Membaca Tanda di Sektor Pakan Ternak

Posted on

Industri pakan ternak sejatinya merupakan sektor yang tak lapuk di segala zaman. Ternak, khususnya ayam, merupakan makanan sumber protein yang selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Namun industri ini punya tanda-tanda yang menarik untuk diamati.

Disclaimer/penyangkalanSemua informasi yang terkandung di sini diperoleh oleh Bolasalju (Tim Riset Bolasalju) dari sumber-sumber yang dipercaya akurat dan dapat diandalkan. Namun, informasi tersebut disajikan “sebagaimana adanya,” tanpa jaminan apa pun, dan Bolasalju, khususnya, tidak membuat pernyataan atau jaminan, tersurat maupun tersirat, mengenai keakuratan, ketepatan waktu, atau kelengkapan informasi tersebut atau sehubungan dengan hasil yang akan diperoleh dari penggunaannya. Bolasalju memiliki kebijakan ketat yang melarang penggunaan informasi orang dalam. Semua ungkapan pendapat dapat berubah tanpa pemberitahuan, dan Bolasalju tidak berkewajiban memperbarui atau melengkapi laporan ini atau informasi apa pun yang terkandung di sini. Anda harus menganggap bahwa Bolasalju dan tim masuk ke dalam transaksi sekuritas yang dibahas dalam laporannya sebelum dan sesudah waktu yang ditetapkan Bolasalju untuk mengeluarkan laporan. Kinerja masa lampau tidak menjamin kinerja di masa depan. Ide dan rekomendasi tidak menjamin harga saham akan naik. Bolasalju tidak bertanggungjawab terhadap hasil investasi orang lain. 

Pembaca tunduk pada Disclaimer dan dianggap menyetujui pernyataan ini dan mengikat.

Hak Cipta 2019 Bolasalju (Arif R. Widianto)
Lisensi penggunaan materi ini adalah untuk perorangan atau pribadi pelanggan. Dilarang menyebarkan dokumen ini dalam bentuk apa pun, digital, cetak, presentasi, suara, melalui media apa pun.


Tanda Awal: Gejolak Biaya Produksi dari Pakan Ternak

Mengutip berita di Katadata berikut ini:

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) mengeluhkan bisnis peternak unggas rakyat mandiri terus merugi lantaran harga jual ayam tidak sebanding dengan biaya pokok produksi (BPP).

Wakil Sekretaris Jenderal I Pinsar Muhlis Wahyudi mengatakan tingginya biaya produksi peternak rakyat disebabkan harga jagung pakan mahal. Saat masa panen, harganya berada di kisaran Rp 4-4,3 ribu per kg. Namun, kenyataannya sekarang masih di kisaran Rp 7-7,5 ribu per kg.

“Kalau tidak ada tindakan apa-apa dari pemerintah dalam tiga minggu, kami bisa bangkrut,” kata Muhlis di Jakarta, Selasa (5/3).

Sumber: Katadata (arsip)

Ada beberapa berita lain dalam masa berbeda yang mengkonfirmasi laporan di atas. Perhatiannya, apakah hal itu merupakan keluhan sehari-hari pelaku industri atau tanda bahaya sungguhan?

Pertanyaan lanjutannya, komponen apa yang menyebabkan biaya tinggi tersebut? Jagung adalah bahan baku utama makanan ternak. Ada kebijakan pelarangan impor jagung selama 2017 dan harga jagung lokal meningkat sepanjang tahun itu. Akibatnya, sebagaimana diakui oleh Charoen, penyebab harga jagung lokal ini menekan margin laba kotor dari 19,09% pada 2016 menjadi 18,78% pada 2017. (Sumber: Laporan Tahunan CPIN 2017)

Sejarah Harga Jagung Dunia 10 Tahun Terakhir dan 2 Tahun Terakhir (NASDAQ)

Sebagai investor konservatif kita tak mungkin bisa meramal arah industri. Termasuk di dalamnya harga jagung dunia dan lokal. Jika menilik perkembangan harga jagung dunia, 2015 hingga sekarang adalah periode penurunan. Namun pemerintah sedang menganut kebijakan swasembada jagung yang berakibat kenaikan jagung. Ada ketimpangan, dan inilah yang membuat beban industri terasa tertekan, ada ketimpangan kebutuhan jagung industri dengan persediaan jagung lokal. Per Februari lalu kran impor telah dibuka kembali sejumlah 30 ribu ton (Sumber: Tempoarsip). Kebijakan impor dimaksudkan untuk memberi stimulan agar harga jagung bisa kembali normal.

Siklus Industri Pakan Ternak

Saat menengok industri pakan ternak, kita akan tahu bahwa sektor ini adalah tersiklus. Dari kinerja dua perusahaan terbesar, meski penjualannya selalu mengalami kenaikan tahun demi tahun, namun kinerja margin labanya terpantau naik turun, dengan 1-2 tahun mengalami pertumbuhan laba yang menarik.

Sejarah Margin Laba Kotor CPIN dan JPFA sebagai pemimpin industri

Indikator utama yang kami lihat adalah margin laba usaha dan margin laba bersih. (Catatan laporan tahun CPIN belum terbit hingga analisa ini diterbitkan).

Mari kita telaah data di atas. Merujuk ke kinerja JPFA, justru tahun 2018 adalah masa terbaik mereka, juga seperti terjadi pada 2016. Jika melihat CPIN, kita bisa pahami 2014-2017 sepertinya sangat tertekan. Dari dua data tadi, jika manajemen CPIN bisa meningkatkan kinerja lebih baik, mungkin mereka bisa memperoleh kenaikan margin 1-2%. Jika melihat JPFA, kinerja tahun ini adalah tolok ukur terbaiknya. Mengkombinasikan kedua hal ini, menurut hemat saya, tahun inilah kinerja puncak sektor industri. Apakah tahun depan bisa dicapai kinerja yang sepadan?

Kenaikan kinerja inilah yang telah dibayar oleh pemegang saham kedua perusahaan sehingga harga sahamnya meningkat pesat setahun terakhir.

Maka, untuk menilai apakah sektor ini sudah jenuh (dari sahamnya) atau tidak kita harus menengok ke data sejarah valuasinya. Apakah harga yang dibayar oleh pemegang saham sudah sepadan atau sesuai dengan kinerja perusahaan? Apakah potensi penurunan kinerja perusahaan ke depan, jika diantisipasi dari tekanan industri dan siklus, justru jadi ancaman terhadap kinerja sahamnya?

Valuasi Sudah Terlalu Tinggi

Harga saham emiten pakan ternak memang telah melonjak cukup pesat sepanjang akhir 2018 hingga awal 2019. Semua emiten, dari CPIN, JPFA, hingga MAIN.

Per hari ini 18 Maret 2019, harga saham di sektor ini sudah mengalami koreksi, seiring tekanan temporer di pasar saham. CPIN telah terkoreksi -8,72% sejak harga tertingginya Rp8.600 menjadi Rp7.850 saat laporan ini disiapkan. JPFA terkoreksi lebih besar lagi hingga -25,57%, sejak harga tertinggi Rp3.050 menjadi Rp2.270. Melihat penurunan ini, ada banyak analis yang menulis rekomendadi beli untuk sektor ini, terutama buat saham JPFA, karena mengantisipasi peluang untuk memperoleh kinerja terbaiknya lagi.

Saya tidak sepakat dengan rekomendasi analis-analis tadi.

Sejatinya saya akan menghindari peramalan. Karena itu memang bukan tujuan dan kami punya kepercayaan tidak menganut peramalan.

Apalagi melihat siklus ekonomi dan musim ke depan, bisa jadi ada kemungkinan kenaikan saham sektor ini mengantisipasi masa puasa dan idul fitri. Isunya saat itu konsumsi ayam naik. Kemungkinan saham bisa naik. Tapi bisa saja hal itu tidak terjadi. Namun, sekali lagi ini bukan perkiraan kami. Saya lebih nyaman tidak meramal, tapi mengantisipasi saja.

Sejarah valuasi saham CPIN dan JPFA 10  tahun terakhir
Sejarah valuasi saham CPIN dan JPFA 10 tahun terakhir

Menurut hemat saya, lebih baik melihat pandangan besarnya (big picture), dan kami melihat saat ini sektor pakan ternak telah mencapai puncak siklusnya dari kinerja sahamnya. Kemudian, saat disambungkan dengan masalah dan tantangan sektoral, kami melihat siklus ini sedang menghadapi masalah internal bahan baku produksi.

Selalu ada kemungkinan biaya bahan baku akan turun mengingat adanya perubahan kebijakan impor jagung. Hal itu mungkin bisa memperbaiki kinerja perusahaan. Kami mungkin salah bilang kali ini jenuh. Tapi tak ada salahnya berhati-hati dan konservatif, terutama saat valuasi pada periode mendekati puncaknya.

Kita juga paham sektor pakan ternak, apalagi dua perusahaan terbesar seperti CPIN dan JPFA hampir selalu dihargai premium oleh pasar. Kami pernah mencoba membuat analisa sektoral per Juni 2017 lalu (🔒untuk Anggota Premium). Kami merasa telah salah belum mampu membaca pertanda siklus sektor ini. Padahal ini termasuk sektor favorit saya. Kali ini saya belajar bahwa sektor ini memang terpampang siklus, baik siklus harga jagung, siklus industri, juga siklus ekonomi yang berpengaruh terhadap tingkat konsumsi protein masyarakat.

Kita tak mungkin berinvestasi di sektor ini dengan valuasi super rendah. Namun, jika melihat sejarah kinerja saham tahunan kedua perusahaan di atas, harga saham saat ini sudah terlalu mahal. Menurut saya kita bisa mencoba memanfaat peluang investasi saat saham JPFA berada di kisaran di bawah 2 kali nilai bukunya. Untuk CPIN, hal itu tentu lebih susah lagi.

Demikian, semoga bermanfaat.