Apa Value Investor Pernah Salah? Credit photo: gratisography

Apa Value Investor Pernah Salah?

Terbit

Mungkin Anda pernah berpikir seperti itu. Pendiri Stockbit, Welson Lo, melempar isu ini menjadi diskusi di sana. Saya juga ingin mengulas ini di sini. Apakah value investor pernah salah?

Seorang Value Investor Dianggap Sering Benar

Value investor yang terkemuka banyak sekali. Dari Amerika kita kenal Warren Buffett, Charlie Munger, dan kita bisa anggap Peter Lynch juga. Generasi muda murid-murid mereka juga banyak. Di Indonesia pak Lo Kheng Hong dikenal menganut paham ini. Murid-murid yang terinspirasi dengannya saya duga juga banyak.

Yang unik dari banyak value investor itu adalah mereka tidak malu berbagi kisah kinerja investasinya. Kisahnya tentu bukan pamer jumlah dana, dengan pengecualian Buffett yang menjadi buku terbuka inspirasi semua orang. Biasanya hanya persentase perolehan investasi. Kita tahu jumlah dana itu relatif. Sementara mengukur kinerja perolehan adalah akan bisa dinggap adil dalam menilai banyak orang. Dari kinerja mereka kita bisa belajar apa yang mungkin bisa dianggap ternyata value investor banyak benarnya. Seakan-akan bisa bilang, “Tuh, kinerjanya bagus-bagus semua.”

Padahal, saya kira kinerja value investor juga bervariasi. Tergantung strategi dan gaya masing-masing. Juga keberuntungan dan kondisi mereka berbeda. Banyak yang bergaya kontrarian. Ada yang bergaya konsentrasi ala Munger. Ada yang bergaya miliki selamanya (hold forever) ala Buffett. Ada yang bergaya pegang minimalis ala Walter Schloss. Ada yang bergaya long-short seperti David Einhorn. Saya tak paham gaya Pak LKH karena saya belum pernah ketemu beliau. Seandainya ada kesempatan saya akan tanyakan. Yang saya pahami selama ini adalah LKH suka nilai murni sebagai titik awal investasinya. Mayoritas value investor memang berangkat dari nilai murni ala Graham. Perusahaan senilai 100 kok dijual 50. “Salah harga,” kata pak LKH. Di sisi lain, seperti keputusan LKH di BUMI, saya tak paham. Saya juga tak tahu apakah dia masih mengempit saham ini atau tidak. Dalam keputusan LKH di BUMI ada value investor yang tak sepakat, termasuk saya.

Oke, kembali ke topik. Sekarang, jika value investor dianggap sering benar, pertanyaannya: apakah value investor pernah salah?

Value Investor Pernah Salah?

Jawaban standar tentu saja: iya. Setiap value investor pasti pernah salah. Ragam, model, dan jumlah kesalahannya tentu beda-beda lagi.

Lalu, jika pernah salah, kenapa kinerja mereka masih bagus-bagus saja? Nanti akan saya ulas.

Saya kira jenis kesalahan dalam sebuah operasi investasi ada beberapa macam, di antaranya:

  1. Kesalahan analisa
  2. Kesalahan data
  3. Kesalahan variabel atau asumsi
  4. Kesalahan waktu keluar investasi
  5. Kesalahan karena faktor luar, seperti perubahan siklus bisnis

Apa yang dilakukan value investor jika melakukan kesalahan?

Kesalahan Analisa

Kesalahan ini bisa terjadi karena kesalahan personal. Ceroboh. Salah hitung. Kurang teliti. Dan seterusnya. Ya, namanya juga manusia.

Tapi, sejauh yang saya rasakan dan saya amati, rasanya value investor punya strategi lain untuk mengurangi kesalahan ini.

Umpama ada saham ABCD masuk pantauan. Terlihat murah. Value investor membeli saham tersebut dalam porsi sedikit dibanding portonya. Sekadar untuk memantau. Setelah itu ia menganalisa lebih dalam saham tersebut. Istilah keennya, analisa fundamental. Biasanya, setelah mantap dengan analisisnya, seorang value investor akan berani masuk dalam porsi lebih besar di sebuah saham. Itu skenario umumnya.

Bagaimana jika sudah analisa mendalam tapi salah? Ya, salah. Mau gimana lagi. Namun, karena alur kerja pembuatan keputusan investasi yang hati-hati, kesalahan seperti ini saya kira jarang terjadi. Seandainya pun ada, realisasi rugi pun tidak membuat besar kerugian yang parah. Ingat, besar porsi masuknya investasi biasanya tergantung keyakinan analisa, baik buruknya nilai saham tersebut.

Kesalahan Karena Data

Ini pernah saya alami pada awal dulu. Bahkan pernah terjadi berkali-kali. Namanya juga manusia. Sekarang pun kadang masih sering salah data. Maka benar, kunci value investor adalah akurasi data. Data dari sumber terpercaya selalu penting. Data yang berbunyi. Data yang bisa terkonfirmasi jujur dan layak pakai. Data yang bertanggungjawab.

Kesalahan Variabel atau Asumsi

Ini juga jenis kesalahan lain yang menyakitkan. Dalam model valuasi kita buat asumsi pertumbuhan modal kerja 10%. Setelah masuk, ternyata asumsi kita salah, seharunya modal kerja perusahaan 20% dari arus kas, karena ada faktor potensi kenaikan harga energi dan listrik di masa mendatang. Ini adalah kesalahan umum yang terjadi.

Kesalahan Waktu Keluar Investasi

Wah kok bisa salah waktu keluar? Maksudnya jual terlalu cepat? Ya.

Saya haqqul yakin tidak ada value investor yang merasa salah waktu masuk investasi saham. Jika sebuah saham sudah salah harga dan value investor yakin dengan fakta-fakta yang diyakininya, masuk saat itu, kapan pun, adalah keputusan yang tepat. Bagaimana jika sahamnya ternyata turun lagi? Tidak masalah, beli lagi, jika ada dana. Value investor harus selalu siap dengan dana kas saat mereka masuk ke saham tertentu. Seandainya tak ada dana lagi ya tak masalah. Bukan kesalahan.

Nah, yang dianggap salah ada keluar terlalu cepat. Setelah menjual investasi dengan keuntungan 30%, ternyata sahamnya masih naik lagi hingga 70% atau lebih. Manyun, dong? Ya, jika value investornya suka manyun, mungkin dia akan seperti itu.

Tapi jenis kesalahan ini saya kira juga macam kesalahan yang ringan. Saya kira value investor tidak akan terlalu menganggap ini kesalahan fatal. Keputusan investasi sudah dibuat. Ya sudah, terjadi. Apa pun yang terjadi harus selalu diterima. Dana bisa dialihkan ke saham lain yang masih dijual murah di pasar.

Maka ada kalanya jenis value investor yang memilih hold lebih lama untuk mengantisipasi faktor salah waktu keluar investasi ini. Adalah kenyataan saham mengikuti pertumbuhan perusahaannya. Jika bisnis berpotensi tumbuh seterusnya, dengan sedikit naik-turun, tentu saja sangat disayangkan keluar terlalu cepat, kan? Lebih baik mengikuti perusahaan itu seterusnya. Itulah landasan banyak value investor menjadi pemilik perusahaan lebih lama.

Kesalahan Karena Faktor Luar

Ini adalah jenis kesalahan yang paling gampang diantisipasi. Ya, lupakan saja. Faktor luar adalah kondisi yang tak mungkin bisa dinegosiasikan oleh siapa saja. Ini adalah jenis kesalahan yang rasionalisasinya gampang. Lupakan dan hindari.

Apa yang Dilakukan Value Investor Ketika Salah?

Keluar dari saham itu secepatnya. Jual semuanya. Sell all. Lalu lupakan.

Kalau sedang rugi bagaimana? Ya lupakan. Rugi adalah risiko yang mungkin terjadi, jika kita salah. Memangnya value investor tak pernah jual rugi? Pasti pernah. Apalagi rugi karena kesalahan. Itu adalah keputusan investasi yang wajib dilakukan, demi mengurangi potensi kerugian selanjutnya. Ingat, turunnya kinerja perusahaan di masa mendatang adalah potensi kerugian investasi karena sahamnya bisa diperkirakan akan turun.

Ibarat jalan lalu menginjak cat basah. Ya, mau gimana lagi, sepatu sudah basah tak bisa diralat lagi.

Sekarang, apakah Anda pernah melakukan kesalahan investasi? Ataukah Anda punya jenis kesalahan value investor lainnya yang ingin ditambahkan?


Kredit photo: gratisography