Thinking, Fast and Slow

Resensi Buku: Thinking, Fast and Slow

Terbit

Berbeda dengan biasanya, buku yang kami resensi ini bukan buku investasi. Tema utamanya adalah psikologi. Meski demikian, sebagaimana penulisnya yang diganjar hadiah nobel bidang ekonomi,  kami rasa topik buku ini masih menarik, terkait dengan disiplin ilmu psikologi untuk perilaku keuangan.

Judul: Thinking, Fast and Slow
Penulis: Daniel Kahneman
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux, 2011 (First Edition)
Tebal: 499 halaman

Buku bahasa Inggris tersedia di BookDepository: Rp190.000 untuk edisi paperback dan Rp400.000 untuk edisi hardcover (bebas ongkos kirim ke Indonesia).

Tema Utama Thinking, Fast and Slow

Thinking, Fast and Slow adalah buku terbitan 2011 karya Daniel Kahneman. Buku ini adalah versi populer yang menjelaskan secara ringkas (padahal bukunya tebal!), tentang riset yang dilakukan Kahneman bersama ilmuwan Israel lainnya, Amos Tversky—selama beberapa dekade karirnya.

Apa tema sentral buku ini?

Tema sentral yang diangkat buku ini adalah dikotomi (dua cabang bahasan) antara dua model pemikiran yang dikenalkan Kahneman sebagai: Sistem 1, yang cepat, cenderung instinktif (naluriah) dan emosional; dan Sistem 2, yang punya kecenderungan lebih lambat, penuh pertimbangan, dan lebih logis. Dua hal sentral inilah yang kemudian mewarnai basis beberapa teori Kahneman dan dibahas di buku ini. Beberapa fokus Kahneman diantaranya adalah: bias kognitif, teori prospek (prospect theory), dan selanjutnya tentang kebahagiaan.

Sistem 1 adalah keadaan seperti: seseorang bisa mengendarai sepeda, menyetir mobil di jalan sepi, melihat benda lebih besar dibanding lainnya, berpikir jijik ketika melihat benda kotor yang tidak ia suka.

Sistem 2 adalah keadaan seperti: menyadari keadaan sebelum konsentrasi mendengar suara drum di musik, parkir mobil, membandingkan murah tidaknya dua saham yang berbeda dari labanya.

Tema studinya menarik untuk didiskusikan karena ada relasi dengan dunia yang erat dengan psikologi perilaku, yaitu dunia pengambilan keputusan di bidang keuangan. Mungkin karena banyak manfaatnya untuk bidang keuangan, ilmuwan bidang psikologi ini justru diganjar hadiah Nobel di bidang Ekonomi.

Lima Tema Besar Thinking, Fast and Slow

Buku ini dibagi dalam lima bagian besar, yaitu: tentang dua sistem pikiran tadi, bias dan heuristik, terlalu percaya diri, pilihan, dua diri. Kalau menurut penyederhanaan saya, kesemuanya ini berkaitan dengan kedua hal tadi. Dari beberapa bagian besar ini Kahneman berbagi beberapa hasil risetnya, banyak hal menarik diceritakannya dan kita sadari bahwa manusia lebih sering bertindak melalui Sistem 1.

Buku ini menggambarkan bias kognitif yang terkait dengan setiap jenis pemikiran, dimulai dengan penelitian Kahneman sendiri tentang penghindaran kerugian. Dari membingkai pilihan dengan kecenderungan orang untuk mengganti pertanyaan sulit dengan pertanyaan yang mudah dijawab. Buku ini menyoroti beberapa dekade penelitian akademis untuk menunjukkan bahwa orang terlalu percaya pada penilaian manusia.

Apa yang Menarik dan Bisa Dipelajari dari Sistem Perilaku Manusia dalam Investasi?

Ada banyak hal yang menarik yang bisa saya pelajari dari baca ulang buku ini. Tapi mohon maaf jika saya banyak lupa, maklum saya membacanya tahun lalu. Saya akan cerita beberapa hal yang saya ingat.

Dalam anchoring (penjangkaran, tautan/kaitan): studi membuktikan manusia terpengaruh apa yang diketahuinya.

Dalam teori penghindaran kerugian, dikatakan lebih baik menghindari rugi $5 daripada mencari untung $5.

Dalam teori prospek, banyak orang lebih memilih model potensi keuntungan 0%-11% (tidak pasti sampai sedikit pasti); dibanding peluang keuntungan 50%-61%; atau 89%-100% (hampir pasti sampai pasti untung). Kenapa manusia begitu? Entahlah.

Dalam bias biaya hangus (sunk cost fallacy), banyak orang daripada memilih investasi bekala rutin yang memproduksi perolehan positif, orang cenderung membuang posisi investasi mereka yang sedang jelek (rugi). Sistem 1 lagi yang bekerja daripada keputusan Sistem 2 untuk percaya investasi berkala jauh lebih menguntungkan.

Saya pribadi banyak setuju terhadap kesimpulan studi di buku ini. Kahneman bilang seseorang yang di awal masa investasinya rugi, dia akan lebih melihat semua hasil investasi rugi; begitu pula orang lain yang di awal melihat investasi menguntungkan, maka dia akan melihatnya sebagai peluang. Yang membuat geli, dari fakta dan cerita yang sampai ke saya, kenapa sebelum investasi banyak orang tidak belajar lebih lambat dulu, menimbang risiko, mencari mana yang menguntungkan, berapa faktanya, baru melakukan investasi? Itulah cara kerja Sistem 2 yang lambat. Studi yang saya maksud adalah teori investasi yang konservatif, bukan studi menebak pergerakan saham—ingat statistik yang dikumpul Profesor Jeremy Siegel—strategi nilai punya peluang keuntungan lebih banyak dibandingkan teknikal. Saya beruntung memakai Sistem 2, memilih belajar, baru setelah yakin memahaminya dengan baik, saya baru memulai investasi. Berbeda dengan banyak orang lain yang terlalu buru-buru ingin mengejar untung malah tidak dapat apa-apa atau rugi. Atau mungkin seperti itulah memang hasil statistik umumnya? Saya bukan orang kaya yang bisa membuang puluhan juta rupiah dengan gampang. Meski transaksi tahun pertama rugi, tapi saya tak punya emosi asal saya yakin analisa tepat. Itulah cara membangun portofolio untuk mencari diskon di sebuah saham. Rugi sementara bisa terjadi. Sampai sekarang pun kalau sedang dalam posisi masuk dan yakin dengan analisa saya, mau rugi 30%-50% pun saya tak pernah khawatir. Saya kira investor harus lebih percaya Sistem 2 dengan analisa fundamental, daripada Sistem 1 yang ingin untung serba cepat dan hanya terpengaruh grafik dan gejolak harga. Sistem 2 adalah melihat ke nilai perusahaan. Sistem 1 adalah melihat jika kondisi pergerakan harga terpenuhi maka ini diperkirakan akan terjadi.

Pemahaman orang per orang akan studi Kahneman bisa berbeda. Seorang yang pro teori efisiensi pasar (efficient market theory) akan mengatakan pasar sudah efisien, harga itu menunjukkan informasi perusahaannya. Padahal bukti pasar tidak efisien sering terjadi: ada perusahaan yang secara keuangan baik-baik saja, sahamnya bisa jatuh; atau sebaliknya ada perusahaan keuangannya belepotan, tapi sahamnya naik terus; atau bagaimana judgment kita melihat perusahaan teknologi pra dan pasca krisis dotcom? Ingat secara statistik mayoritas manajer investasi tidak bisa mengalahkan pasar.

Secara umum statistik dana kinerja investasi umumnya di bawah rata-rata, maka saya setuju anjuran untuk investasi di reksadana indeks untuk orang awam, atau investasi berkala di saham bagus. Kami membuktikannya melalui riset investasi berkala di 10 saham selama 10 tahun dibanding hasil investasi di 10 reksadana terbaik. Tapi, kenyataannya, selalu ada manajer investasi yang secara jangka panjang bisa mengalahkan pasar, secara konsisten pula. Saya kira kita harus menyelidiki apa upaya mereka, dari kampung intelektual mana mereka berasal, dan bagaimana cara mereka menghasilkan perolehan seperti itu. (Lihat Superinvestors)

Dari contoh manajer investasi yang diselidiki Kahneman di pengantar buku, seseorang yang punya ide saham Ford hanya karena ia suka dengan mobil Ford, itu seperti mengatakan bahwa semua manajer investasi tak tahu apa yang mereka lakukan. Juga studi Kahneman tentang relasi kinerja manajer investasi di sebuah fund yang kenyataannya mendekatil rasio nol alias tidak tahu apa-apa. Sangat disayangkan banyak manajer investasi dibayar dalam persentase dana yang mereka kelola, padahal kinerja mereka bisa jadi tidak memuaskan. Hal itu sangat berbeda dengan skema bagi hasil ala partnership beberapa pengelola dana berbasis value yang lebih mengedepankan kinerja. Setelah lewat batas atas kinerja baru sisa keuntungan dibagi antara pemilik dana dan pengelola. Sangat disayangkan kenapa penelitian Kahneman tidak menyentuh beberapa manajer aliran value.

Tapi hal ini juga bisa menjadi kritik bagi penganut nilai agar tidak terlalu percaya diri. Juga disebut dalam studi Kahneman, seseorang yang terlalu percaya diri, entah karena pengalaman dirinya atau karena peluang yang tersedia, maka dia seperti memakai Sistem 1 yang instan daripada Sistem 2 yang lebih rasional dan penuh pertimbangan.

Sistem 2 dan Sistem 1 yang Dinamis

Yang unik adalah, jika seseorang menggunakan Sistem 2 yang lambat dan penuh pertimbangan ketika menganalisa sebuah laporan keuangan. Namun, seperti diceritakan Kahneman, jika seseorang semakin ahli dan familiar dengan hal yang dilakukannya, dia bisa melakukan hal itu dengan Sistem 1. Beberapa contohnya: keputusan seorang dokter bedah untuk mengambil keputusan cepat memakai jenis pisau A dibanding pisau B dalam operasi adalah hasil pembelajaran dan pengalamannya bertahun-tahun, kadang kita menyebutnya intuisi, padahal bagi dokter bedah pemula dia memakai Sistem 2; juga keputusan yang dilakukan pilot ketika menghadapi perubahan navigasi, setelah terbiasa akhirnya ia memakai Sistem 1, padahal di masa awal karirnya dilakukan dengan Sistem 2.

Hal serupa juga terjadi di dunia investasi. Seorang Buffett ketika melihat laporan keuangan dan ia bisa membuat keputusan investasi setelah lima menit membaca laporan keuangan adalah contoh Sistem 1, dibanding misalnya seseorang yang baru belajar investasi nilai seperti saya. Namun hal ini juga mengandung bias lain, karena terbiasa memakai Sistem 1 yang terlalu cepat ini membuat seseorang sering lupa karena terlalu percaya diri. Begitulah manusia.

Saya rasa studi Kahneman adalah hal yang menarik di bidang ekonomi. Tapi beberapa ajakannya yang memandang semua hal sebagai statistik belaka mungkin kurang pas bagi orang-orang yang serius di bidang itu.

Lalu Bagaimana, Jika Perilaku Manusia Seperti Itu, Bukankah Kita Tidak Bisa Menghindarinya?

Studi Kahneman adalah sebuah analis umum akan perilaku manusia. Percaya tak percaya, semua itu benar adanya, menurut studi. Semua bisa mengalaminya, termasuk saya dan Anda.

Bagi Anda yang merasa tak sepakat atas semua hasil studi dan ingin mencoba menjadi anomali manusia yang lebih ke Sistem 2 alih-align selalu otomatis memakai Sistem 1, saya sarankan tengok beberapa ide yang diusulkan Charlie Munger sebagai mental model dalam pandangan tentang beberapa kesalahan penilaian manusia. Sebuah ide yang unik dan susah dilakukan karena untuk menjalaninya harus keras dalam disiplin menggunakan Sistem 2. Padahal otak kita maunya cepat saja, Sistem 1.

Banyak ide mental model yang diutarakan Munger. Sebagai contoh, saya selalu ingat hal ini, selalu balik, always inverse. Contohnya, jika kita jumpa berita seperti ini, “Perusahaan ini punya peluang tumbuh 25%….” Maka kita harus berpikir untuk membalik faktanya. Untuk tumbuh perlu pasar. Untuk pasar perlu segmen pasar yang belum dimasuki oleh perusahaan. Sekarang cek, jika pasar perusahaan belum seluruh Indonesia, maka peluang itu masuk akal, dan harus didiskon sampai lama waktu untuk mencapainya. Jika perusahaan sudah menjangkau Indonesia, ya sama saja bohong.

Menghadapi Sistem 1 yang cepat, instinktif, memang susah dihindari. Tapi dalam beberapa hal, dengan disiplin keras dan knowledge dari analisa, masih masuk akal untuk melihat sebuah investasi minus -51% belum terealisasi dan hati kita tidak khawatir apa pun. Itulah Sistem 2.