Resensi Buku When Genius Failed

Posted on Tulis Komentar

Judul: When Genius Failed
Penulis: Roger Lowenstein
Penerbit: Random House (edisi 2001)
Tebal: Hardcover, 311 halaman

Kali ini kita akan meresensi sebuah buku lama yang rasanya layak untuk ditengok pada saat kita merasa khawatir soal ancaman resesi di masa depan.

When Genius Failed berkisah seputar hedge fund bernama Long Term Capital Management (LTCM). Buku ini menceritakan bagaimana berdirinya hedge fund yang didirikan para jenius ini: trader top, 2 ahli matematika peraih hadiah Nobel, ahli komputer pembuat algoritma trading, dan eks vice chairman The Fed—setelah sukses selama tiga tahun, lalu kehilangan uang $4,6 miliar dolar hanya dalam 4 bulan. Hingga kemudian dibailout bank-bank besar.

Dengarkan versi audio artikel ini via podcast di Spotify, Apple Podcasts, atau Google Podcasts.

Tentang Roger Lowenstein

Roger Lowenstein adalah wartawan Wall Street Journal selama satu dekade lebih, dan juga seorang penulis produktif dengan gaya penceritaan yang menarik. (Saya sampai punya 5 buku karyanya. Dan masih kurang 1 lagi). Tulisannya terbit juga di Bloomberg, The New York Review of Books, Fortune, The New York Times Magazine, dan terbitan lainnya.

Kalau Anda tidak lupa, Lowenstein pernah menulis buku biografi Warren Buffett dengan judul Buffett: The Making of American Capitalist (1995). Sebuah biografi Buffett yang komprehensif dengan titik pandang yang lebih memahami value investing daripada biografi lain berjudul The Snowball karya Alice Schroder. (Kapan2 saya akan mereview buku ini juga ya). Bukunya yang lain juga cerita finansial yang tak kalah apik yaitu: Origins of the Crash, While America Aged, dan The End of Wall Street.

Sekilas Long Term Capital Management (LTCM)

When Genius Failed (WGF) adalah sebuah buku non-fiksi yang berkisah seputar kisah sebuah hedge fund bernama Long Term Capital Management (LTCM). Kisah LTCM sendiri saya kira sudah banyak yang mengulasnya. Kalau Anda hanya ingin tahu cerita seputar itu tak perlu membaca buku ini. Silakan googling dan baca saja di artikel, video, dan ringkasan yang beredar.

LTCM adalah sebuah hedge fund, perusahaan pengelola investasi lindung nilai, berbasis di Connecticut, Amerika Serikat. LTCM memakai strategi trading absolute return dikombinasikan dengan leverage tinggi.

LTCM didirikan pada 1994 oleh bintangnya industri keuangan dengan otak cemerlang, dari trader top, ahli kuantitatif dengan latar belakang universitas terkemuka, hingga matematikawan dan akademisi terkemuka yang nanti mendapat ganjaran hadiah Nobel dari teorinya. Anda bisa membayangkan kerennya fund ini?

John Meriwether adalah eks trader obligasi top di era booming junk bond yang pernah dipaksa keluar dari Solomon Brothers karena skandal perdagangan obligasi oleh anak buahnya. Kalau mau tahu kisah soal ini silakan baca Liar’s Poker, buku yang mengorbitkan Michael Lewis sehingga menjadi penulis genre finansial terkemuka.

Pendiri LTCM yang dicap jenius termasuk di antaranya adalah Myron Scholes dan Robert C. Merton, keduanya adalah akademisi yang pada 1997 mendapat hadiah Nobel di bidang Ilmu Ekonomi atas sumbangsih mereka dengan “metode untuk menentukan nilai dari derivatif.” Partner lainnya juga tak kurang keren, termasuk David Mullins (Vice Charimen The Fed), dan juga didukung ahli quant (kalau istilah sekarang) Eric Rosenfeld, PhD finance dari MIT yang pernah bekerja dengan Mitch Kapor, yang nanti mendirikan Lotus, software spreadsheet awal yang sangat terkenal pada zamannya sebelum era Excel, Numbers, dan Google Sheets.

Operasi LTCM

Bayangkanlah trader yang dikenal paling ambisius dan pernah bikin rame pasar bond di Amerika. Mereka ketemu akademisi-matematika yang menciptakan teori derivatif top. Bayangkanlah arogansi atau kekerenan mereka.

Baru mulai saja hedge fund ini sudah bisa mengumpulkan dana hingga $1 milyar dolar. Apakah itu cukup?

Dengan dana sebesar itu, LTCM masih memeras beberapa bankir investasi terkemuka, termasuk Goldman Sachs untuk memberi pinjaman operasi investasi hedge fund belia ini dengan term yang sangat menguntungkan bagi mereka. Misalnya soal kecilnya bunga dan batasan margin call yang berbeda. Mereka mengancam bahwa mereka bisa tertinggal aksi keuntungan yang besar atau mengalihkan bisnisnya ke perusahaan lain.

Apa itu cukup? Ternyata belum.

Mereka bertransaksi dengan leverage gila. Ada yang bilang 1:100. Ada yang menghitung secara konservatif paling tidak 1:30. Istilahnya, jika modal mereka $1 milyar dolar, mereka bisa bertransaksi $100 milyar.

Apa semua itu sudah cukup buat mereka? Belum sodara.

Mereka bertransaksi derivatif. Baik di arbitrase fixed income, derivatif saham—semacam perdagangan berpasangan, hingga derivatif antar mata uang dunia.

Apa yang Anda bayangkan dengan beberapa level keserakahan itu? Jika benar, pasti bisa untung sangat besar. Jika salah sedikit, langsung hancur.

Strategi Perdagangan LTCM

Strategi mereka berdasarkan teori yang dibangun oleh dua ekonom peraih hadiah nobel yang juga partner di LTCM yang bernama “Black-Scholes model”. Dalam keterbatasan pemahaman, saya tidak paham teori ini. Silakan dipelajari sendiri.

Inti strategi ini yang saya pelajari dari penjelasan Lowenstein adalah mencari keuntungan recehan dari banyak trading dengan volume sangat besar. Harapannya, saat strateginya benar, keuntungan sekecil apa pun bisa menjadi cukup lumayan. Untung 0,5% dengan modal $1000 ya hanya $5 dolar. Bayangkan jika modalnya $1 juta, bisa untung $5 ribu. Bayangkan jika modal trading 1 milyar dolar, untung $5 juta. Dengan leverage yang besar, keuntungannya itu bakal berlipat ganda.

Ironinya, strategi mereka memang sukses dalam 3 tahun pertama operasi investasi mereka. Awalnya untung 21%, tahun kedua 43%, lalu 41% di tahun ketiga. Ratusan juta keuntungan dari satu trading ke trading lainnya menjadikan mereka jumawa. Membuat mereka lupa. Hingga mengabaikan aspek kewarasan. Di tahun keempat, banyak posisi tradingnya ternyata tidak membuahkan hasil, bahkan justru kerugian. Mereka rugi hingga $4,6 milyar dolar kurang dari 4 bulan setelah krisisi Asia 1997 dan krisis Rusia 1998.

Kerugian mereka untungnya berhasil diselamatkan setelah upaya The Fed agak memaksa 14 institusi finansial untuk patungan membailout mereka.

Ringkasan When Genius Failed

Buku ini (WGF) berkisah soal legenda kisah seputar LTCM dengan narasi lebih lengkap dan luas. Lowenstein bisa menceritakan kisah finansial dengan strategi kompleks tersebut sehingga mudah dipahami oleh orang biasa.

Ada cerita pembuatan/pendirian hedge fund LTCM, latar belakang tokoh-tokohnya hingga bagaimana karir mereka. Bagaimana kisa awal sukses hedge fund ini. Lalu bagaimana kronologi keruntuhan yang tiba-tiba dan cepat, dan kemudian kisah penyelamatannya.

Struktur buku ini dibagi dalam dua bagian. The rise of LTCM yang berisi 6 bab yang mengisahkan tokoh-tokohnya, upaya raising capital LTCM, hingga strategi trading mereka. Dan bagian kedua adalah The fall of LTCM berisi 4 bab, menceritakan kronologi detail soal apa, bagaimana, dan kenapa LTCM gagal hingga kisah setelahnya.

Saya kira bagi mereka yang menyukai sejarah finansial tentu tertarik dengan bagaimana cara Roger Lowenstein bercerita. Ada banyak hal yang tidak terungkap dalam review ini atau ulasan buku di mana saja. Misalnya Warren Buffett dan George Soros ternyata muncul saat diharapkan bisa membail-out LTCM. Anda juga bisa membaca relasi kisah orang atau kejadian dengan bagaimana sistem keuangan bekerja. Ternyata kejadian era 80-an masih berlanjut dan diulang juga pada tahun 90-an, dengan pelaku yang terkait, misalnya: anak buahnya si ini menjadi pemain utama, teori ini dipakai itu, dst.

Saya kira daya tarik membaca sejarah finansial atau perusahaan seperti ini adalah kita bisa memahami bagaimana faktor manusia ternyata berpengaruh di balik struktur kompleks finansial yang hampir mengacaukan suatu negara.

Buku ini menurut saya memberi pesan kepada kita semua, paling tidak buat saya yaitu:
1) Keserakahan. Anda bisa menemukan berapa kali saya menulis apakah itu cukup bagi mereka.
2) Tidak ada yang bisa menebak pasar. Tidak ada model yang sempurna, apalagi kita tahu model apa pun tergantung dengan variabel atau parameter, yang sifatnya subyektif dan dipengaruhi oleh kondisi pasar.
3) Manusia. Bagaimana trader yang dihukum keluar dari perusahaan sebelumnya karena kasus cukup besar bisa mengumpulkan dana hingga milyaran dolar, lalu gagal lagi karena faktor-faktor di atas itu. Faktor manusia ini justru yang terlihat sebagai sebab mayoritas krisis di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia. Keserakahan hedge fund ingin untung besar dalam waktu relatif cepat memakai dana orang lain. Keserakahan investment banker agar tidak terlewat keuntungan dari komisi pembiayaan. Keserakahan investor yang tidak bisa melihat hal-hal tak masuk akal.

Catatan Roger Lowenstein dalam epilog meringkas beberapa hal-hal penting ini:

  • LTCM sebenarnya melihat risiko lebih besar. Tapi mereka tidak memutuskan keluar. Tambahkan faktor pilihan derivatif, lalu leverage yang super-gila. Model apa pun akan kalah oleh keputusan dari perilaku manusia yang tidak benar.
  • Bukti diversifikasi tanpa pemahaman utuh biarpun jumlah banyak ternyata tidak melindungi keselamatan telur investasi yang diharapkan tidak pecah di keranjang-keranjang lain. Ini mungkin terkait dengan keputusan manusia.
  • Dua posisi trading terbesar yaitu swap dan equity volatility menyumbang kerugian $2,9 miliar sendiri. Seandainya tanpa itu dan dari kerugian-kerugian lainnya seperti Rusia dan emerging market, obligasi Jepang, equity pair, yield curve arbitrage, saham S&P, junk bond arbitrage, dan merger arbitrage senilai kerugian total $1,6 miliar mungkin masih bisa dipertahan.
  • Menggantungkan operasional investasi berdasarkan model yang mengatakan harga akan pergi ke arah yang digambarkan model tersebut terbukti tidak bisa menghindari perilaku pasar. Model tergantung oleh masa lalu. Akademisi lupa melihat bahwa pasar, terdiri dari manusia-manusia, yang tidak selalu memakai argumen rasional. Ini adalah bukti sejarah bahwa kombinasi model ditambahkan kalkulasi mesin (dari algoritma komputer) tidak selalu terbukti benar. Pasar tidak tergantung kalkulasi risiko dan angka, tapi juga ketidakpastian yang bisa mengubah hasil model apa pun.

Ironinya, menurut Lowenstein, model yang dipakai LTCM sesungguhnya adalah untuk meminimalisir risiko, lalu berspekulasi untuk mengatasinya. LTCM adalah ironi besar sebuah hedge fund dengan nama ambisius yang didukung oleh pendiri jenius.


Satu lagi, setalah pasca runtuhnya LTCM, setelah fund diambil alih oleh konsorsium bank, setelah partner-partnernya keluar satu per satau, pada 1999 Meriwether mendirikan JWM Partners. Dia berhasil menggalang dana 250 juta dolar. Hingga 2007 fundnya diperkirakan mengelola dana $3 miliar. Krisis sub-prime memaksanya menutup fund tersebut setelah rugi -44%. Kemudian dia membuka hedge venture bernama JM Advisors pada 2010. Masih menggunakan strategi mirip dengan LTCM. Namun, pada 2011, JM Advisors hanya mampu menggalang dana sebesar $28,85 juta dolar.

Referensi:

Tinggalkan Balasan