Bias

Posted on

Bias kognitif adalah pola atau pergeseran dari norma atau rasionalitas dalam pengambilan keputusan. Ada banyak bias pikiran seperti ini. Beberapa bisa dikaitkan dengan kegiatan ekonomi, sehingga ada studi khusus yang bernama ekonomi perilaku. Apa bias itu dan bagaimana pengaruhnya terhadap kegiatan investasi seseorang?

Bias yang Bagaimana?

Bias jelas mempengaruhi kapasitas setiap orang, termasuk saya dan Anda, dalam membuat keputusan investasi. Suatu contoh yang diungkap dalam teori loss aversion (keengganan kehilangan),  lebih baik tidak hilang $5 daripada mencari peluang keuntungan $5. Dengan bias enggan kehilangan ini, seseorang memilih tidak membuat keputusan investasi alih-alih mendapat peluang keuntungan antara -$5 hingga $5.

Di artikel ini kita tak akan bicara semua jenis bias. Tak mungkin membicarakan semuanya. Saya juga tak akan mampu membahas semua karena itu bukan kapasitas saya. Kita akan bicara bagaimana pengaruh bias pikiran dalam kerangka pikir seseorang sehingga bisa mempengaruhi kegiatan investasinya.

Bias Kutukan Pengetahuan (Curse of Knowledge)

Saya bukan programer sakti mandraguna. Tapi saya terdidik dan bekerja selama 10 tahun sebagai programmer, terutama di bidang web. Dalam hal inilah saya mengalami yang dinamakan kutukan pengetahuan, khususnya di bidang program komputer. Karena bias ini, biasanya saya cenderung menggampangkan masalah program dan merasa semua bisa dikerjakan sendiri. Akhirnya, penilaian atau pengukuran asumsi jadi tidak akurat. Bias seperti ini adalah susah menaruh pikiran di sisi orang lain yang melakukannya. Itulah yang saya rasakan.

Lawan dari bias ini, maka kita akan lihat orang yang tidak paham teknologi informasi (TI) akan hati-hati saat bisnisnya menghadapi masalah TI, sehingga hasil akhirnya mereka malah sukses memecahkan masalah di bidang TI dengan efisien dan lancar. Maka jangan heran ada lulusan pertanian sukses di bidang IT atau perbankan, misalnya. Meski demikian saya tak menyangkal ada banyak orang TI yang juga sukses menangani bias ini. Saya kira setiap ahli di bidang tertentu bisa terkena bias kutukan pengetahuan ini.

Kekeliruan Tangan Panas

Bias “hot-hand fallacy” adalah keyakinan keliru seseorang yang mengalami kesuksesan dalam kejadian acak akan punya harapan lebih besar untuk sukses di usaha lainnya.

Saat seseorang pernah sukses memperoleh ratusan persen keuntungan di investasinya, memilih saham selanjutnya jadi terasa mudah. Padahal yang terjadi selanjutnya tidak selalu sama. Efek buruknya, ia jadi terobsesi ingin mencari keuntungan fenomenal yang sama. Padahal itu susah.

Begitu pula sebaliknya, yang pernah gagal di investasi, dia tak akan pernah berpikir bahwa saham punya peluang kesuksesan. Saya pantau sendiri ada banyak ahli keuangan, bankir, atau bahkan bos di pialang saham yang tak percaya saham dan justru memilih instrumen investasi lain sebagai kendaraan utamanya.

Anda dan saya pasti pernah terkena bias ini, bukan?

Bias Efek Bandwagon

Yaitu kecenderungan untuk melakukan (atau percaya) suatu hal karena banyak orang lain yang sama. Anda pasti ingat hal ini terkait dengan perilaku kawanan (herd behavior).

Ada banyak orang mengklaim punya investasi di saham X. Padahal jika dinalar secara rasional, fundamental keuangannya perusahaan X buruk sekali. Namun karena tahu ada banyak orang melakukannya, seseorang merasa dia di jalan yang benar dan aman. Di dunia investasi dan saham perilaku ini sangat kentara sekali.

Bias Konfirmasi, Bias Efek Bumerang, atau Bias Pengaruh yang Berkelanjutan

Bias konfirmasi adalah kecenderungan mencari informasi untuk mendukung keyakinannya. Bias efek bumerang adalah kecenderungan untuk ketidaknyamanan ketika menjumpai fakta yang berlawanan dengan hal dipercayainya. Bias terakhir adalah kecenderungan untuk percaya informasi yang salah sebelumnya dipelajari bahkan setelah itu telah diperbaiki.

Saya akan memberi contoh gabungan dari tiga bias ini: keyakinan seseorang bahwa semua perusahaan memanipulasi laporan keuangannya agar terlihat cantik dan performanya meningkat. Apalagi ditambah pengalaman orang tersebut selama ini ia berkarir di perusahaan buruk yang manajernya selalu mengejar kinerja palsu dan memalsukan angka-angka laporan keuangannya. Bukankah banyak kejadian seperti itu? Bahkan dalam bidang apa saja, tidak hanya keuangan, tapi juga konstruksi, teknologi informasi, makanan, retail, dst. Dengan mempunyai gabungan bias ini seseorang tak akan pernah percaya ada orang baik. Dia seakan-akan melihat dunia ini hanya diisi orang busuk dan culas.

Akibatnya fatal. Saya dengar langsung dari seorang kawan saat ia diskusi investasi saham tentang bias ini. Kawan itu bilang dia tak bisa percaya investasi saham karena bagaimana bisa percaya jika selama puluhan tahun ia bekerja dia hanya tahu laporan keuangan hanya manipulasi belaka. Semua angka bisa dipompa, ditiup, asal tidak meletus, yang penting semua melayang senang.

Tapi jika kita nalar, benarkah semua seperti itu? Percaya tidak percaya, Anda juga bisa terkena bias seperti kawan saya itu. Sekarang, benarkah yang terjadi demikian semua? Silakan tengok lingkungan usaha dengan jernih. Beberapa pola yang saya kira bisa merefleksikan perilaku tidak culas di perusahaan, misalnya: perusahaan yang tidak terlalu agresif, hati-hati, serta tidak mengejar keuntungan belaka. Pasti ada perusahaan seperti itu. Perlu diingat pula, tidak semua orang suka menghadapi masalah hukum di kemudian hari. Manipulasi, seperti berbohong, adalah kegiatan yang sangat melelahkan dan rawan stres. Ada orang yang berusaha menghindarinya dan lebih memilih hidup aman, nyaman—padahal dijalankan dengan cara itu semua bisa menguntungkan.

Bias Titik Buta (Blind Spot)

Nah setiap value investor, seperti saya, dan juga Anda, harus selalu diingatkan dengan bias ini. Bias ini adalah kecenderungan untuk melihat dirinya sendiri tidak bias. Nah, Anda juga kan? Jangan salahkan saya. Saya juga sering, kok. Bias ini tidak menghinggapi value investor saja sih. Bahkan siapa saja.

Bagaimana Menghadapi Bias Anda dan Saya?

Dan banyak sekali jenis bias yang mengkin menghinggapi pikiran saya, Anda, dan semua orang. Saya rasa sebagai manusia kita pasti pernah mengalami satu atau beberapa bias yang tertulis di halaman bias kognitif di Wikipedia.

Lalu bagaimana mungkin bisa berinvestasi dengan rasional dan nyaman jika beberapa bias ini justru mengganggu proses kegiatan investasi? Menurut saya, mau tak mau, beberapa bias utama yang mengganggu harus ditaklukkan.

Entah bagaimana caranya saya tak tahu. Kenyataannya, ada suatu titik tolak seseorang untuk mendapatkan kepercayaan atau mematahkan kekeliruan kepercayaannya. Masalahnya, menurut saya, titik tolak ini sangat berbeda-beda di setiap orang.

Beberapa bias ini pernah dibahas oleh Peter Lynch dan telah kami diskusikan di artikel 12 Pikiran Konyol dan Berbahaya Tentang Harga Saham. Silakan dibaca dan mari menertawakan polah pikiran kita sendiri yang sering konyol.

Saya rasa kunci umum untuk menghadapi bias adalah selalu berpikir terbuka. Jika masih menghadapi, tetap terbuka, selalu belajar ilmu baru, dan mengevaluasi diri setiap saat. Dengan cara itu kita akan selalu bisa menghadapi bias yang memang akan selalu hinggap di setiap pikiran manusia.