Evaluasi Arwana Citramulia (ARNA) — Februari 2012

Saya baru mendapatkan artikel baru (tapi lama, maklum baru ketemu hari ini) tentang salah satu emiten portfolio investasi, yaitu PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA). Informasi ini diterbitkan oleh media Indonesia Finance Today, tapi dimuat ulang oleh sekuritas IPOTNEWS: Arwana Akan Ekspansi Di Sumatera Dan Kalimantan. Judul beritanya memang sama seperti apa yang saya kutip sebelumnya, tapi berita ini memuat lebih banyak detil serta data baru untuk proyeksi pendapatan dan pertumbuhan Arwana pada 2011 dan 2012, dan datanya disampaikan langsung oleh pihak Arwana. Ini namanya keberuntungan jadi tak perlu repot riset ke perusahaan. Mari kita ulas satu per satu hal penting dari berita ini, dari data ini kita bisa mencoba menghitung harga wajar terbaru Arwana.

Lanjut membaca

Rencana Pabrik Baru Arwana

Harga saham Arwana Citramulia Tbk (ARNA) menanjak pada beberapa hari terakhir, hari ini sudah menyentuh 425. Padahal beberapa saat sebelumnya harganya bertengger di kisaran 360-385. Saya penasaran, apakah kenaikan ini gejolak pasar saja atau ada perkembangan terbaru dari perusahaan yang belum saya ikuti.

Arwana adalah portfolio lama dalam investasi saya. Seperti sudah pernah saya evaluasi, saya menurunkan ekspektasi saya pada perusahaan ini dan posisinya di portfolio saya kurangi separuh lebih. Tapi saya masih tertarik perusahaan ini, saya masih yakin akan potensi pertumbuhannya. Ternyata hari ini saya mendapat jawabannya.

Lanjut membaca

Transaksi 10 November 2011

Saya menurunkan harapan saya pada saham ARNA, meskipun saya masih menilai perusahaan ini sebagai perusahaan bagus. Pertumbuhan perusahan pada tahun ini masih menarik, laba bersih menunjukkan peningkatan 11% hingga kuartal tiga ini. Rasio hutang perusahaan juga menurun 20%, sangat bagus tentu saja. Meski asetnya turun sedikit. Tapi pertumbuhan 11% terlihat menurun dibandingkan harapan saya pada tahun lalu, sekitar 17%. Salah satu faktor yang membuat saya menurunkan harapan adalah karena industri perusahaan, industri keramik, yang masih mempunyai bahaya pelambatan, selain kejenuhan dan karena harga bahan baku yang katanya cenderung naik. Dalam rencana portfolio, saya akan mengelola saham ARNA hingga 30 lot saja. Transaksi ini meneruskan rencana ini, selain karena mengambil peluang kenaikan harga saham dalam dua hari ini (bahkan pada 9 November sempat mencapai 370, tapi saya tidak aktif memantau saat itu).

TRANSAKSI

  • ARNA: jual 10.000 saham pada harga Rp355,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp11.150/11.222* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 2.500 saham pada harga rata-rata Rp2.850/2.859* per saham
  • SMSM: 10.500 saham pada harga rata-rata Rp1.316,67/1.319* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 21 Oktober 2011

Beberapa transaksi untuk menambah posisi PANS dan PGAS. Untuk PGAS, hal ini juga sebagai ganti dari kesalahan karena penjualan sebelumnya. Rencananya saya akan memegang 5 lot saham dalam portfolio.

Untuk ARNA, saya telah melakukan kalkulasi baru yang dihitung dari seluruh rekap transaksi saham ARNA sejak awal masuk portfolio. Hasil input ulang ini saya harap bisa secara jelas menunjukkan posisi harga rata-rata yang benar. Ternyata benar, harga rata-rata saham ARNA aslinya jauh lebih rendah, yaitu pada Rp275,5 atau Rp280 bila memperhitungkan biaya komisi pembelian/penjualan. Terlihat portfolio saya masih atraktif.

TRANSAKSI

  • PGAS: beli 500 saham pada harga Rp2.875,-
  • PANS: beli 500 saham pada harga Rp1.180,-
  • ARNA: jual 5.000 saham pada harga Rp340,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp275,5/280* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp193/196* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.800/10.921* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.687,5/2.700* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Strategi Safe Average Down

Setelah mengetahui strategi average down, kali ini kita coba membahas pengembangan strategi ini, yaitu strategi safe average down. Kata kunci dalam strategi ini adalah safe, yaitu faktor keselamatan atau keamanan dalam langkah investasi kita. Kaidah keamanan ini penting agar investasi kita mempunyai risiko lebih rendah. Tapi bagaimana keamanan ini bisa dicapai? Padahal kita menghadapi keadaan yang sama, yaitu volatilitas harga saham yang dinamis, kondisi makro ekonomi global yang masih amburadul, ancaman crash bursa yang masih bisa terjadi. Bagaimana kita bisa meminimalkan risiko?

Jawabannya, sama seperti seperti average down, penurunan risiko adalah dengan menurunkan harga rata-rata pembelian saham. Dengan sedikit variasi dalam operasi transaksi saham, ternyata ada peluang bisa menurunkan harga rata-rata, tapi juga tidak menambah volume portfolio. Inilah yang saya sebut safe average down. Berikut penjelasan strategi ini termasuk risiko dan tantangannya.
Lanjut membaca

Transaksi 10 Oktober 2011

Transaksi hari ini adalah untuk melepaskan LSIP dari portfolio sehubungan dengan diketahuinya kesalahan kalkulasi yang saya lakukan. Saya juga mengurangi kembali portfolio ARNA agar tidak terlalu gemuk. PANS juga dikurangi 1 lot untuk mengembalikan portfolio awal sejumlah 14 lot. Sejauh ini semua penjualan membukukan keuntungan, meskipun presentasenya sedikit. Yang penting tidak ada yang rugi, dan berhasil menurunkan rata-rata harga beli. Semua penjualan ini dilakukan setelah dilakukan analisa mendalam, terutama menindaklanjuti strategi average down.

TRANSAKSI

  • ARNA: jual 5.000 saham pada harga Rp300 per saham
  • LSIP: jual 2.000 saham pada harga Rp1.860 per saham
  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.120 per saham

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 30.000 saham pada harga rata-rata Rp338,87/340* per saham
  • ADHI: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp652,5/656* per saham
  • *(Lihat catatan di halaman portfolio untuk emiten ini)
  • JTPE: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp196/198* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp10.400/10.445* per saham
  • PANS: 7.000 saham pada harga rata-rata Rp1.266/1.273* per saham

Catatan: *harga rata-rata adalah harga rata-rata asli dan harga rata-rata dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.

Transaksi 6 Oktober 2011

Transaksi ini bertujuan untuk menurunkan harga rata-rata portfolio. Penjualan dilakukan untuk menetralisir posisi portfolio, dengan mengambil keuntungan jangka pendek dan menjaga ketersediaan kas. Jadi tidak ada penjualan saham-saham di bawah ini yang dijual lebih murah dari harga awalnya, meski kalau dilihat dari harga rata-rata tentu banyak yang lebih murah. Misal saya membeli ADMF pada 9500, saya menjualnya pada harga 9800, masih untung Rp300. Keputusan melangkah dalam jangka pendek ini berhubungan dengan strategi safe average down, yang teorinya akan saya sampaikan dalam tulisan lain. Keputusan ini tentu saja bisa berujung pada kesalahan, terutama bila saham-saham bergerak naik dan saya tidak dapat masuk lagi. Tapi kita tidak tahu masa depan. Situasi pasar juga masih diwarnai aroma bearish. Kondisi ekonomi global terdengar makin mengkhawatirkan. Kenaikan seringkali diikuti penurunan dan sebaliknya.

Pada transaksi kali ini saya juga keluar dari TRST. Sebenarnya ini perusahaan bagus, fundamental dan bisnisnya cukup cerah dengan growth yang mantap. Tapi saya butuh kas. Saya tentu akan berusaha masuk lagi bila saham TRST menuju harga yang lebih menarik lagi dibanding harga 415 ketika saya masuk pada 27 Juni 2011 lalu. Tapi kita lihat saja situasi yang akan datang.

TRANSAKSI

  • ADMF: jual 500 saham pada harga Rp9800 per saham
  • ARNA: jual 5.000 saham pada harga Rp290 per saham
  • JTPE: jual 5.000 saham pada harga Rp200 per saham
  • JTPE: jual 25.000 saham pada harga Rp205 per saham
  • LSIP: jual 500 saham pada harga Rp1820 per saham
  • LSIP: jual 500 saham pada harga Rp1820 per saham
  • PANS: jual 3.000 saham pada harga Rp1110 per saham
  • TRST: jual 5.000 saham pada harga Rp425 per saham

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 35.000 saham pada harga rata-rata Rp333,32/334* per saham
  • ADHI: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp652,5/656* per saham
  • *(Lihat catatan di halaman portfolio untuk emiten ini)
  • JTPE: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp196/198* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp10.400/10.445* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.256/1.262* per saham
  • LSIP: 2.000 saham pada harga rata-rata Rp1.837/1.843* per saham

Catatan: *harga rata-rata adalah harga rata-rata asli dan harga rata-rata dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.

Transaksi 4 Oktober 2011

Transaksi rutin untuk menurunkan harga rata-rata portfolio. Saya juga melakukan penjualan beberapa saham untuk menetralisir posisi portfolio agar tidak terlalu besar. Ini semua bagian dari strategi penurunan harga rata-rata saham saya.

TRANSAKSI

  • ADMF: beli 500 saham pada harga Rp9500 per saham
  • ARNA: beli 5.000 saham pada harga Rp300 per saham
  • ARNA: beli 5.000 saham pada harga Rp280 per saham
  • JTPE: beli 5.000 saham pada harga Rp182 per saham
  • LSIP: beli 500 saham pada harga Rp1750 per saham
  • ADHI: jual 10.000 saham pada harga Rp465 per saham. Posisi agak merugi, tapi secara perhitungan karena seluruh harga rata-rata masih turun, akhirnya strategi ini masih aman. Sekaligus bisa menurunkan komposisi portfolio saham ini.
  • FORU: jual 5.000 saham pada harga Rp123-Rp130 per saham, total merugi Rp17.564 dari transaksi ini, karena faktor biaya transaksi. Seluruh portfolio saham sudah dijual habis. Selama ini FORU sudah memberi keuntungan cukup bagus bagi saya ketika menjualnya di harga 150-160 per saham. Sebenarnya perusahaan ini bagus, tidak pernah merugi. Tapi margin keuntungannya sangat kecil. Karena faktor pertumbuhan yang kurang memuaskan akhirnya saya melepaskan saham ini. Terima kasih FORU.
  • JTPE: jual 5.000 saham pada harga Rp197 per saham
  • PANS: jual 1.500 saham pada harga Rp1.080 per saham
  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.090 per saham

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415,83 per saham
  • ARNA: 40.000 saham pada harga rata-rata Rp328,56 per saham
  • ADHI: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp656,13 per saham
  • *(Lihat catatan di halaman portfolio untuk emiten ini)
  • JTPE: 50.000 saham pada harga rata-rata Rp202,65 per saham
  • ADMF: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp10.220 per saham
  • PANS: 10.500 saham pada harga rata-rata Rp1.218 per saham
  • LSIP: 3.000 saham pada harga rata-rata Rp1837 per saham

Catatan: harga rata-rata sudah dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.

Perubahan Komposisi Portfolio

Seperti telah saya tulis dalam Antisipasi Krisis, investor harus siap menghadapi apa pun yang terjadi di bursa. Apakah itu gejolak bullish atau bearish, bahkan crash. Apakah bursa kita akan crash? Sampai saat ini saya tidak tahu. Saya juga tidak berani meramal. Yang penting, seperti dalam tulisan tersebut, kita sebagai investor harus siap, termasuk mengelola dan mengatur dana kita agar tujuan investasi jangka panjang kita tercapai.

Dalam tulisan itu saya menyebutkan telah menyisihkan 25% dana dalam bentuk kas. Awalnya dana tersebut saya titipkan di reksadana pendapatan tetap. Kinerjanya sih bagus. Namun dua minggu lalu saya pantau ternyata reksadana tersebut juga terpengaruh oleh gejolak pasar. Akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan dana cadangan itu. Lebih-lebih karena gejolak pasar belakangan ini saya memutuskan untuk menjadikannya kas murni di dalam rekening. Lebih aman. Untunglah meski hanya sebulan lebih reksadana tersebut sudah membukukan untung Rp400.000-an. Seiring waktu saya juga menguangkan beberapa saham (ARNA, FORU) menjadi kas, untuk menambah komposisi dana siaga ini. Kini 50% portfolio kelolaan sudah berbentuk kas.

Setelah seluruh dana cair pada 28 September 2011 (kemarin), akhirnya dana tersebut saya pindah ke rekening efek semuanya. Ini adalah untuk strategi jaga-jaga. Saya tak tahu apakah saya akan mulai masuk pasar dalam waktu dekat. Ataukah saya masih jaga-jaga saja. Terjadinya crash pasar modal tidak terjadi dalam sehari, atau dua hari. Pada krisis 2008-2009 periode kurva U-nya saja terjadi dalam 6 bulan lebih. Apakah nanti akan mriip? Ataukah nanti tidak terjadi crash bursa? Kita lihat situasinya nanti.

Tulisan ini dibuat untuk memperlihatkan strategi yang saya lakukan dalam mengatur investasi saya. Halaman portfolio investasi telah dimutakhirkan mengikuti perubahan komposisi portfolio ini.