisi saham akan mengubah perhitungan EPS.

Kenapa ada perusahaan yang memanipulasi EPS? Tujuannya tak lain agar harga sahamnya naik karena pasar mempunyai harapan palsu dari EPS yang tinggi. Manipulasi tak langsung terhadap harga saham ini bisa saja berhubungan dengan jaminan ke pihak lain misalnya sahamnya digadaikan atau dijadikan jaminan, pembagian opsi bonus ke direksi agar ketika mencairkan sahamnya mereka mendapat nilai lebih banyak, dan banyak hal lainnya.

Untuk menghindari akal-akalan EPS, selalu cek catatan kaki dari asumsi laba bersih per saham yang diakui perusahaan. Saya biasanya menggunakan kalkulasi manual untuk menghindari hal ini (termasuk berubahnya komposisi saham). Saya akan catat saham beredar lalu membagi sendiri laba dengan jumlah saham tersebut. Angka EPS inilah yang akan saya pakai, bukan EPS dari laporan keuangan.

Tips terakhir, karena sifat EPS adalah perhitungan dari laba, bila kita menggunakan asumsi laba yang salah maka EPS kita pun bisa salah dan rasio PER kita tidak berguna. Maka kuncinya gunakan laba yang paling konservatif. Apa maksudnya? Kadangkala ada laporan laba yang bermacam-macam. Bila Anda bisa memahaminya, gunakan yang paling rasional. Bila Anda tidak paham, gunakan laba yang paling rendah. Itulah harga yang patut kita bayar untuk perusahaa yang membingungkan.

PER Rendah = Saham Murahan?

Ada yang bilang bila PER di bawah 8 tapi di atas 5 maka itu masih masuk akal. Tapi kalau sudah di bawah lima bahwa di kisaran 1-3 kali, lalu banyak yang bilang ini pasti saham murahan. Mereka bilang kenapa saham dijual murah sekali? Mereka berdalih ini pasti perusahaan yang sangat tidak berkualitas sehingga pasar tidak menghargainya sama sekali. Lucu kan?

Untuk menjawabnya cukup mudah, kembalikan ke EPS-nya. Bila laba bersih atau EPS meningkat setiap tahun, maka otomatis PER akan makin rendah. Bila harga saham tidak berubah, maka PER pasti akan turun dan bisa jadi menyentuh kisaran 2. Meski demikian kita harus selalu lihat aset, bila laba naik tapi aset dan ekuitas cenderung stagnan (atau turun!), itu saatnya waspada. Bila kita temukan saham dengan PER sangat rendah, aset bertambah, ekuitas meningkat di atas 100% (lebih tentu lebih dahsyat) selama lima tahun terakhir, sementara liabilitas aman, itulah kesempatan emas investor mendapatkan keuntungan berlipat karena mendapat saham yang sedang dihargai murah oleh pasar.

PER terbukti sebagai valuasi paling sederhana yang bisa digunakan investor untuk menilai apakah saham dijual murah atau mahal.

Referensi: P/E Ratio di Wikipedia

5 komentar di “Mengenal Price-Earnings Ratio atau PER

  1. Saya ingin menanyakan statement bapak tentang Jebakan PER dimana statement bapak menyatakan “Karena EPS adalah faktor pembagi dari formula PER, ada suatu kemungkinan perusahaan yang memasak laporan keuangan (biasanya financial engineering atau cooking-up) dengan cara membuat pertumbuhan palsu, misalnya menjual aset, lalu kemudian memasukkan hasil penjualan tersebut dalam laporan rugi/laba, dan akhirnya….. jreng..jreng..jreng.. laba bersihnya naik pesat sehingga PER-nya turun. Investor yang tidak memperhatikan laporan keuangan secara detil akan tertipu. Padahal kalau dilihat dalam laporan neraca, aset atau ekuitasnya sudah turun karena banyak yang sudah dijual”. Pertanyaan saya, apakah dengan cara menambahkan PBV dalam mengiringi analisa PER ini bisa menghindarkan kita dari jabakan tersebut? Yang seperti diketahui bahwa Benjamin Graham memiliki resep unik sendiri dalam pemilihan saham dimana turut menyertakan PBV dalam pengambilan keputusan stock picking (PER x PBV =< 22)

  2. malam pak, saya mau tanya pak, dimisalkan saya ingin tau PER thn 2010, nah harga pasar saham yang dipakai dalam perhitungan PER adalah harga saham di akhir tahun 2010 atau harga pasar saham yang di thn 2011 nya? mohon penjelasannya pak, terimakasih…

    1. Jika tujuannya untuk membandingkan PER tahun satu ke tahun lainnya, tentu harga pada tahun-tahun tersebut yang dibandingkan. Harga dibagi EPS pada tahun 2010 dibanding Harga dibagi EPS pada tahun 2011.

  3. ketika laba naik tapi ekuitas atau aset stagnan. bukannya DPR tinggi dan keuntungan bagi para pemegang saham untuk mendapatkan total return yang tinggi (Dividen+capital gain)? mengapa harus waspada?
    mohon pencerahannya..

    1. Di pernyataan itu tidak ada kata dividen, jadi tetap benar. Laba naik, tapi ekuitas stagnan, ke mana perginya laba?

      Tapi seandainya bagi dividen, bila porsi dividen terlalu besar, bisa mengganggu potensi pertumbuhan perusahaan. Seandainya membagi dividen dan porsinya kecil dari laba, misal 10-15% laba, lalu ekuitas stagnan, hal ini tetap haris waspada.

Komentar ditutup.