Rahasia Bandarmologi, Bagaimana Investor Biasa Menang?

Posted on 5 Komentar

Anda pasti sering dengar istilah bandarmologi. Kita bertanya-tanya, apakah benar fenomena bandarmologi itu terjadi. Tulisan ini akan mencoba mencari setitik jawaban atas rasa penasaran itu.

Arti Istilah Bandarmologi

Anda mungkin tahu istilah arti bandar. Kalau belum, inilah arti menurut Kamus Bahasa Indonesia:

[n] 1) pemain yg menjadi lawan pemain-pemain lain sekaligus (dl permainan dadu, rolet, dsb); 2) orang yg menyelenggarakan perjudian; bandar judi; 3) orang yg mengendalikan suatu aksi (gerakan) dng sembunyi-sembunyi; 4) orang yg membiayai suatu gerakan yg kurang baik; 5) orang yg bermodal di perdagangan dsb; tengkulak.

Jadi, kalau bandarmologi berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan bandar. Mungkin begitu.

Tapi kita berbicara pasar saham, bukan meja judi. Kok, kesannya serem.

Apa Ada Bandar di Pasar Saham?

Menurut banyak orang, konon memang ada sosok bernama bandar—yang mirip dengan pengendali sebuah meja judi—di dunia pasar saham.

Bandar di pasar saham ini kesaktiannya tak kalah dibanding rekan sejawat di meja judi.

Bandar katanya bisa mejatuhkan harga saham sampai keok, menaikkan harga saham membumbung setinggi awan, atau membuat sebuah saham datar dan membosankan bertahun-tahun.

Hebat ya.

Bahkan konon ada yang bilang bandar ini bisa menggoyang indeks. Indeks saudara-saudara, seperti IHSG kita itu. Hebat juga ya. Kuat dan kejam. Bandar inilah yang suka dihubungkan dengan aksi goreng-menggoreng saham.

Realitas Bandarmologi

Di majalah Investor edisi September 2012 lalu. Ada wawancara dengan Hendrata Sadeli, direktur utama sebuah perusahaan brokerage besar. Saya terhenyak mengetahui jawabannya dalam sebuah wawancara tentang kinerja sekuritas Indonesia khususnya mengenai perang bea jasa (fee) yang makin rendah, berikut saya kutip sedikit: “Berdasarkan hasil studi dari UI, fee broker yang sekarang terlalu rendah. Akhirnya banyak broker yang bisa rugi karena fee. Bagaimana supaya bisa tetap berjalan, banyak broker melakukan trading sendiri. Kalau hidup hanya broker saja pasti rugi.” Broker melakukan transaksi sendiri untuk mencari tambahan pendapatan!

Kalau kita melakukan deduksi dari jawaban di atas, bila para broker melakukan transaksi sendiri, entah dengan modal mereka sendiri, atau aset titipan, atau hutang, atau apa pun, akhirnya bakal terjadilah fenomena bandarmologi itu. Broker, paling tidak, punya dana lebih banyak dari pemodal biasa, dengan dana itu maka dengan gampang bila mereka masuk pasar untuk mencari keuntungan operasional, maka bisa menggoyang sebuah saham di pasar.

Bagaimana kalau ini dilakukan oleh beberapa broker, atau beberapa oknum profesional di beberapa broker, atau beberapa orang yang secara akumulasi terkumpul dana cukup besar, atau broker “abal-abal” yang menjadi pelaksana kendaraan investasi kelompok usaha tertentu. Kegiatan seperti itu yang melibatkan dana cukup besar dan dilakukan secara cukup cermat tentu bisa menggoyang sebuah saham. Namun pembuktiannya cukup susah.

Jadi sangat mungkin sekumpulan orang atau dana bisa menggoyang sebuah saham, apalagi jika itu saham berkapitalisasi pasar kecil. Apakah bisa menggoyang indeks? Ya, mungkin saja. Jika semua pemain pasar panik. Hancur lah bursa sehari atau beberapa hari.

Pembuktian Transaksi Bandarmologi

Apakah kemungkinan bandarmologi bisa kita buktikan? Saya rasa bisa dengan mengangkat deduksi sederhana dari data yang ada.

Saya punya data sederhana yang bisa menjadi landasan dugaan ini. Di laporan majalah investor tersebut di halaman 96, ada tabel Data Pokok Anggota Bursa 2012. Saya terkesima melihat dua sekuritas pertama. Datanya kurang lebih bisa dipersingkat seperti ini:

Sekuritas AC:
Aset
Desember 2011: 1.125 M
Maret 2012: 203 M

Ekuitas
Desember 2011: 1.107 M
Maret 2012: 176 M

Pendapatan Usaha
Desember 2011: 510 M
Maret 2012: (646) M

Sekuritas AS:
Aset
Desember 2011: 1.178 M
Maret 2012: 230 M

Ekuitas
Desember 2011: 1.157 M
Maret 2012: 185 M

Pendapatan Usaha
Desember 2011: 443 M
Maret 2012: (727) M

Itu adalah data dua sekuritas, yang saya rasa cukup menjadi representasi dugaan kita untuk menjawab bandarmologi ini. Saya tidak langsung menuduh bahwa dua sekuritas ini adalah salah satu yang disebut bandar itu. Tapi lihatlah kerugian pendapatan mereka untuk periode hanya tiga bulan saja. Lihat pula keuntungan mereka dari tahun sebelumnya (data tidak saya tampilkan). Selisih dan jaraknya sangat besar.

Kebetulan dua sekuritas ini termasuk puluhan sekuritas yang menjadi salah satu acuan majalah Investor untuk mencari sekuritas terbaik tahun ini. Sekuritas-sekuritas lain yang tidak masuk, yang merugi parah, yang kinerjanya buruk, juga banyak. Bahkan mungkin data mereka harusnya yang menjadi sumber terbaik. Baiklah, dengan mengabaikan prasangka buruk, tapi ini telah terjadi dua sekuritas yang tidak terlalu populer. Penurunan pendapatan usaha dibanding aset mereka sungguh sangat fenomenal. Bisa saja penurunan terjadi karena alasan bisnis lain. Tapi kita tahu bisnis mereka di bidang sekuritas, dengan ijin utama perdagangan efek, apa lagi yang bisa menyebabkan kerugian dahsyat seperti itu? Kemungkinan besar adalah aksi spekulasi yang rugi, sehingga hasil keuntungan 2011 yang cukup lumayan bisa digerogoti sangat dalam. Kemungkinan lain cukup kecil saya rasa.

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah pengawas bursa tidak melakukan telaah lebih lanjut dengan laporan anggota bursa yang mengkhawatirkan ini? Pertanyaan selanjutnya, bila ini terjadi di sekuritas yang kurang populer, seperti yang dikatakan Hendrata tadi bertransaksi sendiri untuk mencari keuntungan, lalu bagaimana kejadiannya di sekuritas populer dengan pelanggan mencapai lebih dari 10% jumlah investor Indonesia? Kita tahu, kadang-kadang ada sekuritas yang mengijinkan dana nasabah diolah oleh broker bukan? Secara ijin mungkin hal itu tidak boleh, tapi secara praktek bisa saja dilakukan, dalihnya nasabah sendiri yang melakukan transaksi. Itulah semua akar terjadi bandarmologi di bursa kita.

Apakah Investor Biasa Bisa Menang Lawan “Bandar”?

Baiklah, anggap saja bandarmologi ada, anggap saja ada mafia yang bersekongkol mengatur harga sebuah saham atau beberapa atau hingga indeks, pertanyaan kita selanjutnya bagaimana kita sebagai investor biasa yang bermodal cekak, letaknya jauh dari pusat bursa (saya di Jawa Tengah lho, bahkan jauh dari ibukota), bagaimana kita bisa menang atau beruntung bisa melawan mereka?

Untungnya Peter Lynch sang legendar manajer investasi itu membantu saya mencari jawabannya. Dia bilang investor biasa punya harapan sangat besar untuk mengalahkan profesional yang punya kapabilitas ahli di bidang pasar saham, asal kita menerapkan asas ketat konservatisme dan berinvestasi di saham perusahaan yang aman, punya potensi tumbuh, perusahaan yang dikelola oleh manajemen mumpuni dan berintegritas tinggi, serta harganya cukup menarik.

Tanpa punya hubungan keluarga, hubungan bisnis, atau informasi internal, tanpa mengenal salah satu sekuritas, tanpa memelototi layar transaksi tiap hari, kita bisa mengalahkan “bandar bursa” di meja permainan mereka, di pasar bursa.

Penutup

Istilah bandar yang dihubungkan dengan dunia investasi memang sangat populer di bursa kita. Ini adalah fenomena yang terjadi di bursa kita. Ya, anggap saja ada sosok seperti itu di pasar.

Harapan kita tentu saja regulator bisa memperbaiki iklim bursa sehingga peluang sekuritas melakukan transaksi sendiri sebagai spekulasi bisa diminimalisasi. Sekuritas tetap bisa bertransaksi tapi karena itu adalah pekerjaan mereka. Regulasi harus bisa mengatur kaitan hubungan, independensi sekuritas dari pemodal dan nasabah, sehingga transaksi yang terjadi murni karena nasabah bukan karena niatan sekuritas berspekulasi untuk mendapat keuntungan di tengah tipisnya peluang pendapatan dari biaya dan lainnya.


Dimuat pertama kali: 25 Oktober 2012
Dimutakhirkan: 19 Juni 2019

5 komentar di “Rahasia Bandarmologi, Bagaimana Investor Biasa Menang?

  1. Mengenai independensi dana nasabah, bukankah sejak awal 2012 BEI sudah mewajibkan setiap nasabah punya rekening terpisah? Namun pada prakteknya, masih ada sekuritas (dengan berbagai alasan) mencampur dana nasabah ini. Saya nasabah YP, termasuk yg dananya tercampur, sehingga laporan transaksi dari bank selalu nol (tidak ada transaksi). Regulasi sudah ada, sistem sudah ada, tinggal membereskan praktek-praktek begini.

    Lalu yg terlupakan, tujuan perusahaan yg listing di bursa adalah menjual saham, dengan harga yg optimal. Sehingga, bila ada praktek perbandaran, ya itu salah satu upaya membentuk harga yg optimal. Sulit untuk mengatakan praktek2 begitu tidak sah atau membuat investor kecil sebagai korban. Siap masuk di bursa berarti siap dengan segala resikonya.

    Lagipula, daripada mengurusi praktek2 perbandaran, yg sering membuat investor celaka justru praktek2 yg legal disetujui oleh BEI sendiri. Misalnya, right issue yg merugikan investor kecil. Aksi korporasi ini tentulah sekehendak pemilik saham mayoritas, melalui RUPS. Nah, tapi di situlah masalahnya, investor kecil atau ritel tidak punya kewenangan. Mereka dipaksa membeli saham baru atau terjadi dilusi saham lama. Tidak perlu goreng-menggoreng, tiba2 saham bertambah berkali-kali lipat jatuh dari langit. Ini yg membuat ketidakpastian usaha.

    1. Bukan masalah independensi dana. Bukan masalah problem atau tidak. Tapi tulisan ini mengangkat dugaan bahwa ada sekuritas yang menggunakan dananya sendiri untuk bertransaksi saham dengan harapan mencari keuntungan operasional. Hal ini didukung oleh komentar dari Dirut Panin Sekuritas di atas.

      1. Sesuai judulnya, bandarmologi bisa dilakukan siapa saja, termasuk emitennya sendiri. Saya memberikan tambahan sesuai judul. Yang membuat itu jadi masalah siapa ya? Jangan lupa dibahas regulasi soal independensi dana nasabah. Saya heran, ketika memberikan komentar langsung disanggah tuh (bukan dan bukan). Hebat.

        1. Baik, saya melakukan kesalahan dengan menggunakan kata “masalah” dan “bukan” berulang-ulang dan mungkin kurang nyaman istilah ini. Mohon maaf atas penggunaan kata yang tidak tepat.

          Komentar Anda di atas missing soal broker mempunyai bisnis memutar dananya sendiri (bukan dana nasabah) untuk mencari keuntungan. Jadi sama seperti balasan saya sebelumnya, perhatian utama artikel adalah di situ.

          Tentang praktek manipulasi atau “bandarmologi” lainnya. Itu mungkin dan bisa terjadi. Seperti diungkap di artikel, praktek itu bisa saja dilakukan oleh sekelompok orang, lembaga, atau sekumpulan dana.

    2. Tentang komentar Anda:
      “Lalu yg terlupakan, tujuan perusahaan yg listing di bursa adalah menjual saham, dengan harga yg optimal. Sehingga, bila ada praktek perbandaran, ya itu salah satu upaya membentuk harga yg optimal.”

      Agak kurang tepat, emiten melepas sebagian sahamnya di bursa itu untuk mencari dana. Harga optimal tercipta dari skema penawaran sebelum saham-saham itu dijual di bursa.

Komentar ditutup.