Transaksi 12 Desember 2011

Saya tidak memantau layar transaksi beberapa hari, eh TRST meluncur turun lagi. Baiklah kita tambah. (Catatan: ternyata saya sudah melanggar rencana beberapa hari yang lalu untuk tidak masuk terlalu dalam. Itulah godaan besar bagi investor long term. Average down adalah godaan besar). Bahkan setelah saya off, harganya masih meluncur turun ke 390.

Lalu ada kesempatan menjual JTPE pada harga 290. Lumayan, langkah pragmatis ambil keuntungan. Langkah ini semoga menjadi langkah terakhir pada saham JTPE. Karena kenyataannya seluruh biaya untuk akuisisi saham JTPE sudah tergantikan dari hasil penjualan. Sisa 10 lot saham adalah hasil keuntungan, artinya seperti diperoleh tanpa biaya, bahkan masih menyisakan dana lebih.

Disclaimer: ini bukan saran untuk melakukan pembelian atau penjualan. Segala tindakan dan transaksi saham adalah tanggungjawab masing-masing.

TRANSAKSI

  • TRST: beli 5.000 saham pada harga Rp395,-
  • JTPE: jual 10.000 saham pada harga Rp290,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 5.000 saham diperoleh tanpa biaya (surplus) Rp31/15* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 8.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.268* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • TRST: 40.000 saham pada harga rata-rata Rp401,58/402* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 7 Desember 2011

Lanjutan dari TRST.

Disclaimer: ini bukan saran untuk melakukan pembelian atau penjualan. Segala tindakan dan transaksi saham adalah tanggungjawab masing-masing.

TRANSAKSI

  • TRST: beli 10.000 saham pada harga Rp400,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp183/188* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 8.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.268* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • TRST: 35.000 saham pada harga rata-rata Rp402,5/403* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 6 Desember 2011

Saya memutuskan melepas sedikit saham Jasuindo Tiga Perkasa (JTPE). Kenapa saya melepas JTPE? Padahal komposisi portfolio masih jauh dari rencana. Alasannya karena ingin mengambil sedikit keuntungan, dan tentu saja untuk menambah kas. Harga JTPE memang masih jauh dari harga wajarnya pada 310-an, ini menurut versi saya. Tapi nanti saya akan membelinya lagi bila turun. Semoga saja masih ada kesempatan.

Sebagian dana dari penjualan-penjualan ini saya manfaatkan untuk menambah saham Trias Sentosa (TRST). Kenapa saya melangkah fokus ke TRST, ada beberapa hal yang ada dalam pikiran saya saat itu:

  1. Saya merasa ini pilihan yang tepat, saya nyaman dengan keputusan ini menambah saham Trias. Kenapa saya nyamana? Karena saham ini masih sangat murah. Padahal fundamental perusahaan terbukti baik selama 2-3 tahun ini. Karena perusahaan juga terbukti membukukan profit dan kenaikannya konsisten.
  2. Beberapa pemain besar tampaknya mengkoleksi saham ini. Tapi ini hanya tebakan saya. Fasilitas software di broker saya juga kurang begitu lengkap, tapi saya tidak mempermasalahkan ini. Saya bisa melihat beberapa pemain besar akumulasi pembelian saham ini. Adalah fakta bahwa beberapa hari terakhir saham TRST bergerak stagnan di angka 395-405 dengan volume yang besar. Mungkin saya bisa masuk dan memanfaatkan untuk Safe Average Down, bila nanti harganya bergerak ke atas sedikit.
  3. Dari pengamatan saya, ketakutan akan bahaya kejatuhan bursa memang besar. Hal ini terlihat dari beberapa saham blue chip dan terkenal, mereka tentu saja saham-saham yang overvalued (bahkan sangat mahal), belakangan sudah menunjukkan penurunan (lihat INDF, CPIN–yang menurut saya kemahalan). Tapi beberapa saham berfundamental bagus yang masih murah ada yang naik, lihat SMSM, LSIP, PGAS. Namun kita tak harus terlalu memperhatikan masalah harga. Yang perlu kita pedulikan adalah bagaimana posisi margin of safety. Saya akan membeli saham yang masih punya margin besar, minimal 30%, dan dengan potensi fundamental bagus.

Dari beberapa pemikiran tersebut tampaknya pilihan ke saham Trias Sentosa cukup bagus. Lagi pula komposisi untuk saham Trias masih jauh dari rencana portfolio saya. Kita lihat saja beberapa hari ke depan.

Disclaimer: ini bukan saran untuk melakukan pembelian atau penjualan. Segala tindakan dan transaksi saham adalah tanggungjawab masing-masing.

TRANSAKSI

  • TRST: beli 17.500 saham pada harga Rp400,-
  • JTPE: jual 10.000 saham pada harga Rp260,-
  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.230,-
  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.250,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp183/188* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 8.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.268* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • TRST: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp403,5/404* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 28 November 2011

Rencana memegang sebagian sisa SMSM untuk waktu agak lama akhirnya berantakan. Hari ini saya kena serangan berubah pikiran karena terlalu lama memantau layar transaksi, dan mungkin terlalu banyak baca forum gosip saham, akhirnya jadi ingin melepas salah satu saham favorit ini. Pikiran penjualan lebih banyak ini hanya karena ambisi untuk mendapat saham SMSM lebih murah di masa yang akan datang, jadi akhirnya melepas saham yang telah ada. Ambisi, keserakahan, pikiran pendek adalah penyakit investor. Oh, kenapa saya bisa menjualnya pada harga rendah ini, saya juga menyesalinya. Sebabnya belakangan SMSM naik pesat bahkan mencapai 1400. Saya membukukan kerugian untuk transaksi ini. Ya, meski kerugian tersebut telah digantikan oleh dividen, tapi tetap saja rugi rasanya kurang enak.

Kali ini saya menambah TRST, dan ini adalah langkah yang benar. Saya juga menjaga komposisi pembelian agar tidak terlalu banyak, yakni 5 lot saja. Inginnya saya akan meningkatkan volume saham ini sedikit demi sedikit. Juga mungkin memanfaatkan sisa alokasi lot untuk penurunan harga rata-rata melalui safe average down.

TRANSAKSI

  • SMSM: jual 1.000 saham pada harga Rp1.270,-
  • TRST: beli 2.500 saham pada harga Rp405,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp1.259/1.264* per saham
  • PGAS: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.625/2.702* per saham
  • SMSM: 6.500 saham pada harga rata-rata Rp1.272,69/1.280* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.187,5/2.192* per saham
  • TRST: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp411,67/412* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 23 November 2011

Saya malu untuk mengaku bahwa saya perlu meralat sebuah keputusan dalam beberapa hari sebelumnya. Saya tidak meragukan Selamat Sempurna Tbk (SMSM), secara fundamental seluruh faktor dari perusahaan ini bagus. Sayangnya harga yang saya bayar saat saya masuk memang tinggi, meski dengan faktor margin of safety 30%. Apalagi ketika turun ke 1270-an ini, jaring pengamannya makin lebar. Makin aman. Tapi saya memerlukan uang kas untuk persiapan ke depan. Entah mempersiapkan apa, saya tidak tahu. Saya menjual 8 lot saham SMSM untuk hal ini. Karena menjual 2 lot di harga yang sama, saya hanya rugi biaya transaksi jual/beli. Untuk 6 lot lainnya terjadi realisasi kerugian kapital hingga Rp150.000, tapi kerugian ini akan tergantikan karena saya mendapatkan dividen SMSM cum-dividen pada 17 November lalu. Saya punya rencana memegang SMSM dalam kisaran 10-20 lot. Bila saatnya tepat dan harga sudah menarik, saya akan menambah SMSM lagi di harga yang lebih rendah. Bila tidak turun, biarkan ini jadi takdir investasi saya di SMSM, saya toh masih memegang 15 lot.

Pada hari ini saya mengucapkan selamat datang kembali pada Trias Sentosa Tbk (TRST). Setelah melepasnya pada harga 425 sebulan yang lalu (untung 10 rupiah dari harga masuk 415), kemudian tidak bisa mengambilnya karena harga TRST sudah melambung tinggi. Pada hari ini saham TRST menukik tajam hingga saya bisa membelinya lagi pada 415. Selamat datang produsen plastik film untuk kemasan makanan dan industri ini. Saya suka perusahaan ini. Setelah sekian lama meriset perusahaan ini lagi, saya menyesal telah melepasnya pada saat itu. Bahkan diantara kompetitornya yang masuk bursa, seperti Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) dan Indopoly Swakarya Industry (POLY), pertumbuhan usaha Trias terlihat lebih menarik. Dalam evaluasi terbaru saya, laba bersih terlihat tumbuh 80,39% antara Q3 2010 dan Q3 2011, harga wajar saham pun terlihat menarik pada 730-an atau margin of safety 73%. Kita tunggu saja di kuartal keempat, dari laporan tahunan 2010 margin of safety malah sampai 112%. Kalau harga sahamnya turun lebih dalam lagi, tentu dengan gembira saya akan menyambutnya.

TRANSAKSI

  • SMSM: jual 4.000 saham pada harga Rp1.270,-
  • TRST: beli 5.000 saham pada harga Rp415,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 2.000 saham pada harga rata-rata Rp2.812,5/2.825* per saham
  • SMSM: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.265,33/1.271* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.187,5/2.192* per saham
  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415/416* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Strategi Safe Average Down

Setelah mengetahui strategi average down, kali ini kita coba membahas pengembangan strategi ini, yaitu strategi safe average down. Kata kunci dalam strategi ini adalah safe, yaitu faktor keselamatan atau keamanan dalam langkah investasi kita. Kaidah keamanan ini penting agar investasi kita mempunyai risiko lebih rendah. Tapi bagaimana keamanan ini bisa dicapai? Padahal kita menghadapi keadaan yang sama, yaitu volatilitas harga saham yang dinamis, kondisi makro ekonomi global yang masih amburadul, ancaman crash bursa yang masih bisa terjadi. Bagaimana kita bisa meminimalkan risiko?

Jawabannya, sama seperti seperti average down, penurunan risiko adalah dengan menurunkan harga rata-rata pembelian saham. Dengan sedikit variasi dalam operasi transaksi saham, ternyata ada peluang bisa menurunkan harga rata-rata, tapi juga tidak menambah volume portfolio. Inilah yang saya sebut safe average down. Berikut penjelasan strategi ini termasuk risiko dan tantangannya.
Lanjut membaca

Transaksi 6 Oktober 2011

Transaksi ini bertujuan untuk menurunkan harga rata-rata portfolio. Penjualan dilakukan untuk menetralisir posisi portfolio, dengan mengambil keuntungan jangka pendek dan menjaga ketersediaan kas. Jadi tidak ada penjualan saham-saham di bawah ini yang dijual lebih murah dari harga awalnya, meski kalau dilihat dari harga rata-rata tentu banyak yang lebih murah. Misal saya membeli ADMF pada 9500, saya menjualnya pada harga 9800, masih untung Rp300. Keputusan melangkah dalam jangka pendek ini berhubungan dengan strategi safe average down, yang teorinya akan saya sampaikan dalam tulisan lain. Keputusan ini tentu saja bisa berujung pada kesalahan, terutama bila saham-saham bergerak naik dan saya tidak dapat masuk lagi. Tapi kita tidak tahu masa depan. Situasi pasar juga masih diwarnai aroma bearish. Kondisi ekonomi global terdengar makin mengkhawatirkan. Kenaikan seringkali diikuti penurunan dan sebaliknya.

Pada transaksi kali ini saya juga keluar dari TRST. Sebenarnya ini perusahaan bagus, fundamental dan bisnisnya cukup cerah dengan growth yang mantap. Tapi saya butuh kas. Saya tentu akan berusaha masuk lagi bila saham TRST menuju harga yang lebih menarik lagi dibanding harga 415 ketika saya masuk pada 27 Juni 2011 lalu. Tapi kita lihat saja situasi yang akan datang.

TRANSAKSI

  • ADMF: jual 500 saham pada harga Rp9800 per saham
  • ARNA: jual 5.000 saham pada harga Rp290 per saham
  • JTPE: jual 5.000 saham pada harga Rp200 per saham
  • JTPE: jual 25.000 saham pada harga Rp205 per saham
  • LSIP: jual 500 saham pada harga Rp1820 per saham
  • LSIP: jual 500 saham pada harga Rp1820 per saham
  • PANS: jual 3.000 saham pada harga Rp1110 per saham
  • TRST: jual 5.000 saham pada harga Rp425 per saham

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 35.000 saham pada harga rata-rata Rp333,32/334* per saham
  • ADHI: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp652,5/656* per saham
  • *(Lihat catatan di halaman portfolio untuk emiten ini)
  • JTPE: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp196/198* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp10.400/10.445* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.256/1.262* per saham
  • LSIP: 2.000 saham pada harga rata-rata Rp1.837/1.843* per saham

Catatan: *harga rata-rata adalah harga rata-rata asli dan harga rata-rata dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.

Transaksi 8 Agustus 2011

Bursa dunia terguncang. Aksi jual dan kepanikan menyebabkan hampir seluruh indeks bursa saham di berbagai penjuru dunia merah berdarah selama dua hari terakhir. Apakah ini awal dari sebuah resesi? Saya tidak tahu. Apakah ini gejala sesaat? Saya juga kurang jelas. Apakah ada orang yang bisa meramalkan hal-hal baik nanti? Ataukah mereka yang meramalkan hal buruk itu benar? Saya juga buta tentang hal ini.

Yang jelas tidak ada seorang pun yang akan tahu nasib kita di depan. Saya yakin seorang Gubernur Bank Sentral pun tidak akan tahu apa besok bursa akan anjlok atau naik. Itulah pakem dasar yang kita percaya. Lalu bagaimana kita bersikap? Di tengah segala kebingungan, ada satu metode operasi investasi yang sederhana: cari perusahaan yang bagus, perusahaan yang pertumbuhan stabil dan menjanjikan, yang harganya masih di bawah harga wajar. Bila kita percayai ini semua, kita bisa melangkah tanpa peduli kekhawatiran. Itulah selama ini yang selalu kita laksanakan, bukan?

Hari ini pun saya menggunakan landasan operasi investasi di atas dalam mengevaluasi portfolio investasi, termasuk pembelian pada hari ini.

Lanjut membaca

Evaluasi Kinerja Emiten Portfolio BolaSalju.com Triwulan ke-2 2011

Beberapa hari ini adalah masa pengumuman laporan keuangan perusahaan-perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pada Jumat, 29 Juli 2011 lalu saja dari enam emiten ada tiga emiten yang sudah melaporkan laporan keuangan triwulan keduanya. Mereka adalah (urut berdasarkan waktu pengumuman) ADHI, ARNA, TRST, FORU, dan BRNA. Hanya AISA yang belum melaporkan. Berikut rangkuman kinerja emiten-emiten tersebut.

Baca selengkapnya untuk melihat ringkasan kinerja masing-masing emiten.

Lanjut membaca

Transaksi 27 Juni 2011

Karena kesibukan saya belum sempat memuat catatan transaksi saham pada 27 Juni yang lalu. Seperti sudah menjadi niat awal pendirian blog ini, saya akan mencatat seluruh transaksi yang saya lakukan dalam sejarah investasi saya, termasuk jumlah keuntungan dan kerugian. Seyogyanya setiap investor punya catatan pribadi untuk setiap transaksi saham mereka. Setiap pembelian, penjualan, juga alasan dibalik terjadinya transaksi-transaksi. Semua seyogyanya harus dicatatat. Hal ini saya lakukan di blog ini agar saya bisa belajar dan juga mudah-mudahan berguna untuk orang lain. Pencatatan ini tidak dimaksudkan agar orang lain meniru langkah investasi saya. Setiap pembaca blog tunduk pada Disclaimer blog ini. Pencatan ini dilakukan agar bila ada kesalahan perhitungan, kesalahan langkah, atau kesalahan konyol, saya bisa belajar dan memperbaikinya di masa mendatang. Terbukti catatan-catatan ini selalu berguna.

Transaksi pada hari ini terjadi karena ada dana hasil penjualan dari transaksi sebelumnya. Karena sudah ada dua kandidat perusahaan baru yang bisa dikoleksi, akhirnya saya memulainya sejak hari ini. Dua saham baru itu adalah perusahaan PT Fortune Indonesia Tbk (FORU, Reuters) dan PT Trias Sentosa Tbk (TRST, Reuters).

FORU adalah sebuah perusahaan periklanan berbasis di Jakarta, sudah 40 tahun perusahaan ini berdiri, tapi baru go public sepuluh tahun lalu. Sejarah kinerjanya bagus. Profitabilitasnya lumayan cerah. Daftar kliennya mantap. Harganya pun, menurut saya terbilang masih murah, punya margin of safety lumayan yaitu sekitar 44%. Sebenarnya perusahaan ini sudah masuk dalam pantauan saya ketika dalam periode belajar setahun sebelum saya masuk investasi saham. Saat ini kondisi FORU adaah P/E masih rendah, komitmen dividen bagus, potensi pertumbuhan bagus, dan harga masih masuk dalam kewajaran. Ketika melihat kondisinya masih bagus dan meyakinkan, akhirnya saya memantapkan untuk melangkah koleksi saham ini.

Sementara itu, saya tahu TRST karena sering melihat kantornya ketika naik bus dari terminal bus Bungurasih menuju bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Kantor (atau pabrik) perusahaan ini selalu terlewati, letaknya di kiri jalan. Saya ingat perusahaan ini berdiri lama di situ. Pada perjalanan terakhir di Surabaya saya sempat menengok namanya, lalu ketika tahu ia perusahaan terbuka, saya cek namanya dan menelusuri lebih jauh. Ternyata bisnis perusahaan ini tidak jauh dari CLPI, yaitu produksi flexible packaging film, bedanya CLPI dalam distribusi. Pasar produk TRST kemungkinan masih bagus, khususnya untuk industri makanan dan rokok. Apakah perusahaan ini ada afiliasi dengan CLPI, saya tidak bisa mengkonfirmasinya saat ini. Tapi salah seorang komisarisnya ternyata menjadi komisaris di CLPI. Komitmen dividen sama dengan CLPI. Harganya meski sudah naik 200-an poin sejak pertama saya melihatnya (dulu pada kisaran 285-an), tapi saya kira masih punya potensi tumbuh dengan margin of safety 39%.

Portfolio saya tampaknya sudah terdiversikasi, ada perusahaan materi dasar, periklanan, keramik, dan distribusi farmasi.

Transaksi

  • ARNA: beli 10.000 saham pada harga Rp350, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp3.507.000
  • FORU: beli 5.000 saham pada harga Rp122, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp611.220
  • FORU: beli 5.000 saham pada harga Rp123, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp616.230
  • FORU: beli 10.000 saham pada harga Rp124, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp1.242.480
  • TRST: beli 5.000 saham pada harga Rp415, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp2.079.150

Portfolio Saham

  • CLPI : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 375 per saham
  • EPMT : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 816 per saham
  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA : 35.000 saham pada harga rata-rata Rp 353 per saham
  • FORU: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp123 per saham