Arus Kas Bebas (Free Cash Flow)

Dalam tulisan-tulisan mendatang kita akan sering menjumpai istilah Arus Kas Bebas (terjemahan untuk istilah Free Cash Flow). Sangat penting memahami konsep ini sebab inilah ukuran yang dipakai oleh investor untuk mengukur kekuatan keuangan sebuah perusahaan guna menunjang pertumbuhannya.

Apa Arus Kas Bebas?

Arti sederhana dan singkat Arus Kas Bebas adalah sisa perhitungan arus kas yang dihasilkan oleh suatu perusahaan di akhir suatu periode keuangan (kuartalan atau tahunan)—setelah membayar gaji, biaya produksi, tagihan, cicilan hutang berikut bunganya, pajak, dan juga belanja modal (capital expenditure) untuk pengembangan usaha. Sisa uang inilah yang disebut Arus Kas Bebas. Meski dinamankan bebas tapi manajemen tidak bisa sebebasnya menggunakan uang ini karena uang sisa inilah yang bisa digunakan untuk mengembangkan usaha, kalau tidak mengambil dana dari hutang dan sumber dana lainnya.

Telaah Penghitungan Arus Kas Bebas

Rumus singkat (dan yang paling mudah) untuk menghitung Arus Kas Bebas adalah berikut:

Arus Kas Bebas = Arus Kas dari Operasi – Belanja Modal

Untuk membuat hitungan Arus Kas Bebas, silakan buka Laporan Keuangan perusahaan di bagian Laporan Arus Kas. Untuk telaah nyata, kita gunakan Laporan Keuangan 2011 teraudit dari PT. Astra Graphia Tbk (ASGR), materi bisa diunduh di situs BEI. (1,4 MB). Sebagai pembanding kita bisa gunakan data Arus Kas ASGR di situs FT. (Tips: Anda bisa saja gunakan data FT, tapi kita harus gunakan data nyata untuk telaah kasus ini).

Buka Laporan Keuangan ASGR, carilah laporan Arus Kas khususnya Arus kas dari aktivitas operasi (lihat di halaman Lampiran 4/1), lihat bagian Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi. Untuk Belanja Modal, kita harus mencari data arus kas untuk investasi yang digunakan pada periode tersebut (lihat di halaman yang sama), pos belanja modal biasanya tercatat sebagai pembelian aset tetap/mesin, perawatan, upgrade, dll. Pengeluaran/pemasukan investasi untuk aset tetap (termasuk mesin, properti, dll) yang tidak berpengaruh terhadap penambahan aset tetap tidak dianggap sebagai belanja modal. Angka penjualan dan hal lain tidak dipakai karena itu bukan hal pokok untuk membuat usaha berjalan lebih baik melainkan hasil/efek penjualan aset. Dari sana kita dapatkan angka-angka berikut (semua dalam jutaan):

  • Total Arus kas dari Operasi = Rp54.935
  • Total Belanja Modal = Rp17.208

Sehingga kita bisa hitung Arus Kas Bebasnya adalah:

Arus Kas Bebas = 54.935 – 17.208 = Rp37.727

Dengan mengetahui Arus Kas Bebas inilah kita akan bisa melihat proyeksi pertumbuhan/kesehatan suatu perusahaan. Katakanlah dalam lima tahun terakhir, kita bisa menyajikan Arus Kas Bebas ASGR sebagai berikut:

2011 2010 2009 2008 2007
Arus Kas Operasi 54.935 183.429 177.643 167.217 121.785
Belanja Modal (17.208) (18.289) (30.260) (123.569) (75.009)
Arus Kas Bebas 37.727 165.140 147.383 43.648 46.776

Dari tabel di atas kita bisa lihat dari tahun ke tahun posisi Arus Kas Bebas ASGR selalu positif. Ini tandanya penghasilan (penjualan jasa/produk) dari perusahaan mampu menunjang usaha. Tanda lain yang kemudian bisa kita cari adalah apa yang dilakukan perusahaan untuk memanfaatkan Arus Kas Bebasnya. Apakah membayar dividen? Membeli saham baru? Yang jelas dan pasti bukan untuk kegiatan belanja modal karena hal ini akan tercatat di laporan keuangan periode berikutnya, sehingga pada akhirnya mengurangi posisi Arus Kas Bebas berikutnya. Kemudian bila memberi dividen, apakah perusahaan memberikan dividen lebih besar dari Arus Kas Bebasnya?

Lalu bagaimana bila ada arus kas bebas yang negatif? Arus Kas Bebas yang negatif harus menjadi perhatian kita, ini tandanya pendapatan perusahaan tidak mampu menunjang ekspansi atau pengembangan usaha. Karena negatif atau kekurangan dana, maka perusahaan perlu dana lain untuk menggantikannya. Dana lain ini mau tak mau adalah dari hutang, bisa dari bank atau obligasi (bila perusahaan mampu menerbitkannya). Segala bentuk hutang akan tercatat di laporan arus kas bagian pendanaan (financing) dalam bentuk aliran masuk (positif, bila negatif artinya pembayaran hutang). Bila setahun atau dua tahun ada posisi negatif, mungkin perusahaan sedang ekspansi besar pada saat itu. Kita harus memerika laporan keuangan untuk memastikan kejelasan pengeluaran tersebut.

Saya mendapatkan banyak manfaat ketika menghitung Arus Kas Bebas perusahaan dalam investasi saya. Tak saya sangka ternyata ada beberapa emiten mempunyai posisi Arus Kas Bebas merah dalam 2-3 tahun. Saya harus lebih memperhatikan lagi investasi saya.

Itulah sekilas tentang Arus Kas Bebas dan gunanya untuk mengecek kesehatan dan pertumbuhan perusahaan. Dalam tulisan berikutnya kita akan memanfaatkan Arus Kas Bebas untuk banyak hal lainnya, termasuk menghitung valuasi harga wajar perusahaan.

Baca juga panduan laporan keuangan berikut: Empat Jenis Laporan Keuangan dan Terbentuknya Laporan Keuangan untuk mempelajari jenis laporan keuangan dan bagaimana laporan keuangan terbentuk.

Referensi:

6 thoughts on “Arus Kas Bebas (Free Cash Flow)

  1. Free Cash Flow Pans (Panin sekuritas) selama 3 thn terakhir saya lihat negatif..boleh tau alasannya masih dijadikan pilihan investasi ?

    1. Seperti saya tulis di atas, “Tak saya sangka ternyata ada beberapa emiten mempunyai posisi Arus Kas Bebas merah dalam 2-3 tahun.” Saya sendiri baru fokus memperhatikan Arus Kas Bebas beberapa bulan ini. Dulu sudah tahu tapi kurang memperhatikan. Dalam keputusan investasi saya biasanya kita fokus neraca dan potensi pertumbuhan. Terakhir baru lihat harga. Ketiganya PANS punya keunggulan. Saya masih terus mengevaluasi keputusan-keputusan investasi saya.

  2. Terima kasih Pa atas infonya
    Kebetulan saya sedang meneliti ” Pengaruh Laba Bersih dan Arus Kas Operasi terhadap deviden kas pada perusahaan manufaktur”
    dari penjelasan bapak di atas apakah bisa saya menyimpulkan kalau arus kas bebas memiliki pengaruh terhadap deviden kas karena saya tertarik untuk menambah variabel arus kas bebas tersebut jika memilki pengaruh bagi deviden kas itu sendiri.

    selain itu juga minta saran tentang buku yang kiranya membahas detail tentang arus kas bebas ini.

    terima kasih

    1. terima kasih atas penjelasannya yg sangat bermanfaat bagi saya. saya juga ingin menanyakan buku yang baik untuk mempelajari lebih dalam mengenai arus kas bebas tu buku yang judulnya apa dan siapa pengarangnya? terima kasih.

  3. Pak, untuk capital expenditures ini bukan memakai yang di halaman 5/63, segment information? Rp.88,503 jadinya negatif sih (saya masih newbie pak)

    terus terang saya bingung, karena tidak semua LK mencantumkan capital expenditures secara jelas, kalau pun ada jumlahnya tidak match, seperti contoh di sini menggunakan acquisitions of fixed assets di cash flow statements atau menggunakan informasi di segment information.
    saya bingung yang mana seharusnya dipakai. mohon penjelasannya pak.

    Satu lagi, untuk holding company seperti ASII (kebetulan lagi saya coba valuasi), seperti diatas, di segment information terdapat jelas breakdown capital expendituresnya untuk apa saja, mulai dari otomotif, mining, alat berat, perkebunan dll? haruskah ini kita jumlahkan semua? karena seperti perkebunan sudah ada AALI, alat berat sudah ada UNTR, dan semacamnya, jadi itu seharusnya terkait di capex masing2 anak usaha, bukan holding? mohon penjelasan juga, terima kasih banyak

    1. Paragraf pertama saya kurang jelas.
      Paragraf kedua, memang laporan keuangan per perusahaan bisa berbeda gaya penyajiannya. Investor harus teliti dan kritis agar tidak mudah terjebak dalam analisa yang salah.

      Tapi tentang pertanyaan terakhir, untuk mempelajari laporan keuangan suatu perusahaan holding, berarti kita hanya melihat lingkup di holding. Masalah capex masing2 anak usaha, ya itu ada dilaporan mereka. Di holding tentunya sudah dirangkum keseluruhannya, digabung dengan perusahaan-perusahaan lainnya.

Tinggalkan Balasan