Posted on

Memahami Pemecahan dan Penggabungan Saham

Mari memahami aksi korporasi bernama stock split dan reverse stock.

Stock Split atau Pemecahan Saham

Arti atau Definisi Stock Split

Stock split adalah aksi korporasi sebuah perusahaan yang memutuskan memecah satuan sahamnya menjadi ukuran nominal lebih kecil dalam rasio tertentu, sehingga jumlah lembar saham beredar lebih banyak.

Karena konteks kita adalah perusahaan terbuka (publik) maka kita akan batasi kegiatan pemecahan saham ini untuk perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setiap perusahaan yang akan memecah sahamnya harus mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Setelah itu rencana kegiatan stock split harus diajukan ke regulator bursa, dalam hal ini BEI. Setelah disetujui oleh regulator dan mendapat persetujuan tanggalnya, kemudian detail kegiatan pemecahan saham diumumkan di media massa jauh hari sebelum tanggal pelaksanaan. Pengumuman harus memuat batas akhir saham dengan nominal lama dan batas awal tanggal saham berlaku dengan nominal baru.

Ilustrasi Kegiatan Stock Split

Katakanlah sebuah perusahaan terbuka mempunyai komposisi saham dengan nominal Rp100 per lembar seperti ini:

  • 700.000.000 (700 juta) lembar dimiliki oleh pemilik utamanya
  • 300.000.000 (300 juta) lembar dimiliki oleh masyarakat atau publik

Total saham atau modal disetor adalah 1 milyar lembar saham, dengan nominal tersebut artinya modal disetor tercatat senilai Rp100 miliar rupiah.

Seandainya perusahaan ini mengumumkan akan memecah sahamnya sebanyak 1:10, atau setiap satu lembar saham dipecah menjadi 10 lembar saham, bagaimana kondisi setelah kegiatan aksi korporasi ini?

Setelah stock split, komposisi saham perusahaan itu akan seperti ini:

  • Komposisi sahamnya akan berubah menjadi:
    • 7.000.000.000 (7 miliar) lembar dimiliki oleh pemilik utamanya
    • 3.000.000.000 (3 miliar) lembar dimiliki oleh masyarakat atau publik
  • Total modal saham disetor akan jadi 10 miliar lembar saham (1 x 10) dengan modal tercatat tetap Rp100 miliar rupiah, nominal saham menjadi Rp10 per lembar

Bagaimana dengan perdagangan sahamnya di bursa? Tentu saja harga sahamnya ikut berubah.

Efek Pemecahan Saham Bagi Investor

Sebuah saham dengan nominal Rp100 per lembar di bursa bisa dijual senilai Rp2.000 per lembar (20 kali lipat). Harga saham memang bisa diapresiasi oleh pasar beberapa kali lipat dari harga nominalnya, bisa 2 kali lipat, 20 kali, bahkan bisa ribuan kali lipat. Konteksnya adalah jika perusahaan tumbuh semakin besar, maka ia dianggap akan lebih bernilai oleh investor.

Sebagai ilustrasi ada kegiatan pemecahan saham yang dilaksanakan pada 22 Juni 2018 dengan nominal dan harga pasar seperti di atas. Maka situasi di bursa akan seperti ini:

  • Pada 21 Juni 2018, seorang investor punya 1.000 lembar saham ini. Saham yang diperdagangkan masih nominal lama seharga Rp2.000 per lembar.
  • Pada 22 Juni 2018, saham tersebut di bursa sudah berubah nilainya menjadi Rp200 per lembar. Investor tersebut akhirnya mempunyai 10.000 lembar saham.

Setelah kegiatan pemecahan, saham akan naik atau turun sesuai mekanisme pasar biasa. Saham dalam contoh di atas bisa naik menjadi Rp230 atau turun menjadi Rp190, dst. Saat kondisi ekstrem, jika saham turun hingga harga Rp100, maka level penurunan kekayaan investor tentu bakal jauh lebih besar (sudah dipecah 10 kali lipat!). Namun, jika pasar naik, maka kenaikannya bisa berkali lipat.

Sebagai contoh nyata tengoklah saham PT Unilever Tbk, nilai nominal sahamnya saat ini adalah Rp10 per lembar, sementara itu saham UNVR di pasar seharga Rp44.200 per lembar (22 Juni 2018) atau 4.420 kali lipat nominalnya. Anda bisa menengok sejarah pencatatan saham UNVR yang pernah mengalami pemecahan saham dua kali pada 2000 dan 2003 lalu.


Stock Reverse atau Penggabungan Saham

Ada lagi aksi korporasi yang merupakan kebalikan dari pemecahan saham. Namanya reverse stock. Istilah Indonesianya disebut penggabungan saham.

Arti atau Definisi Reverse Stock

Reverse stock adalah aksi korporasi sebuah perusahaan yang memutuskan menggabung beberapa sahamnya menjadi ukuran nomimal lebih besar dalam rasio tertentu sehingga jumlah lembar saham beredar setelahnya lebih sedikit.

Setiap perusahaan yang akan menggabungkan saham juga harus melewati persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Setelah itu rencana kegiatan reverse stock harus diajukan ke regulator bursa. Setelah disetujui oleh regulator dan mendapat persetujuan tanggalnya, kemudian detail kegiatan penggabungan saham diumumkan di media massa jauh hari sebelum tanggal pelaksanaannya. Pengumuman harus meliputi batas akhir saham dengan nominal lama dan batas awal tanggal saham berlaku dengan nominal baru yang lebih besar.

Efek Penggabungan Saham Bagi Investor

Sebagai contoh kita akan pakai ilustrasi perusahaan yang sudah memecahkan sahamnya di atas, yaitu modal tercatat Rp100 miliar rupiah dengan nominal saham Rp10 per lembar.

Katakanlah saham awal dengan nominal Rp10 per lembar itu di pasar dijual senilai Rp200 per lembar. Kegiatan penggambungan saham 10:1 dilaksanakan pada 22 Juni 2018. Maka situasi saham akan seperti ini:

  • Pada 21 Juni 2018, seorang investor punya 10.000 lembar saham. Saham yang diperdagangkan masih nominal lama Rp200 per lembar.
  • Pada 22 Juni 2018, pagi itu sahamnya di bursa sudah berubah nilainya menjadi Rp2.000 per lembar. Investor tersebut akhirnya mempunyai 1.000 lembar saham.

Studi Kasus Kegiatan Stock Split dan Reverse Stock

Contoh riil perusahaan yang baru melakukan reverse stock adalah PT Bakrie & Brothers Tbk dengan kode saham BNBR (dikenal Grup Bakrie). Mereka baru saja menggabung sahamnya pada 6 Juni 2018. Pengumumannya bisa ditengok di dokumen ini, dalam dokumen itu bisa diketahui tanggal-tanggal penting kegiatan aksi korporasi tersebut, termasuk harga pembelian Odd Lot atau saham-saham jumlah ganjil. Saham ganjil terjadi jika ada situasi investor mempunyai saham dalam pecahan. Solusinya investor bisa melego saham-saham itu dengan harga yang ditentukan.

Di luar topik, skema struktur saham BNBR yang rumit dengan empat kelas (A, B, C, dan D) bakal membuat bingung investor awam. Perbedaan kelas adalah perbedaan hak veto dalam RUPS. Kalau dalam sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada golongan yang mempunyai hak veto, Amerika Serikat bisa membatalkan segala macam keputusan sidang. Di dunia saham ada juga seperti itu. Investor publik biasanya hanya memiliki hak untuk mengikuti dan taat hasil RUPS, selain kelas saham paling rendah, mayoritas jumlah saham investor publik biasanya lebih sedikit dibanding investor pemilik perusahaan.

Sebelum reverse stock, saham BNBR dijual seharga gocapan alias Rp50 per lembar. Saat ini ada aturan batas bawah harga saham di BEI adalah Rp50. Mau sepanik apa pun investor dengan kinerja perusahaan mereka tak akan bisa menjual harga saham di bawah itu. Batas harga bawah ini sebenarnya melindungi nilai saham BNBR pra reverse stock. Pasar tak bisa menghukum saham itu lebih rendah lagi. Setelah reverse stock 10:1, saham yang semula Rp50 seharusnya dijual seharga Rp500, namun pasar menghargainya lain seharga Rp376 (31 Mei 2018). Hingga akhirnya saham BNBR dijual seharga Rp70 (20 Juni 2018) sebelum kemudian disuspensi perdagangannya.

Kondisi Pasca Stock Split BNBR 31 Mei 2018
Kondisi Pasca Reverse Stock saham BNBR 31 Mei 2018 (Diambil dari IDX per 22 Juni 2018)

Kemudian yang jadi kontroversi adalah, BNBR sebelumnya pernah melakukan pemecahan saham dan juga penggabungan sahamnya, bahkan berkali-kali. Stock split terakhir pada 7 Agustus 1995. Sedangkan penggabungan saham (reverse stock) sebelumnya terjadi pada 17 Maret 2005 dan 6 Maret 2008. Belum lagi beberapa kali aksi korporasi 7x right issue yang menyerap modal dan mengurangi hak kepemilikan saham investor. (Sumber: Laporan Tahunan 2017)

Kontroversi ini tidak berhenti, anak usaha BNBR yaitu PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dilaporkan akan melakukan aksi korporasi serupa, yaitu menggabungkan sahamnya setelah sebelumnya memperoleh pendanaan berulangkali lewat aksi korporasi penawaran umum terbatas (PUT atau right issue). Upaya ini mendapat tentangan sebagian investor ELTY. Kita tahu saat ini saham ELTY juga senilai gocapan.

Apa Manfaat Stock Split dan Reverse Stock Bagi Investor?

Tidak ada.

Jika ada orang lain yang menyatakan manfaatnya: apakah dalam stock split jumlah lembar saham akan mempermudah jual beli saham karena saham beredar lebih banyak, atau dalam hal reverse stock akan membuat saham lebih besar nilainya sehingga dianggap lebih bergengsi—semua itu asumsi mereka saja.

Manfaat riil bagi investor tidak ada. Malah sebenarnya nilai investor berkurang karena kegiatan ini menambah biaya perusahaan dalam kerumitan pencatatan saham dan administrasinya.

Warren Buffett pernah menulis panjang lebar tentang kenapa ia tidak memecah saham Berkshire Hathaway menjadi lebih kecil? Dalam anggapan, aksi ini lebih pro pemegang saham, mungkin yang dimaksud lebih terjangkau oleh investor publik. (Saham Berkshire dijual seharga $286,541 per 22 Juni 2018). Buffett bilang tujuannya adalah mengurangi sesedikit mungkin upaya transfer kepemilikan karena setiap 1% biaya adalah nilai yang mengurangi perolehan investor dalam jangka panjang. (Silakan pelajari Stock Splits and Stock Activity di Laporan Tahunan Berkshire Hathaway Tahun 1983).

Hikmah Apa yang Bisa Diambil?

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dalam hal perusahaan terbuka, sejarah aksi korporasi memberi kilas yang jelas tentang perilaku manajemen. Stock split sendiri, di luar idealisme memiliki perusahaan semaksimal mungkin, adalah hal normal yang kita jumpai.

Selain perusahaan grup Bakrie, ada satu perusahaan lain yang saya ketahui pernah melakukan aksi korporasi setelah menambah saham melalui penambahan modal lalu membaliknya beberapa kali, yaitu SIPD. Apakah Anda tahu ada perusahaan lainnya? Apa yang dicari perusahaan seperti itu? Pelajaran apa yang bisa diambil oleh investor konservatif seandainya menjumpai aksi korporasi perusahaan yang demikian?

Saya kira singkat saja, lupakan.

Waktu investor konservatif sangat berharga. Meriset satu perusahaan saja perlu ratusan jam. Abaikan perusahaan yang sepertinya tidak menghargai investor publik. Gunakan waktu Anda untuk hal yang lebih bermanfaat. Masih banyak perusahaan lain yang lebih sederhana, mudah dipahami, dan ternyata menghasilkan kinerja bagus, bahkan sangat bagus. Konon, yang makin mudah dipahami itulah yang baik.


Diedit oleh YW. Penyebutan nama saham bukan rekomendasi investasi. Anda tunduk pada Disclaimer.