Posted on

PZZA — 28 Mei 2018

Pada 23 Mei 2018 lalu saham PT Sarimelati Kencana Tbk mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode PZZA. Perusahaan adalah pengelola restoran Pizza Hut. Apakah saham PZZA sesedap pizza mereka yang menggoda itu?

Analisa Saham PZZA Terbuka Untuk Publik

Analisa saham PZZA ini kami buka agar pembaca non-anggota bisa mengetahui bagaimana bentuk analisa ringkas emiten Bolasalju. Bila tidak tahu maka tak mungkin kenal. Jika tak kenal tak mungkin langganan.

Struktur analisa Bolasalju sejak April 2018 mirip seperti ini. Ringkas, padat, penuh data, serta dilengkapi analisa mendalam tentang bisnis, keuangan, laba, dan hal-hal yang menarik buat investor. Pembaca bisa mendapat referensi terbaik untuk membuat keputusan investasi yang rasional. Dari analisa-analisa saham yang punya harga menarik kami sajikan menjadi Ide Investasi Bolasalju. Analisa emiten lainnya bisa diakses dengan membeli Paket Keanggotaan Bolasalju.

Beli Paket Untuk Mengakses Ide Bolasalju

Beli Keanggotaan

Sekilas PZZA

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA, perusahaan) didirikan sejak 1987. Perusahaan yang merupakan bagian dari Grup Sriboga ini mempunyai hak waralaba restoran Pizza Hut di Indonesia. Perusahaan membangun dan mengoperasikan waralaba restoran cepat saji Pizza Hut dengan menu khas pizza, pasta, dan menu lainnya melalui restoran dan layanan pengiriman. Berdasarkan laporan Euromonitor PZZA merupakan jaringan resto pizza terbesar dengan pangsa pasar 86,6%. Perusahaan mengoperasikan 237 gerai restoran dan 156 layanan pengiriman di 28 provinsi di Indonesia.

Penawaran Saham PZZA

Situs perusahaan menyediakan informasi yang lengkap tentang penawaran saham ini termasuk prospektus dan laporan keuangan selama tiga tahun terakhir.

Komposisi Saham PZZA Pasca IPO, ESA, dan MESOP
Komposisi Saham PZZA Pasca IPO, ESA, dan MESOP

Setelah IPO PZZA juga akan menawarkan 10,4% saham miliknya dalam skema penawaran saham terbatas (private placement). Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp1.100 per lembar, maka PZZA diperkirakan meraup dana sebesar Rp973,75 miliar setelah dikurangi biaya emisi.

Rencana penggunaan dana IPO:

  • Sekitar 65% atau Rp632,94 miliar akan digunakan untuk meningkatkan belanja modal Perseroan. Dalam akuntansi artinya dana ini menambah ekuitas (jelas) dan menambah aset. Dalam laporan arus kas bisa beredar di wilayah arus kas operasional (minus), arus kas investasi (minus), dan pendanaan (plus, jelas).
  • Sekitar 35% atau Rp340,81 miliar akan digunakan untuk membayar utang. Dalam akuntansi dana ini akan menambah ekuitas (jelas) dan mengurangi liabilitas, posisi neraca tetap seimbang. Dalam laporan arus kas dana ini akan mempengaruhi pendanaan (plus dan minus).

Dengan komposisi perolehan dan pengguna dana seperti di atas, komposisi neraca PZZA pasca IPO diperkirakan sebagai berikut:

  • Aset: Rp2.126,94 miliar (2,12 triliun)
  • Liabilitas: Rp783,5 miliar
  • Ekuitas: Rp1.343,45 miliar (1,34 triliun)

Dilihat dari neraca, rencana IPO sepertinya tepat jika dilihat rasio DER sudah mencapai 3,04x. Setelah IPO keuangan PZZA makin baik dengan DER menjadi 0,58x. Secara umum rencana IPO ini masih bisa dikatakan masuk akal dengan rencana kerja yang nanti akan kita pelajari. Kebijakan dividen maksimal 50% dari laba.

Sekilas Kinerja Usaha PZZA

Menurut laporan Katadata, perusahaan akan menggunakan dana hasil IPO untuk ekspansi 100 gerai dalam dua tahun mendatang. Untuk membuka satu gerai Pizza Hut, perusahaan membutuhkan dana Rp 3 miliar sampai Rp 8 miliar. Sementara itu mengutip laporan terbaru dari merdeka, ekspansi sekitar 60 gerai yang terdiri dari 48 PHD, 8 gerai PHR (restoran), dan 4 gerai Pizza Hut Express Unit. Kebutuhkan dana Perseroan untuk menambah gerai baru kurang lebih Rp208 miliar. Saya menggunakan data dari merdeka karena bersifat lebih mutakhir dan konservatif.

Dari laporan keuangan per akhir Desember 2017, PZZA menghasilkan penjualan netto sebesar Rp3,02 triliun meningkat 12,06% dibanding periode sebelumnya Rp2,69 triliun. Total laba komprehensif yang dihasilkan sebesar Rp141,32 miliar naik 8,358% dibanding periode sebelumnya. Dua tahun sebelumnya pertumbuhan laba cukup besar, yaitu tercatat 109,5% dan 112,5%, jadi rata-rata pertumbuhan laba selama tiga tahun terakhir adalah 76,78%. Dua tahun terakhir PZZA menghasilkan margin laba bersih untuk 2017 dan 2016 masing-masing sebesar 4,67% dan 4,84%. Kinerja ini meningkat dibanding margin laba 2015 sebesar 2,46%. Same store sales cenderung fluktuatif untuk 2015, 2016, dan 2017 masing-masing 3,6%, 6,1%, dan 5,9%.

Mari bandingkan kinerja PZZA dengan jaringan restoran cepat saji KFC yang sahamnya berkode FAST. FAST meraih penjualan Rp5,3 triliun, lebih besar Rp2 triliun dibanding PZZA. Margin laba bruto PZZA sebesar 66,91% dibanding FAST sebesar 60,37%. Dari laporan terakhir, FAST memperoleh margin laba 3,15%, PZZA lebih baik. Dari pos labanya, saya pantau struktur pendapatan keduanya hampir mirip dengan PZZA meraih hasil sedikit lebih baik. Per tahun 2017 FAST mempunyai: DER 1,12x, FAST lebih bagus; rasio lancar 1,89x, FAST lebih bagus; rasio laba sebelum pajak dibanding beban bunga 8,94x, PZZA jauh lebih bagus.

Adanya dua perusahaan terkemuka di lini resto cepat saji akan makin menarik. Dari indikator yang tampak nyata, jaringan FAST dengan 628 gerai jelas sudah lebih mapan dibanding PZZA yang baru punya 237 restoran. PZZA tampak sedang berada di masa pertumbuhan dan upaya pendanaan dari IPO dan penawaran saham terbatas akan menyumbang pertumbuhan yang signifikan.

Bisnis resto pizza ini terlihat menguntungkan. Arus kas terlihat positif setiap tahun, dengan fluktuasi wajar. Struktur pendanaan restoran yang sudah mature tampak terlihat tidak terlalu mengkhawatirkan dan neracanya cukup kuat. Dalam tiga tahun terakhir, hanya terjadi sekali arus kas pendanaan positif, yang artinya keuangan perusahaan perlu dana dari luar untuk pembelian aset tetap seperti pada 2017. Dua tahun sebelumnya PZZA bisa membayar utang dalam jumlah cukup besar, atau arus kas untuk pendanaan negatif.

Struktur keuangan dari sisi DER, seperti dibahas di atas, memang sudah mendekati titik kritis bagi investor konservatif. Di satu sisi ini mengkhawatirkan, tapi dilihat dari cara lain ini adalah indikasi perusahaan sedang di masa pertumbuhan. Per tahun 2017 lalu, PZZA harus membayar biaya bunga sebesar Rp5,5 miliar dari utang bank Rp146,96 miliar dan utang jangka panjang sebesar Rp226,44 miliar.  Dibanding laba sebelum pajak sebesar Rp189,45 miliar, artinya perusahaan mampu membayar bunga dari labanya sebanyak 34,4x. Rasio ini sebenarnya sangat baik. Namun dilihat dari kecilnya beban bunga (3,7%) dibanding utang, saya kira utang bank di atas adalah utang-utang baru di akhir periode. Pos liabilitas yang besar itu merupakan utang usaha bersifat jangka pendek yang diperoleh perusahaan dari penyedia, vendor, atau induk usaha (Sriboga) sehingga beban keuangan cukup rendah.

Sisi Positif PZZA

  • Dari data tiga tahun terakhir ruang pertumbuhan terlihat masih lebar
  • Bahan dasar tepung dan pasta didapatkan dari perusahaan berelasi (Grup Sriboga) yang merupakan distributor tepung kedua setelah Bogasari (Indofood)
  • Pizza Hut memproduksi jenis pizza khas untuk selera Indonesia yang lebih gurih. Berbeda dengan pesaingnya yang berusaha menjaga rasa pizza asli yang lebih hambar.

Sisi Negatif PZZA

  • Pizza adalah makanan selera khusus menengah ke atas. Siklus ekonomi bakal mempengaruhi arah perusahaan
  • Bahan dasar tepung adalah bahan impor yang terpengaruh kurs dolar

Nilai Saham PZZA Pasca IPO

Semua valuasi di bawah ini menggunakan lembar saham pasca IPO. Jadi sudah menggambarkan saham PZZA yang diperdagangkan di bursa.


PZZA: Rp1,315 (25/5/2018)— dijual 28,4x laba—ekuitas pasca IPO Rp1.343,45 miliar—kapitalisasi pasar Rp4.013,5 miliar—harga wajar Rp629


Dengan jumlah 3,05 miliar lembar saham PZZA, ekuitas Rp1.343,45 miliar atau setara Rp440,17 per lembar saham, maka saham PZZA dijual setara 2,98x dibanding nilai ekuitasnya. Per akhir 2017 FAST mempunyai ekuitas Rp648 per saham; sahamnya dijual setara 2,34x dibanding nilai bukunya. Dari rasio ini PZZA jauh lebih mahal.

Perusahaan menghasilkan laba Rp141,32 miliar atau Rp46,3 per saham. Saham PZZA pasca IPO dijual setara 28,4x labanya. Dari rasio ini saham PZZA jauh lebih mahal dibanding FAST. Per 25/5/2018 saham FAST dijual di harga Rp1.520, atau setara 8,94x dibanding labanya. Tapi kalkulasi ini adalah laba PZZA sebelum adanya penambahan gerai. Setelah ada penambahan gerai akan kita bahas di bawah.

Hasil IPO akan meningkatkan kemampuan penjualan perusahaan ke depan. Fokus mengejar jaringan pengantaran (PHD) lebih banyak dibanding restoran (PHR) tampak masuk akal karena lebih minim modal. Di tahun ini PZZA akan punya paling tidak 204 PHD dan 245 PHR (restoran) dan sisanya Express (kami masukkan PHR). Jumlah ini setara dengan pertumbuhan jumlah gerai 12,86% untuk tahun ini saja. Kita akan pakai dua data sebagai dua skenario model pertumbuhan perusahaan ke depan.

Untuk menghitung pendapatan Pizza Hut pasca IPO, kami memakai asumsi ini:

  1. Rata-rata pendapatan per gerai kami kalkulasi sebesar Rp7,7 miliar/tahun;
  2. Tambahan 60 resto baru, maka total gerai PHR dan PHD dan Express di akhir tahun adalah 451 gerai;
  3. Faktor pertumbuhan 5% per gerai, ini sudah lebih konservatif dari hasil akhir tahun 5,9%;
  4. Asumsi gerai baru mulai berjalan setelah: September 2018 (Skenario A), dan Juli 2018 (Skenario B);
  5. Katakanlah kita pakai margin laba tengah 4,67% (laba 2016 yang cukup moderat).

Dari asumsi-asumsi tadi kita bisa sampai ke proyeksi pendapatan pasca IPO sebagai berikut:

Tabel 1: Proyeksi Kinerja PZZA Pasca IPO
Tabel 1: Proyeksi Kinerja PZZA Pasca IPO

Skenario A adalah asumsi konservatif yang menganggap gerai-gerai baru siap setelah September 2018. Asumsi B menganggap gerai siap Juli 2018, misalnya lokasi sudah siap pra-IPO dan tinggal pengembangan restoran/bangunan, misalnya untuk mengejar musim lebaran. Asumsi B kita pakai untuk telaah saja. Dengan Skenario A, saham PZZA saat ini dijual setara 25,9x laba proyeksi setelah gerai baru diluncurkan.

Tabel 2: Proyeksi Kinerja PZZA Pasca 2019
Tabel 2: Proyeksi Kinerja PZZA Pasca 2019

Bagaimana pasca masuknya pendanaan dari penawaran saham terbatas sebanyak 10% atau 314.275.000 lembar saham dari modal perusahaan nanti? Dana segar ini bakal memperkuat modal perusahaan dan bakal menunjang kinerjanya. Jika di tahun 2019 perusahaan bisa menambah jumlah gerai dengan skala dua kali lipat dari rencana IPO, kami proyeksikan PZZA bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp4.424,21 miliar dan menghasilkan laba sekitar Rp206,61 mililar atau Rp67,69 per lembar saham. Dibanding harga saham saat ini laba proyeksi 2019 sekitar 19,4x laba. Kalkulasi ini datang dari parameter yang tidak terlalu agresif, yaitu jumlah PHR sekitar 259 gerai dan PHD 262 gerai. Proyeksi total gerai PZZA di akhir 2019 sekitar 521 buah.

Dari valuasi ekuitas dan perbandingan labanya (earning multiple), saham PZZA sudah di atas batas yang bisa diakomodir investor konservatif.

Menggunakan model arus kas terdiskon sederhana 5 tahun untuk Skenario B dengan parameter: laba 52,39 per lembar saham, dengan asumsi pertumbuhan 15% YoY (masih lebih rendah dibanding rata-rata pertumbuhan tiga tahun), patokan laba multiple P/E 12x, dan tanpa dividen; kami kalkulasi harga wajar PZZA sebesar Rp629 per lembar (sudah lebih mahal 52,19%).

Kali ini kita pakai model arus kas yang diputar perusahaan untuk menghasilkan usahanya seperti kondisi tahun terakhir. Konsep kalkulasi ini saya dapat dari surat Buffett dan baru pertama kali Mei ini. (Meskipun saya masih mengevaluasi apakah cara seperti itu cukup fair) Model ini menghitung perputaran arus kas yang dihasilkan dan dibayarkan perusahaan untuk menjalankan usahanya, termasuk dari arus kas operasional, pembayaran waralaba, investasi aset tetap, serta termasuk biaya non-kas seperti penyusutan dan amortisasi. Alasan penyusutan masuk karena menurut Buffett, pada saatnya nanti perusahaan harus membayar biaya itu, maka biaya dihitung sekarang agar kalkulasi di masa depan juga relatif sama. Total arus kas yang harus diputar perusahaan untuk menjalankan usahanya seperti sekarang adalah sebesar Rp569,63 miliar atau Rp186,63 per saham. Saham PZZA dijual setara 7,04x dari putaran arus kasnya. Saya tak akan buat valuasi model ini karena sedang mengevaluasi bagaimana menerapkan yang lebih baik untuk memandang murah tidaknya perusahaan.

Saya kira saham PZZA masih terlalu mahal, baik dari valuasi sederhana atau dari perbandingan dengan pesaing.

Data Keuangan PZZA

Data Keuangan PZZA 2015-2017
Data Keuangan PZZA 2015-2017

Diedit oleh YW—Kredit gambar: Situs PT Sarimelati Kencana Tbk

Penulis tidak mempunyai saham PZZA saat tulisan ini disiapkan dan tidak berenca membeli saham hingga 72 jam ke depan. Anda tunduk pada Disclaimer.