Resensi Buku The Intelligent Investor

Posted on 7 Komentar
The Intelligent Investor, oleh Benjamin Graham, terjemahan dari edisi 1973

Judul Buku: The Intelligent Investor: Kitab Suci Dalam Berinvestasi (edisi terjamahan dalam bahasa Indonesia)
Penulis: Benjamin Graham (Ben Graham)
Penerbit: Serambi, Cetakan III Februari 2008
Tebal: Hardcover 747 halaman (termasuk indeks)

  • Buku edisi bahasa Inggris bisa dibeli di BookDepository (bebas ongkos kirim ke Indonesia)
  • Buku terjemahan Indonesia edisi terbaru diterbitkan oleh penerbit PIJAR NALAR

Buku pertama dalam rubrik resensi ini adalah buku yang paling penting dalam sejarah kehidupan berinvestasi saya. Saya kira buku ini juga penting bagi banyak orang yang terjun dalam dunia investasi.

Resensi buku ini juga bisa didengarkan dari 20 episode pertama podcast Investor Cerdas di Spotify, Apple Podcasts, dan Google Podcasts.

Resensi Buku Intelligent Investor

Saya tidak sengaja menemukan buku ini di toko buku Gramedia. Saat itu 15 Agustus 2007, saya iseng ke Gramedia Matraman di daerah Salemba, Jakarta Pusat. Saya sedang mencari buku investasi. Saya merasa sudah cukup banyak membaca buku tentang perencanaan keuangan. Saya ingin membaca buku investasi. Sebuah buku yang benar-benar bisa mencerahkan tentang rencana investasi.

Setelah berkeliling di rak buku bisnis dan keuangan, saya menjumpai buku-buku investasi, yang kebanyakan berjudul seperti “cara cepat mencari uang”, “langkah menjadi kaya”, atau judul-judul semacam itu. Saya tidak suka membaca buku yang berjudul mirip seperti itu (pesan pada penerbit: kenapa sih membuat judul yang tidak pede seperti itu). Saya menghindari buku-buku seperti itu.

Saya lihat ada beberapa buku biografi tokoh keuangan Warren Buffett dan George Soros. Saya saat itu belum mengenal Warren Buffett seperti saat ini. Saya ingin mempelajari Buffett tapi saya kira buku-buku berbahasa Indonesia kurang menarik. Ada sebuah buku bio Bufett dalam bentuk komik, saya sudah membaca tuntas di Gramedia itu. Saya tahu Soros, meskipun sedikit. Namun saya tidak tertarik dengan metode investasi Soros, yang lebih banyak model spekulan, saya merasa tidak bisa dipakai oleh seorang kepala keluarga dengan modal sedikit seperti saya. Saya ingin metode investasi yang cocok buat orang biasa.

Setelah capek dan kaki gempor, saya menemukan buku tebal bersampul biru ini. Sepintas judulnya menarik. Tapi sub judulnya membuat saya ngeri, Kitab Suci Berinvestasi. Hmmm… saya kurang suka, saya lihat dulu pengantar atau resensinya, siapa tahu menarik. Siapa pula Benjamin Graham ini? Di sampul buku ini ada kutipan dari Warren Buffet, “Buku terbaik tentang investasi yang pernah ditulis dan tak ada tandingannya”. Wow, seorang Buffett bilang seperti itu, memangnya buku ini terbit tahun berapa? Kan Buffett aja sudah tua, kapan ya buku ini ditulis? Akhirnya saya menghabiskan beberapa jam sore itu mempelajari buku ini, dan kemudian membelinya. Harganya saat itu Rp99.000 pas (kalau tak salah ingat). Dan saya tahu saya tidak rugi membeli buku ini.

Buku ini ternyata terbit pertama kali pada 1949 (hal yang bikin daya tarik saya! Warren Buffett membaca pertama kali pada 1950. Buku ini telah direvisi berkali-kali, edisi terjemahan yang diterbikan Serambi ini berdasarkan teks edisi revisi ke-4, diterbitkan pertama kali pada 1973. Revisi ini adalah revisi terakhir sebelum Graham meninggal pada 1976. Tapi terjemahan buku ini sebenarnya mengacu pada edisi 2003 yang disertai komentar dari Jason Zweig, seorang penulis kolom di majalah Money. Penulisnya sudah meninggal, bukunya laku jutaan eksemplar, seorang Buffett mengaku buku ini menjadi titik tolak gaya investasinya, dan ada komentator terkini tentang investasi, termasuk kisah dotcom buble. Kombinasi-kombinasi inilah yang menjadi daya tarik untuk mempelajari buku ini lebih jauh.

Buku ini memang tebal. Pada 2008 saya membaca sekilas buku ini, dan baru pada 2009 saya bisa menamatkannya. Pada 2010 hingga 2011 saya membaca ulang buku ini berkali-kali. Sepertinya selalu ada hikmah investasi setiap kali saya membaca buku ini. Yang membuat buku ini tebal selain teks asli yang ditulis Graham, di buku ini juga ada komentar dari Jason Zweig. Berbeda dengan gaya Graham yang formal, komentar Zweig gayanya santai dan luwes. Selain itu Zweig juga mengangkat topik investasi terkini, seperti bubble internet, keserakahan orang-orang dalam memuja saham-saham internet pada 2000-2001, hal yang cocok dengan fenomena investasi belakangan ini.

Struktur buku ini dibagi dalam beberapa bagian, ada 20 bab utama. Setiap bab disertai komentar dari Jason Zweig. Jujur, pada awal membaca buku ini, saya membaca komentar-komentar dari Zweig terlebih dahulu, sebelum membaca teksnya Graham. Gaya tulisan Zweig memang menarik. Apalagi latar belakang saya bukan dari keuangan, penjelasan Zweig memang lebih mudah dipahami daripada penjelasan Graham yang banyak mengungkapkan istilah-istilah keuangan.

Dari 20 bab tersebut, beberapa bab awal membahas tentang definisi investor dan spekulan. Ini benar-benar pukulan telak bagi saya yang ingin menjadi investor. Saya selama ini memahami investasi saham memang berisiko tinggi, boleh dianggap menakutkan bagi orang awam kalau tidak ingin rugi besar-besaran. Dari penjelasan Graham di bab satu jelas sudah ternyata saham tidak begitu menakutkan. Kalau kita bertindak sebagai spekulan, tentu saja rugi adalah hal pertama yang kita takut untuk menghadapinya. Kalau kita bertindak sebagai investor, tentu saja semuanya akan terjaga karena cara kita bertindak, metode kita berinvestasi, dan keputusan kita berdasarkan hal-hal yang logis dan masuk akal.

Bagian berikutnya buku ini mengajak kita menentukan akan jadi investor jenis apa diri kita ini, apakah agresif, atau defensif? Lalu dari pemahaman akan diri kita, kita disodori saran-saran metode investasi yang tepat, aman dan terbukti menguntungkan. Juga ada kebijakan portfolio, strategi menghadapi penasihat investasi atau broker, analisis sekuritas bagi orang awam. Sepuluh bab terakhir buku ini mengajak kita lebih jauh terjun dalam detil minor investasi saham dan obligasi, juga studi kasus pada saham-saham di era Graham dan juga saham-saham terbaru (60-70-an). Dan juga bab penutup tentang margin pengaman.

Apakah penjelasan saya di atas cukup menarik Anda untuk membaca buku ini? Kalau tidak, saya mungkin belum bisa mengungkapkan kehebatan buku ini, maka saya sarankan Anda untuk membaca sendiri buku ini. Atau paling tidak melihat ringkasannya terlebih dahulu sebelum membelinya. Yang jelas, buku ini telah mengubah pola pikir saya dalam berinvestasi. Pengaruhnya luar biasanya. Saya kira saya telah dicuci otak oleh Graham melalui buku ini.

Suatu contoh sederhana, pada artikel-artikel investasi umumnya, kita biasanya diberi arahan pada angka berapa kita akan cut-loss (memotong kerugian) pada sebuah investasi saham kalau memang saham kita akan terjun bebas harganya. Benar kan begitu? Atau kalau suatu saham naik, kita cenderung diajak ingin membelinya, karena ini lagi menanjak, potensinya bagus. Itulah teori umum tentang permainan saham. Tapi dari buku ini saya justri menjumpai pemikiran lain bahwa harga saham yang turun adalah saat yang tepat untuk membeli. Harga saham yang sudah menanjak ngapain dibeli lagi? Gila bukan perbedaannya? Buku ini mengubah pola pikir saya kalau saham turun saya akan jingkrak-jingkrak bisa membelinya pada harga diskon, kalau harga naik saya akan gembira juga investasi saya naik.

Pada 2008 saya belum masuk saham, tapi saya sudah masuk reksadana. Pada akhir 2008 itu investasi saya mengalami penurunan hampir 50%. Syukurlah saya sudah membaca buku ini, dan tanpa khawatir saya menambahkan sedikit demi sedikit dana untuk menutup margin kerugian saya demi mendapatkan unit reksadana lebih banyak. Akhirnya pada pertengahan 2010 investasi saya terbukti balik untung hampir 40%. Pada 2009 itu sebenarnya saya sudah siap masuk saham, tapi ada nasehat kalau ingin terjun ke dunia saham kita setidaknya melatih mental selama 1 hingga 2 tahun. Dalam masa latihan itu saya belajar membaca laporan keuangan dan juga metode memilih saham yang diajarkan Graham serta valuasi sederhana harga saham. Akhirnya pada akhir 2010 lalu saya resmi masuk saham.

Graham dikenal sebagai seorang yang membentuk fundamental investasi modern. Pada masa sebelum Graham investasi saham seperti judi, sebuah permainan yang liar. Gaya investasi saham seperti ramal-meramal, bahkan mungkin juga ada cenayang spesialis saham. Meski ada teori keuangan umum, tapi orang masih bingung karena tidak ada yang baku dan jelas. Setelah Graham, orang akhirnya mengenal struktur yang jelas tentang analisis sekuritas melalui bukunya yang lain, Security Analysis yang terbit sebelum The Intelligent Investor. Security Analysis ditujukan untuk investor serius seperti manajer investasi. Buku The Intelligent Investor ditujukan untuk orang awam.

Maka bagi Anda yang ingin memulai belajar investasi, apalagi jika Anda orang awam dalam dunia keuangan, buku ini adalah buku yang tepat.

7 komentar di “Resensi Buku The Intelligent Investor

  1. Kira2 dimana saya bisa beli buku tersebut, karna SERAMBI sudah tidak cetak buku tersebut.

    1. Sayang sekali bukunya memang sudah tidak dicetak ulang. Alternatifnya, Anda bisa membeli buku versi bahasa Inggrisnya.

  2. Bukunya 2nd jual saja ama saya Om Bolasalju daripada kualitas fisik bukunya menurun terkena defresiasi 😀

    1. Hehehe maaf, buku satu-satunya itu tidak dijual. Saya juga masih sering baca ulang kok 🙂

  3. Emiten di Indonesia yg menurut Om bagus apa untuk jangka panjang apabila boleh sharing..
    Kalau asing apa?
    Trims. Smoga sukses slalu

    1. Maaf kami tak bisa memberi rekomendasi.

      Jika ingin belajar bisa baca Cerdas Berinvestasi, ada saran dan strategi investasi untuk pemula agar bisa mencapai hasil jangka panjang maksimal.

Komentar ditutup.