Rasio PEG

Rasio PEG (price/earnings to growth ratio) adalah model valuasi untuk mengukur kepantasan antara harga saham, laba yang dihasilkan per lembar sahamnya, dan harapan pertumbuhan perusahaan.

Rumus Rasio PEG = Price Earnings Ratio ÷ Pertumbuhan Laba per Saham

Catatan: pertumbuhan laba per saham (Earnings per share atau EPS) diinput tanpa persen, misal 30%, maka yang dihitung adalah 30 saja. Atau kita bisa bilang persentase pertumbuhan dikali 100. 

Bila ada perusahaan mempunyai PER 30 dengan pertumbuhan laba per saham 30%, maka rasio PEG-nya adalah 1. Rasio lebih rendah di bawah 1 berarti saham tersebut dianggap “murah”. Rasio di atas 1 berarti mahal. Dengan rasio PEG 1 maka dianggap harga saham sebuah perusahaan sudah adil terhadap pertumbuhannya.

Bisa dilihat dari rumusnya, rasio PEG ini sangat sederhana rumusnya dan mudah kita aplikasikan. Bahkan tanpa perlu kalkulator juga bisa. Kalau dipikir, dasarnya memang kepantasan, maka bila kita perhatikan harga saham relatif terhadap pertumbuhan perusahaan (fundamentalnya), jadi akan terasa masuk akal.

Saya ternyata salah menganggap rasio PEG dikenalkan oleh Peter Lynch, sang legenda manajer inevstasi itu. Rasio PEG dibuat oleh Mario Farina di bukunya A Beginner’s Guide To Successful Investing In The Stock Market. Tapi benar, Peter Lynch melalui bukunya, One Up on Wall Street, kemudian mempopulerkan rasio ini ke khalayak luas.

Gunakan Rata-rata Pertumbuhan Jangka Panjang

Sebaiknya menggunakan rata-rata pertumbuhan jangka panjang, agar lebih realistis terhadap sejarah kinerja perusahaan, misal rata-rata pertumbuhan lima tahun atau sepuluh tahun, bukan pertumbuhan laba tahun terakhir saja. Bisa pula dipakai angka pertumbuhan yang sepakati oleh analis. Atau bila Anda cukup malas, bisa pula dicek di situs finansial yang menyediakan data seperti ini dan pakai data itu, asal bukan angka pertumbuhan tahun terakhir saja. Risikonya kenapa? Pertumbuhan 100% di tahun terakhir itu bisa membuat rasionya PEG-nya kecil, bandingkan bila seandainya memakai rata-rata jangka panjang yang cuma 15% misalnya.

Tapi meskipun kita sudah berusaha mencari pengaman, pertumbuhan jangka panjang adakalanya punya kelemahan, terutama untuk perusahaan yang fluktuatif atau mengalami penurunan dan kenaikan. Contoh, perusahaan yang tumbuh: 5%, 7%, dan 9% akan mempunyai rata-rata 7%. Bandingkan dengan perusahaan yang tumbuh 3%, turun -3%, tumbuh 10%, rata-ratanya akan tercatat 10%, maka penghitungan PEG-nya mungkin lebih baik. Padahal dari kualitas laba (dan mungkin jumlahnya) perusahaan pertama justru lebih baik.

Indikator yang Mendekati Realitas

Selama ini kita yakin rasio PER (Price Earnings Ratio) sebagai tolak ukur sederhana dari murah atau mahalnya saham. Saham yang mempunyai PER kecil dianggap murah. Saham dengan PER tinggi, misalnya di atas rata-rata 15 atau 17, maka dianggap mahal. Masalahnya, menggunakan model PER saja bisa menjebak kita.

Di sinilah indikator rasio PEG lebih unggul dan realistis. Rasio PEG membawa pertumbuhan ke model valuasi sehingga lebih nyata lagi indikasinya. Lebih jelasnya lihat contoh di bawah:

  • Perusahaan A: dijual di PER 6, pertumbuhan labanya 3%, maka rasio PEG = 2.
  • Perusahaan B: dijual di PER 15, pertumbuhan labanya 20%, maka rasio PEG = 0,75
  • Perusahaan C: dijual di PER 4, pertumbuhan labanya 20%, maka rasio PEG = 0,2

Dari tiga contoh tadi, bila melihat rasio PEG-nya kita bisa percaya perusahaan C dijual sangat murah. Namun kenapa PER-nya cuma 4? Apakah perusahaan ini tidak populer, sehingga dijual murah? Nah, dengan mengetahui rasio PEG-nya, kita bisa yakin bahwa potensi pertumbuhan saham dari perusahaan C cukup terbuka karena realitas pertumbuhan perusahaan juga cukup menawan.

Yang harus kita hindari adalah contoh perusahaan A. Bila selama ini kita melihat PER saja dan berkata PER 6 sudah murah, kita sudah tertipu. Ternyata pertumbuhan jangka panjang perusahaan A cuma 3% saja, sehingga rasio PEG-nya 2, jadi ini sudah terlalu mahal. Artinya inilah perusahaan yang tumbuhnya lambat. Dengan pertumbuhan sebesar itu kita seperti membuang waktu berharap PER-nya bisa naik menjadi 10 kalau kemampuan perusahaan tidak bisa tumbuh sebesar itu.

Di sinilah kita bisa realistis juga terhadap perusahaan B, meski PER saham sudah 15, tapi potensi pertumbuhan perusahaan masih cukup bagus.  Rasio PEG memang sederhana, tapi gunakan secara lebih realistis dan lebih konservatif lagi, terutama untuk mencari pertumbuhan yang dipakai. (Catatan: selama ini saya menggunakan rata-rata pertumbuhan sederhana saja, bukan CAGR atau metode lainnya)

Referensi: PEG Ratio di Wikipedia

Tinggalkan Balasan