Harga Wajar Saham Metode Arus Kas Terdiskon Sederhana

Terbit 12 Komentar

Setelah valuasi harga wajar saham model Graham dan rasio PEG, kali ini kita bahas model valuasi terakhir dan populer digunakan, yaitu valuasi harga wajar saham dengan metode Discounted Cash Flow yang dikenalkan oleh Jonn Burr Williams. Konsep dan teori DCF sudah pernah diulas sebelumnya.

Model valuasi ini menghitung nilai perusahaan, proyek, atau investasi berdasarkan arus kas yang dihasilkan, untuk beberapa tahun proyeksi ke depan, lalu mendiskonnya ke harga sekarang. Ada berbagai penerapan valuasi ini, biasanya terkait lama proyeksi dan parameter yang digunakan. Lama proyeksi umumnya menggunakan waktu 10 tahunan dan 5 tahunan. Parameter biasanya berhubungan dengan suku bunga diskon, karena pilihannya banyak: WACC, suku bunga obligasi, dst. Saya cenderung memilih parameter yang lebih besar, agar (lagi-lagi) konservatif karena sifatnya pendiskon atau pembagi.

Konsep Sederhana

Sering kita membaca analisa emiten dari penilai atau analis di sekuritas. Dalam analis tersebut,  ada valuasi harga wajar saham yang menggunakan cara yang agak rumit dengan variabel yang susah didapat oleh investor awam, misalnya pertumbuhan relatif industri, proyeksi harga dan komponen bahan baku, dan banyak lagi variabel atau asumsi lainnya sebagai elemen hitungan proyeksi mereka. Kita pilih cara yang sederhana.

Untuk implementasinya saya pakai cara sederhana yang diajarkan Charles S. Mizrahi di buku Getting Started in Value Investing.

Pilihan untuk cara sederhana ini misalnya, proyeksi hanya 5 tahun, lalu tidak memakai proyeksi macam-macam dalam arus kas seperti proyeksi beban perusahaan, proyeksi investasi, dan mungkin proyeksi lainnya. Kita akan berurusan dengan laba saja. Laba adalah akhir cerita dari semuanya, jadi sederhana dan cukup akurat. Agar aman, perusahaan yang diukur harus mempunyai pertumbuhan yang stabil, bukan fluktuatif. Meski sederhana, kita bisa berargumen cara kompleks pun bisa mengundang kekeliruan ketika berbagai proyeksi (inflasi lebih tinggi, beban naik, pendapatan turun, dst) yang diasumsikan tidak bekerja. Maka lebih baik pakai cara yang paling sederhana tapi tetap menjaga semangat konservativisme.

Konsep sederhana valuasi ini bukan menghitung berdasarkan arus kas bebas perusahaan, dus menghitung proyeksi pendapatan, proyeksi beban, proyeksi inflasi yang mempengaruhi beban dari komoditas yang dibayar, dst (biasanya disebut Future Cash Flow to Equity Model)—tapi kita akan menghitung arus kas yang diharapkan investor. Saya kira boleh saja kita sebuah sebagai DCF pula, uraian singkatnya demikian:

  • Kita cari proyeksi laba perusahaan selama lima tahun ke depan dengan ekspektasi pertumbuhan yang konservatif.
  • Dari total proyeksi laba tersebut, bila perusahaan membagikan dividen, maka kita bisa cari tambahan arus kas (pendapatan) yang didapat investor
  • Dari total dividen dan laba itulah nilai perusahaan pada lima tahun mendatang
  • Nilai perusahaan lima tahun tersebut bisa kita diskon ke nilai di masa sekarang

Sederhana bukan? Memang sederhana. Setelah ini kita coba uraian lengkapnya.

Cara Sederhana Valuasi Harga Wajar Saham

Data yang Diperlukan

Beberapa data ini diperlukan sebelum kita melakukan valuasi:

  • Laba per lembar saham (atau EPS)
  • Dividen per lembar saham
  • Ekspektasi pertumbuhan jangka panjang, bisa diambil dari rata-rata pertumbuhan lima tahun
  • Harga saham sekarang
  • Tingkat diskon yang kita inginkan

Kita akan coba hitung valuasi harga wajar saham XYZA dengan data berikut:

  • EPS Rp50
  • Dividen per lembar saham Rp10
  • Rata-rata pertumbuhan lebih dari 20%
  • Harga saham Rp450
  • Tingkat diskon yang kita inginkan 20%. Disebutkan bahwa Buffett biasanya menggunakan tingkat diskon 15%. Parahita menggunakan parameter 18,61%, tapi bila asumsi deposito dimutakhirkan jadi sekitar 4-5% (dia pakai 8%), maka hasil akhir sekarang jadi 15%-an juga. Karena kita ingin konservatif, kita pakai 20% saja, sesuai risiko Indonesia. Darimana angka ini berasal? Tingkat diskon ini sifatnya subyektif, Anda bisa pakai angka berapa saja. Tapi bila ingin konservatif, gunakan angka di atas 15%. Angka 20% digunakan sebagai contoh.

Asumsi: Batas Proyeksi yang Kita Inginkan

Sebelum mulai menghitung, tahap awal untuk menentukan berapa harga wajar saham yang kita inginkan adalah menentukan proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) selama lima tahun ke depan dan proyeksi PER-nya.

Aturan sederhana untuk pertumbuhan EPS:

  • Bila pertumbuhan EPS perusahaan lebih dari 15%, kita pakai 15% sebagai proyeksi.
  • Bila pertumbuhan EPS kurang dari 15%, kita gunakan pertumbuhan 10% sebagai proyeksi.

Kenapa 15%? Kenapa 10%? Itu adalah batas pertumbuhan wajar yang diterima, sebagaimana dicontohkan Mizrahi, untuk perusahaan tumbuh pesat dan pertumbuhan rendah. Pembatasan ini adalah semacam jaring pengaman agar valuasi kita tidak terlalu optimistis bila menggunakan pertumbuhan asli, misalnya ada perusahaan yang tumbuh 30%.

Perusahaan XYZA punya pertumbuhan jangka panjang 20%, maka kita pakai pertumbuhan 15% saja.

Untuk Proyeksi PER di Akhir Tahun ke-5:

  • Bila PER di atas 20, kita gunakan 17
  • Bila PER 20 ke bawah, kita gunakan PER 12

Rasio P/E (PER) saham di pasar secara historis rata-rata berada di 17. Hanya sedikit perusahaan yang bisa mencapai PER di atas 17. Dengan asumsi ini, kita sebenarnya ingin membayar perusahaan hingga batas 12 kali laba saja atau 17 kali untuk perusahaan yang lebih populer.

Perusahaan XYZA punya PER = 450 ÷ 50 = 9, maka proyeksi PER yang kita inginkan adalah 12 kali.

Tahap 1: Total laba per saham selama lima tahun berdasarkan pertumbuhan 15 persen

Proyeksi 15% Proyeksi EPS
di Akhir Tahun
EPS di Tahun 1 50 × 15% 57,5
EPS di Tahun 2 57,5 × 15% 66,13
EPS di Tahun 3 66,13 × 15% 76,04
EPS di Tahun 4 76,04 × 15% 87,45
EPS di Tahun 5 87,45 × 15% 100,57
TOTAL EPS 5 Tahun 387,69

Tahap 2: Proyeksikan Harga Saham di Tahun ke-5 dari Proyeksi PER dari EPS

Dengan asumsi pertumbuhan laba 15% per tahun, kita dapat EPS saham XYZA di tahun ke-5 adalah 100,57. Proyeksi PER yang kita pakai adalah 12 kali. Maka kita bisa dapat harga saham XYZA di tahun ke lima adalah:

  • Harga Saham Tahun ke-5: 100,57 × 12 = 1.206,81

Tahap 3: Menghitung Pendapatan dari Dividen

Kita tahu XYZA membagikan dividen, maka kita harus pertimbangkan pula arus kas yang kita dapat. Sebaiknya mencari rerata rasio pembagian dividen (dividend payout ratio), bukan dari rasio tahun terakhir saja. Bila tidak ada data demikian, bisa pula pakai rasio tahun terakhir tapi diperkecil agar konservatif.

  • Rasio pembagian dari laba: Dividen ÷ EPS = 10  ÷ 50 = 20%
  • Total proyeksi EPS selama lima tahun adalah 387,69. Maka proyeksi pendapatan dividen adalah: 20% dari total laba ini = 20% × 387,69 = 77,54

Bila ada perusahaan yang tidak membagikan dividen atau dividennya sangat kecil, angka ini bisa dibuat nol saja.

Tahap 4: Mencari Total Harga Saham

Kemudian jumlahkan harga saham di tahun ke-5 dengan pendapatan dari dividen (hasil dari Tahap 2 dan Tahap 3). Inilah nilai proyeksi saham yang bisa kita dapatkan di akhir tahun ke-5.

  • Total Harga Saham: 1.206,81 + 77,54 = 1.284,35

Tahap 5: Mendiskon Harga Saham ke Nilai Sekarang

Tahap terakhir adalah mendiskon (membagi) total harga saham di tahun ke-5 sehingga bisa kita dapat nilainya saat ini. Tingkat diskon yang kita inginkan adalah 20%, maka kita bisa membagi tahun per tahun dengan 120% (hasil dari 100% + 20%). Rincian hitungannya seperti di bawah:

Diskon 20% Harga Wajar
Saham Tahun Tsb.
Harga Wajar Saham Tahun 5 1.284,35 ÷ 120% 1.070,29
Harga Wajar Saham Tahun 4 1.070,29 ÷ 120% 891,91
Harga Wajar Saham Tahun 3 891,91 ÷ 120% 743,26
Harga Wajar Saham Tahun 2 743,26 ÷ 120% 619,38
Harga Wajar Saham Tahun 1 619,38 ÷ 120% 516,15

Jadi harga wajar saham tersebut adalah Rp516,15.

Bila kita menginginkan bisa mencapai tingkat pengembali dari investasi dengan diskon tertentu, berikut batas harga yang bisa kita bayar:

  • Pengembalian 15%: 516 ÷ 115% = 448,83
  • Pengembalian 30%: 516 ÷ 130% = 397,04
  • Pengembalian 50%: 516 ÷ 150% = 344,1

Dengan harga saat ini Rp450 per lembar saham, maka kita cuma patut berharap pengembalian investasi sekitar 15% saja.

Pada tulisan berikutnya saya akan memberi unsur asumsi pesimisme dan optimisme dalam valuasi sehingga bisa membuat kita berhati-hati tanpa melupakan peluang sesungguhnya dari perusahaan. Selain itu saya akan letakkan semua valuasi dari Graham, PEG, dan Arus Kas Terdiskon sederhana dalam satu lembar kerja sehingga bisa mempermudah kita menilai harga wajar saham dari perusahaan.

12 komentar di “Harga Wajar Saham Metode Arus Kas Terdiskon Sederhana

  1. Mantaaaap!

  2. saya pernah membaca cara valuasi suatu bisnis dengan menggunakan arus kas terdiskon, saya membacanya dalam buku “warren buffett way”, tapi warren tidak menggunakan EPS atau laba dan juga arus kas. Tapi warren menggunakan yang disebutnya sebagai owner earnings (laba pemilik) yaitu laba bersih + depresiasi + amortisasi + beban non tunai lainnya – capital expenditure. Hasil valuasi ini lebih “mahal” daripada valuasi metode benjamin graham. Tapi ini adalah hasil valuasi untuk mendapatkan harga wajar suatu perusahaan. Mungkin karena itu lah Warren mau membeli bisnis dengan harga kadang2 di atas 15 x laba atau di atas 1,5 nilai buku. Mohon koreksinya ya pak kalau ada komentar saya ini yang salah.

    1. Betuk sekali pak. Banyak metode yang bisa dipakai untuk menjustifikasi nilai harga wajar saham. Pilihannya subyektif, tergantung investor.

      Metode ini sebenarnya arus kas diskon yang diterima investor, bukan arus kas yang terjadi di perusahaan 🙂 Tapi, meski sederhana, seperti sudah saya tulis di atas, metode ini cukup valid dan mantap. Valuasinya juga lebih mahal dari metode Graham kok pak.

  3. mantap lesson nya…udah keluar belum ya tulisannya : metode valuasi gabungannya pak hehe (Graham, PEG, dan Arus Kas Terdiskon sederhana ) ? sy cari di blog bapak belum ada..

  4. Saya pernah mencoba menghitung SMGR dengan metode Mizrahi dengan sedikit penyesuaian, yaitu RISK PREMIUM 1.1513 dan tidak memasukkan dividen ke dalam perhitungan, dengan niat untuk merendahkan hasil akhir, nilai wajar. Saya mendapatkan nilai wajar 13,800an untuk SMGR.

    Saat ini SMGR diperdagangkan pada harga wajar 13,800 bahkan terdiskon atau lebih rendah.

    Pertanyaan saya, apakah Bung Bola Salju tidak tertarik berinvestasi pada saham-saham yang punya nama? Apakah, ada alasan tertentu? Saya berharap bisa mendapat pelajaran dari balasan Bung.

    1. SMGR tentu menarik. Bahkan saya pernah investasi di harga 8000-an, pada 2011-an lalu, tapi terlalu buru2 melepaskannya. Kesalahan tentu saja. Tapi, setelah satu dua tahun, mungkin bisa dikatakan inilah gaya investasi saya. Gaya investasi Anda berbeda silakan, tidak masalah kan asal ada landasan investasi yang kokoh 🙂

    2. Saya baru bisa menjawab sekarang. Mumpung ada waktu.

      Berinvestasi di saham punya nama, atau keping-biru, bisa akan sangat menguntungkan kalau saham-saham tersebut terdiskon banyak, misal saat penurunan saham secara keseluruhan.

      Meski begitu, secara umum, statistik rerata perolehan saham-saham keping-biru vs saham lapis kedua atau kapitalisasi kecil, lebih besar saham lapis kedua. Itulah mungkin alasan saya selama ini.

  5. Selamat malam, saya baru belajar investasi saham. setelah saya coba menghitung dengan metode di atas saya dapatkan harga wajar BBRI saat ini Rp 10590.96 saat ini BBRI berada pada harga Rp 7000. Sedangkan ADRO harga wajar Rp 1196.14 saat ini ADRO berada pada harga Rp 1160. Apa perhitungan saya tersebut sudah “wajar”? dan apa ada informasi website yang menyajikan harga wajar saham-saham? terima kasih

    1. Nilai wajar hasil hitungan saya dan Anda bisa berbeda. Begitu pula hitungan analis satu dengan lainnya. Bagi investor, yang penting di sini adalah prosesnya itu sendiri. Apakah investor itu sudah yakin dengan angka-angka yang dilihat dan diyakininya belum? 🙂

  6. saya juga sedang menggunakan metode ini untuk skripsi saya. tapi masalah mentok di pertanyaan pembimbing saya. pertanyaannya gni “kenapa harus proyeksi 5tahun?” “lalu kemana tahun sebelumnya sebelm diproyeksi? ex: saya menghitung NI 2014, sedangkan data 2008-2012. “kenapa PER pake rata2? dan deviden diproyeksikan?”

    mohon bimbingannya pak.. tlg di email yah ke estykartikarini@yahoo.co.id

    1. Waduh, kalau masalah sidang tolong didiskusikan dengan pembimbingnya. Tulisan ini mendiskusikan metode pencarian dalam lingkup teori yang diangkat oleh Mizrahi di bukunya. Pencarian arus kas terdiskon tentu ada cara dan metode lainnya. Mohon maaf kalau tidak bisa membantu.

    2. Mohon maaf kalau sebelumnya saya tidak membahas dengan lebih detil. Saya jawab sekarang barangkali berguna buat pembaca lainnya.

      Kenapa proyeksi 5 tahun? Seperti dalam tulisan, ini adalah analisa sederhana. Bila mau dibuat proyeksi 10 tahun juga bisa. Tapi proyeksi adalah proyeksi, bila proyeksi terbukti benar, kalkulasinya akan cocok. Bila proyeksi sebuah perusahaan tumbuh 10%, kemudian perusahaan meleset hanya tumbuh 8%, maka proyeksi lebih panjang akan membuat kesalahan kalkulasinya lebih fatal. Itulah 5 tahun juga cukup berguna.

      PER kenapa rata-rata, kalau pakai tahun terakhir, bisa jadi angkanya jauh lebih besar atau lebih kecil dari rata-rata, maka kalkulasinya tidak akan bermanfaat. Ingat, kita mencari harga wajar dalam jangka panjang. Maka harus rata-rata jangka panjang atau bisa juga pakai CAGR.

      Kenapa dividen diproyeksikan juga dalam kalkulasi? Agar kita memperoleh nilai utuh harga wajar saham. Bisa saja dividen tidak disertakan, dan ini akan menghasilkan kalkulasi harga wajar yang lebih rendah. (Seperti ditulis oleh komentar lainnya). Itu juga bisa diterima bila ingin konservatif hasilnya.

Komentar ditutup.