Transaksi 2 Desember 2011

Inilah lanjutan aksi jual-jualan. Hanya kesamber 1 lot saja.

TRANSAKSI

  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.260,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 9.500 saham pada harga rata-rata Rp1.258/1.264* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • TRST: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp411,67/412* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 30 November 2011

Akhirnya saya mendapatkan pengganti saham PANS yang secara konyol saya jual kemarin, pada harga yang lebih murah pula. Beruntung lah saya jadi tidak rugi.

Perlu dicatat, saya memegang 1 lot perusahaan-perusahaan yang saya anggap sudah terkenal (seperti SMSM, LSIP, dan ADMF) adalah sebuah satu cara untuk memantau pergerakan harga saham tersebut, menciptakan ikatan kepemilikan, dan yang paling penting adalah cara untuk mendapat akses mengikut RUPS.

TRANSAKSI

  • PANS: beli 500 saham pada harga Rp1.210,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp1.258/1.264* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • TRST: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp411,67/412* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 29 November 2011

Hari ini penyakit jualan saya kambuh lagi. Tapi saya punya pemikiran lain tentang hal ini.

Mulai hari ini saya ingin kembali menekankan fokus portfolio pada saham lapis kedua sementara fokus pada saham besar (blue chip) akan diturunkan. Tapi saya belum matang tentang rencana ini, apakah perbandingannya saham besar vs lapis kedua nanti akan 30:70, atau 40:60, saya belum pas keputusannya. Yang penting saham lapis kedua harus lebih besar. Rencana ini penting karena dalam satu tahun ini saya bisa menaikkan aset secara signifikan dari saham lapis kedua, seperti CLPI. Saya memantapkan keputusan ini sejalan dengan pemikiran saya sejak lama bahwa saham lapis kedua mempunyai peluang kenaikan lebih besar dari sisi profitabilitas, meski risikonya juga tinggi. Tidak hanya Lo Kheng Hong yang menginspirasi saya. Lynch mengatakan hal serupa di buku One Up on Wall Street, meski tidak secara langsung. Ia mengatakan bahwa untuk saham-saham matured, seperti perusahaan blue chip, ia akan memegang dan memanfaatkan mereka untuk mendapatkan dividen dan kenaikan yang stabil. Sementara untuk mendapatkan peluang keuntungan signifikan, saham lapis kedua adalah tempatnya. Buffett juga mengatakan hal demikian, tapi ini terjemahan saya saja, dia bilang di pasar saham yang semakin tidak logis itulah tempat mendapatkan keuntungan besar. Intinya, kalau setuju dengan pemikiran ini, untuk mencapai hal ini kita harus hati-hati dalam memilih saham-saham tersebut.

Dari daftar portfolio yang masuk radar saya, saya cukup puas dengan saham perusahaan lapis kedua yang ada di portfolio saya. Sebut saja (dari awal saya kenal): ARNA, JTPE, TRST, PANS dan SMSM. Mereka adalah perusahaan-perusahaan bagus yang manajemennya telah menghasilkan pertumbuhan signifikan, secara stabil, dan juga ramah kepada pemegang saham. LSIP dan ADMF memang tidak masuk daftar LQ 45, tapi saya menganggap perusahaan ini adalah kategori besar dan sudah dikenal, banyak analis membahas saham ini. Semakin banyak analis membahas sebuah perusahaan, peluang mendapatkan keuangan besar mungkin berkurang, sebabnya sudah banyak investor yang memegang saham itu karena mengikuti saran dari para analis. Peluang terbaik adalah saham-saham yang dilupakan analis. Sebenarnya SMSM juga sudah banyak yang membahas, tapi saya menilai peluang keuntungan dari saham  ini masih ada peluang keuntungan yang banyak dari dividen dan pertumbuhannya.

Dalam rangka mencapai itu semua, saya memutuskan untuk keluar sejenak dari saham-saham yang saya anggap sudah terkenal. Saya punya rencana memanfaatkan kas untuk transaksi di masa yang akan datang, dan mengubah sedikit komposisi portfolio. Saya pasti akan masuk lagi di SMSM bila harganya cukup memadai lagi. Saya juga akan masuk di PGAS lebih banyak bila harganya jauh lebih murah lagi. Saya juga pasti akan masuk lagi di LSIP, karena ini saham favorit saya. Tapi hari ini saya menjual mereka semua.

Satu hal konyol terjadi, saya melepas 1 lot saham PANS di harga 1220 hari ini. Besok saya rencana mendapatkannya lagi di harga yang lebih masuk akal. Pendapat saya tentang PANS tidak berubah. Pertumbuhan Panin Sekuritas kemungkinan akan terhambat karena risiko pasar saham global yang masih bergejolak. Dalam evaluasi portfolio, terlihat pada kuartal ke-3 laba bersih saham ini menurun sebanyak -37%. Dari evaluasi lebih jauh, penurunan ini terjadi karena pada saat laporan akhir September itu, kondisi pasar saham sedang parah. Otomatis nilai aset Panin pasti akan jeblok. Hal ini masuk akal. Dari Laporan Keuangan kita dapat angka unrealized gain dari saham menurun 67M, sementara itu lini usaha manajemen investasi (reksadana) naik 46M. Wajar saja nilai penjualan mereka turun. Yang penting profil usaha perusahaan masih bagus. Saya tidak khawatir memegang saham ini, tapi ada pemikiran juga untuk menurunkan portfolio untuk menjaga peluang keuntungan lebih banyak di masa mendatang. Entahlah.

TRANSAKSI

  • LSIP: jual 500 saham pada harga Rp2.350,- (untung Rp150 per saham)
  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.220,- (rugi 40 poin)
  • PGAS: jual 500 saham pada harga Rp3.000,- (untung 175-an per saham)
  • SMSM: jual 1.500 saham pada harga Rp1.310,- (impas)
  • SMSM: jual 4.500 saham pada harga Rp1.330,- (untung 10 poin)

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 9.500 saham pada harga rata-rata Rp1.261/1.267* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • TRST: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp411,67/412* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 27 Oktober 2011

Transaksi ini untuk menambah komposisi PANS dalam portfolio. Kenapa saya tidak menunggu harganya turun? P/E saham ini sangat rendah, sekitar 5x. Profitabilitas perusahaan juga sangat menjanjikan. Satu hal yang masih kurang enak adalah industri perusahaan, yaitu industri saham, sedang siaga menghadapi berbagai peluang terjadinya krisis. Tapi melihat kinerja perusahaan pada 2008/2009 saat terjadi krisis, terbukti perusahaan masih tahan menghadapinya dan membukukan keuntungan. Karena harga wajarnya saya percaya juag sangat menjanjikan, maka saya masih menjadikan saham ini sebagai prioritas dalam komposisi portfolio, yaitu sekitar 20 lot (10.000 saham).

Pada hari itu saya mengubah persepsi saya untuk kembali ke jalan yang benar, yaitu berinvestasi sebagai long term. Tapi saya tetap pada pendirian saya bahwa strategi seperti safe average down itu penting, sebagai strategi jangka menghadapi fluktuasi pasar, namun intinya adalah long term. Maka saya merasa memantau harian itu tidak penting. Bila menelaaah sejarah pembelian saya selama tiga bulan terakhir, terbukti saya pernah membeli di harga-harga fantastis, sangat murah. Tapi karena kecenderungan transaksi jangka pendek, maka beberapa saham murah tersebut akhirnya dilepas lagi. Tidak ada gunanya transaksi jangka pendek, kalau ternyata saham incaran kita akhirnya masih tetap meroket. Saya merasa transaksi mingguan saja sudah cukup untuk menyiasati komposisi saham kita dan menghadapi fluktuasi harga saham.

Mulai hari ini, 27 Oktober, saya akhirnya memutuskan untuk melengkapi portfolio saya disesuai dengan rencana komposisi portfolio. Misal untuk saham PGAS, saya punya rencana memegang 5 lot, saya sudah melengkapinya kemarin. PANS saya melengkapinya hari ini.

Selain itu, saya menggunakan sisa dana untuk mengkoleksi sebuah saham baru yang prospektif, yaitu saham perusahaan PT Selamat Sempurna, Tbk (SMSM). Ini adalah sebuah perusahaan produsen suku cadang otomotif khususnya, filter, radiator dan piranti knalpot. Pasar perusahaan ini lokal dan ekspor (75%, termasuk ke Eropa, Australia dan Amerika Serikat), sisanya diserap lokal. Perusahaan mempunyai kerjasama dengan beberapa perusahaan Jepang untuk asistensi teknologi. Perusahaan mempunyai pertumbuhaan bagus, profitabilitasnya tinggi, ROE-nya juga tinggi, dan rasio hutang tidak besar. Terbukti selama tiga tahun ini perusahaan mampu menjaga stabilitas pertumbuhan. Perusahaan juga sangat apresiatif terhadap investor, bahkan dalam dua tahun terakhir dividen dibagikan dalam tiga tahap. Sangat menarik. Bagaimana harga wajarnya? Kalau berdasarkan laporan tahunan 2010, harga wajarnya bertengger di sekitar RP1430 atau pada harga saham Rp1320, margin of safetynya adalah sekitar 8%. Namun perusahaan ini tumbuh fantastis, pendapatan tiga kuartal tahun ini membukukan peningkatan 45% (dari 71 menuju 103 per saham). Sangat menarik. Dengan menggunakan data terakhir ini, dengan metode twelve trailing month (TTM), harga wajarnya tumbuh menjadi Rp1.820-an, atau mempunyai margin of safety 38%. Dan satu lagi… perusahaan akan membagikan dividen sebanyak Rp50 pada 1 Desember 2011 nanti, cum-date adalah 17 November 2011 ini. Saat yang tepat untuk memiliki saham ini.

TRANSAKSI

  • PANS: beli 1.500 saham pada harga Rp1.250,-
  • PANS: beli 1.000 saham pada harga Rp1.260,-
  • SMSM: beli 5.000 saham pada harga Rp1.320,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp275,5/280* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp193/196* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.800/10.921* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp2.716,67/2.727* per saham
  • SMSM: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp1.320/1.323* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 21 Oktober 2011

Beberapa transaksi untuk menambah posisi PANS dan PGAS. Untuk PGAS, hal ini juga sebagai ganti dari kesalahan karena penjualan sebelumnya. Rencananya saya akan memegang 5 lot saham dalam portfolio.

Untuk ARNA, saya telah melakukan kalkulasi baru yang dihitung dari seluruh rekap transaksi saham ARNA sejak awal masuk portfolio. Hasil input ulang ini saya harap bisa secara jelas menunjukkan posisi harga rata-rata yang benar. Ternyata benar, harga rata-rata saham ARNA aslinya jauh lebih rendah, yaitu pada Rp275,5 atau Rp280 bila memperhitungkan biaya komisi pembelian/penjualan. Terlihat portfolio saya masih atraktif.

TRANSAKSI

  • PGAS: beli 500 saham pada harga Rp2.875,-
  • PANS: beli 500 saham pada harga Rp1.180,-
  • ARNA: jual 5.000 saham pada harga Rp340,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp275,5/280* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp193/196* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.800/10.921* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.687,5/2.700* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Strategi Safe Average Down

Setelah mengetahui strategi average down, kali ini kita coba membahas pengembangan strategi ini, yaitu strategi safe average down. Kata kunci dalam strategi ini adalah safe, yaitu faktor keselamatan atau keamanan dalam langkah investasi kita. Kaidah keamanan ini penting agar investasi kita mempunyai risiko lebih rendah. Tapi bagaimana keamanan ini bisa dicapai? Padahal kita menghadapi keadaan yang sama, yaitu volatilitas harga saham yang dinamis, kondisi makro ekonomi global yang masih amburadul, ancaman crash bursa yang masih bisa terjadi. Bagaimana kita bisa meminimalkan risiko?

Jawabannya, sama seperti seperti average down, penurunan risiko adalah dengan menurunkan harga rata-rata pembelian saham. Dengan sedikit variasi dalam operasi transaksi saham, ternyata ada peluang bisa menurunkan harga rata-rata, tapi juga tidak menambah volume portfolio. Inilah yang saya sebut safe average down. Berikut penjelasan strategi ini termasuk risiko dan tantangannya.
Lanjut membaca

Transaksi 10 Oktober 2011

Transaksi hari ini adalah untuk melepaskan LSIP dari portfolio sehubungan dengan diketahuinya kesalahan kalkulasi yang saya lakukan. Saya juga mengurangi kembali portfolio ARNA agar tidak terlalu gemuk. PANS juga dikurangi 1 lot untuk mengembalikan portfolio awal sejumlah 14 lot. Sejauh ini semua penjualan membukukan keuntungan, meskipun presentasenya sedikit. Yang penting tidak ada yang rugi, dan berhasil menurunkan rata-rata harga beli. Semua penjualan ini dilakukan setelah dilakukan analisa mendalam, terutama menindaklanjuti strategi average down.

TRANSAKSI

  • ARNA: jual 5.000 saham pada harga Rp300 per saham
  • LSIP: jual 2.000 saham pada harga Rp1.860 per saham
  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.120 per saham

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 30.000 saham pada harga rata-rata Rp338,87/340* per saham
  • ADHI: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp652,5/656* per saham
  • *(Lihat catatan di halaman portfolio untuk emiten ini)
  • JTPE: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp196/198* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp10.400/10.445* per saham
  • PANS: 7.000 saham pada harga rata-rata Rp1.266/1.273* per saham

Catatan: *harga rata-rata adalah harga rata-rata asli dan harga rata-rata dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.

Transaksi 6 Oktober 2011

Transaksi ini bertujuan untuk menurunkan harga rata-rata portfolio. Penjualan dilakukan untuk menetralisir posisi portfolio, dengan mengambil keuntungan jangka pendek dan menjaga ketersediaan kas. Jadi tidak ada penjualan saham-saham di bawah ini yang dijual lebih murah dari harga awalnya, meski kalau dilihat dari harga rata-rata tentu banyak yang lebih murah. Misal saya membeli ADMF pada 9500, saya menjualnya pada harga 9800, masih untung Rp300. Keputusan melangkah dalam jangka pendek ini berhubungan dengan strategi safe average down, yang teorinya akan saya sampaikan dalam tulisan lain. Keputusan ini tentu saja bisa berujung pada kesalahan, terutama bila saham-saham bergerak naik dan saya tidak dapat masuk lagi. Tapi kita tidak tahu masa depan. Situasi pasar juga masih diwarnai aroma bearish. Kondisi ekonomi global terdengar makin mengkhawatirkan. Kenaikan seringkali diikuti penurunan dan sebaliknya.

Pada transaksi kali ini saya juga keluar dari TRST. Sebenarnya ini perusahaan bagus, fundamental dan bisnisnya cukup cerah dengan growth yang mantap. Tapi saya butuh kas. Saya tentu akan berusaha masuk lagi bila saham TRST menuju harga yang lebih menarik lagi dibanding harga 415 ketika saya masuk pada 27 Juni 2011 lalu. Tapi kita lihat saja situasi yang akan datang.

TRANSAKSI

  • ADMF: jual 500 saham pada harga Rp9800 per saham
  • ARNA: jual 5.000 saham pada harga Rp290 per saham
  • JTPE: jual 5.000 saham pada harga Rp200 per saham
  • JTPE: jual 25.000 saham pada harga Rp205 per saham
  • LSIP: jual 500 saham pada harga Rp1820 per saham
  • LSIP: jual 500 saham pada harga Rp1820 per saham
  • PANS: jual 3.000 saham pada harga Rp1110 per saham
  • TRST: jual 5.000 saham pada harga Rp425 per saham

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 35.000 saham pada harga rata-rata Rp333,32/334* per saham
  • ADHI: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp652,5/656* per saham
  • *(Lihat catatan di halaman portfolio untuk emiten ini)
  • JTPE: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp196/198* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp10.400/10.445* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.256/1.262* per saham
  • LSIP: 2.000 saham pada harga rata-rata Rp1.837/1.843* per saham

Catatan: *harga rata-rata adalah harga rata-rata asli dan harga rata-rata dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.

Transaksi 4 Oktober 2011

Transaksi rutin untuk menurunkan harga rata-rata portfolio. Saya juga melakukan penjualan beberapa saham untuk menetralisir posisi portfolio agar tidak terlalu besar. Ini semua bagian dari strategi penurunan harga rata-rata saham saya.

TRANSAKSI

  • ADMF: beli 500 saham pada harga Rp9500 per saham
  • ARNA: beli 5.000 saham pada harga Rp300 per saham
  • ARNA: beli 5.000 saham pada harga Rp280 per saham
  • JTPE: beli 5.000 saham pada harga Rp182 per saham
  • LSIP: beli 500 saham pada harga Rp1750 per saham
  • ADHI: jual 10.000 saham pada harga Rp465 per saham. Posisi agak merugi, tapi secara perhitungan karena seluruh harga rata-rata masih turun, akhirnya strategi ini masih aman. Sekaligus bisa menurunkan komposisi portfolio saham ini.
  • FORU: jual 5.000 saham pada harga Rp123-Rp130 per saham, total merugi Rp17.564 dari transaksi ini, karena faktor biaya transaksi. Seluruh portfolio saham sudah dijual habis. Selama ini FORU sudah memberi keuntungan cukup bagus bagi saya ketika menjualnya di harga 150-160 per saham. Sebenarnya perusahaan ini bagus, tidak pernah merugi. Tapi margin keuntungannya sangat kecil. Karena faktor pertumbuhan yang kurang memuaskan akhirnya saya melepaskan saham ini. Terima kasih FORU.
  • JTPE: jual 5.000 saham pada harga Rp197 per saham
  • PANS: jual 1.500 saham pada harga Rp1.080 per saham
  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.090 per saham

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415,83 per saham
  • ARNA: 40.000 saham pada harga rata-rata Rp328,56 per saham
  • ADHI: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp656,13 per saham
  • *(Lihat catatan di halaman portfolio untuk emiten ini)
  • JTPE: 50.000 saham pada harga rata-rata Rp202,65 per saham
  • ADMF: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp10.220 per saham
  • PANS: 10.500 saham pada harga rata-rata Rp1.218 per saham
  • LSIP: 3.000 saham pada harga rata-rata Rp1837 per saham

Catatan: harga rata-rata sudah dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.

Transaksi 3 Oktober 2011

Transaksi rutin untuk menurunkan harga rata-rata portfolio. Hari ini saya memutuskan untuk terjun ke pasar agak besar. Saya juga mengambil sebuah saham LQ45 yang baru turun drastis hari ini, saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera Tbk (LSIP). Detail akan menyusul, kalau waktu sudah memungkinkan.

TRANSAKSI

  • ADHI: beli 5.000 saham pada harga Rp490 per saham
  • ADHI: beli 5.000 saham pada harga Rp485 per saham
  • ADMF: beli 500 saham pada harga Rp9700 per saham
  • JTPE: beli 20.000 saham pada harga Rp198 per saham
  • JTPE: beli 10.000 saham pada harga Rp197 per saham
  • LSIP: beli 2.500 saham pada harga Rp1850 per saham
  • PANS: beli 5.500 saham pada harga Rp1070 per saham

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415,83 per saham
  • ARNA: 30.000 saham pada harga rata-rata Rp340,54 per salaam
  • FORU: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp122 per saham
  • ADHI: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp559,87 per saham
    *(Lihat catatan di halaman portfolio untuk emiten ini)
  • JTPE: 50.000 saham pada harga rata-rata Rp202,8 per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp10.571 per saham
  • PANS: 12.500 saham pada harga rata-rata Rp1.195 per saham
  • LSIP: 2.500 saham pada harga rata-rata Rp1853,7 per saham

Catatan: harga rata-rata sudah dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.