Laporan Keuangan (2): Empat Jenis Laporan Keuangan

Pemutakhiran 20/2: Penjelasan bagian neraca telah diubah agar lebih jelas dan mudah dipahami.

Pemutakhiran 24/2Koreksi dalam atas kesalahan fatal dalam istilah yang ada di Neraca.

Ini adalah lanjutan serial Laporan keuangan dari tulisan sebelumnya Kenapa Harus Mempelajarinya. Lanjutan tulisan ini telah tersedia di (3) Terbentuknya Laporan Keuangan.

Laporan Keuangan biasanya dilaporkan oleh perusahaan publik sebanyak empat kali, dalam periode per tiga bulanan. Tiap laporan biasanya harus sudah bisa diumumkan pada hari terakhir bulan berikut per masing-masing periode tiga bulanan, misal laporan Maret harus sudah keluar akhir April, laporan Juni harus keluar Juli, dst. Pengecualian adalah laporan keuangan periode terakhir pada triwulan ke-4 yang juga dianggap sebagai laporan keuangan tahunan, karena laporan tahunan harus diaudit, maka penerbitannya agak lama dan biasanya maksimal tanggal 31 Maret setiap tahunnya. Kadangkala ada perusahaan yang agak terlambat menerbitkan laporannya. Kita perlu menaruh perhatian untuk kasus-kasus ini. Apa ada masalah dengan keuangan perusahaan sehingga proses pelaporan harus menunggu agak lama.

Kali ini kita mencoba untuk melihat lebih detil empat macam laporan keuangan yang biasanya dilaporkan perusahaan. Perusahaan publik juga punya kewajiban lain yaitu melaporkan laporan keuangan di dua media massa nasional. Contoh laporan tahunan di media bisa dilihat di bawah ini:

Laporan Keuangan CLPI Tahun Buku 2010 (klik gambar untuk melihat versi asli)

Laporan keuangan di atas adalah laporan keuangan tahunan (yang sudah diaudit) dari PT Colorpak Indonesia Tbk (CLPI). Ini adalah versi laporan keuangan yang dilaporkan di media.

Saya menggunakan laporan CLPI sebagai contoh dalam seri panduan ini karena saya tidak memiliki sahamnya (meski saya pernah membeli dan untung besar darinya). Ini agar sifat panduan ini bisa netral, tidak ada kepentingan apa pun dengan dimuatnya CLPI sebagai contoh.

Di Mana Mendapat Laporan Keuangan?

Ada beberapa cara untuk mendapatkan laporan keuangan:

  • Dari media massa tempat dimuatnya laporan keuangan. Cara ini paling tidak efisien karena kita harus minimal berlangganan media tersebut, biasanya adalah harian bisnis yang terkemuka seperti Bisnis Indonesia, Investor Daily, atau harian umum Kompas.
  • Dari Situs perusahaan terkait. Tapi cara ini juga kurang efisien karena kadang-kadang perusahaan jarang memutakhirnya situs mereka.
  • Dari Situs IDX (Bursa Efek Indonesia). Ketika kode emiten yang terkait dan Anda akan bisa mengakses sejarah dokumen yang diterbitkan perusahaan, termasuk laporan keuangannya.
  • Dari buku laporan tahunan (Annual Report) yang diterbitkan perusahaan. Pada bagian akhir buku ini biasanya terdapat laporan keuangan untuk tahun buku yang dimaksud.
  • Cara terakhir, menghubungi sekretaris perusahaan. Ini bila Anda kesulitan mengakses dari berbagai metode di atas.

Mengenali Elemen Laporan Keuangan

Dari laporan keuangan tahunan PT Colorpak Indonesia tadi, mari kita kenali empat macam laporan keuangannya. Daalam tulisan sebelumnya saya sudah menyebut ada empat macam laporan keuangan: A) laporan neraca, B) laba rugi, C) perubahan ekuitas pemegang saham, dan D) laporan arus kas. Untuk melihat masing-masing laporan dalam laporan keuangan Colorpak di atas, lihat contoh blok dalam ilustrasi di bawah:

Tiga macam laporan keuangan

Lho, katanya ada empat macam laporan? Kenapa cuma tiga? Apakah perusahaan lalai melaporkannya? Sebenarnya perusahaan tidak lalai. Saya tidak tahu apakah ada aturannya atau tidak, tapi laporan keuangan yang diumumkan di media biasanya minimal menampilkan tiga laporan pertama. Untuk laporan arus kas bisa dilihat di laporan keuangan versi lengkap yang bisa diunduh di situs BEI. Biasanya saya menggunakan laporan keuangan lengkap karena selain data arus kas, kita juga bisa melihat rincian masing-masing pos keuangan secara lebih detil.

Dari ketiga laporan keuangan utama ini saja orang lain bisa mendapat jawaban akan: di mana uang perusahaan, dari mana uang tersebut datang, dan kemana uang perusahaan beredar. Tapi untuk menjawab pertanyaan yang lebih lebih detil, misal, detil rincian pos kas itu ditempatkan di mana, atau misalnya untuk pos hutang itu didapat dari bank mana saja untuk keperluan apa dengan bunganya berapa, kapan berakhirnya, semua bisa dibaca dari rincian laporan keuangan versi lengkap yang bisa diperoleh di situs Bursa Efek Indonesia.

Untuk mendapatkan laporan keuangan PT Colorpak tahun 2010, bisa diunduh di sini (ukuran 2,3 MB). Dokumen ini bisa diakses dari tab Pengumuman di pusat data PT Colorpak di situs BEI ini. Bila ingin mencari perusahaan lain, cukup ganti kode CLPI dengan kode emiten yang diinginkan.

Ada beberapa macam metode pelaporan laporan keuangan: ada yang menyertakan bahasa Inggris, ada yang tidak, ada menyajikan tiga tahun buku, tapi biasanya minimal dua tahun buku. Berikut contoh masing-masing pelaporan neraca (jenis laporan juga hampir sama) dalam dua versi berikut:

Contoh Neraca 1
Contoh Neraca 2 (dari perusahaan lain)

A. Keterangan laporan keuangan, hal penting yang perlu diperhatikan di bagian ini adalah keterangan nama laporan, periode pelaporan (tahun atau bulan), dan satuan pernyataan laporan. Dalam kedua laporan di atas kebetulan satuannya rupiah. Ada laporan lain yang karena perusahaannya lebih besar maka tak mungkin menggunakan satuan rupiah karena akan terlalu makan kolom penyajian, maka mereka biasanya menggunakan satuan milyar rupiah.
B. Keterangan pos keuangan, ini adalah rincian pos-pos keuangan dalam laporan keuangan. Dalam laporan neraca di atas ada yang menggambarkan posisi kas dan setara kas, piutang, dll. Dalam laporan rugi laba, ini bisa berupa laba kotor, laba bersih, dll.
C. Keterangan catatan, artinya cukup jelas. Dengan merujuk pada nomor-nomor inilah kita bisa menelusuri detil laporan per masing-masing pos. Letaknya sesuai nomor-nomor yang tertera di sana. Di laporan detil tersebut kita bisa mendapatkan deskripsi dan juga ada rincian masing-masing laporan, misal untuk kas, posisi di masing-masing rekening bank yang dimiliki perusahaan akan dilaporkan di sana.
D. Periode pelaporan, artinya cukup jelas. Bisa diperhatikan ada yang disajikan berdekatan, ada berjauhan antara 2010 dan 2009.

Setelah cukup jelas mari kita pelajari masing-masing jenis laporan keuangan tersebut.

Laporan Neraca

Seperti namanya, laporan neraca (balance sheet) berguna untuk menimbang posisi keuangan perusahaan. Ada sisi kiri untuk Aset dan sisi kanan untuk Kewajiban dan Ekuitas. Dalam istilah akuntansi kadang-kadang aset disebut sebagai Aktiva, sedang Kewajiban disebut sebagai Pasiva (atau liabilities). Perlu diperhatikan penggambaran kiri dan kanan  hanyalah kiasan. Bisa saja laporan aset dilaporkan lebih dulu di posisi atas, setelah itu laporan kewajiban di bawahnya. Tak usah pusing dengan istilah-istilah ini. Yang penting kita paham bahwa konsep dasarnya adalah adanya aset (harta yang dimiliki perusahaan) akan menyebabkan adanya kewajiban (harta yang dimiliki oleh pemodal dan orang lain).

Ada aturan akuntansi penting yaitu kedua sisi neraca harus bernilai sama. Maka disebut seimbang (balance). Aturan ini agar kita bisa mengecek di mana letak posisi harta perusahaan agar bisa dipantau kesehatan keuangannya. Dari neraca inilah orang lain dapat membaca di mana, kemana, dan kapan keuangan perusahaan berubah.

Aset adalah harta yang dimiliki perusahaan, yang terdiri dari: kas atau setara kas, benda tak bergerak (seperti tanah, gedung) dan juga barang bergerak seperti kendaraan, dan bahkan ada juga harta non fisik (seperti nilai yang dibayar untuk akuisisi anak perusahaan). Aset juga meliputi piutang perusahaan, pajak yang sudah dibayar di muka, serta biaya-biaya yang sudah dibayar di muka. Prinsipnya segala sesuatu yang berniai yang bisa diakui milik perusahaan itulah disebut aset.

Kewajiban dan Ekuitas menunjukkan asal muasal harta perusahaan berasal. Kewajiban terdiri dari: hutang perusahaan pada pihak lain, pajak yang belum dibayar, uang muka dari pihak lain, biaya sewa yang masih berjalan. Ekuitas sendiri menunjukkan hak milik dari pemegang saham yang terdiri dari dua komponen, yaitu: modal usaha dan nilai laba usaha (atau kerugian usaha). Prinsipnya segala sesuatu yang bisa diakui milik pihak lain akan masuk neraca bagian kanan, atau Kewajiban dan Ekuitas ini.

Laporan Laba Rugi

Seperti namanya, laporan ini mengungkap bagaimana kinerja perusahaan, apakah menghasilkan keuntungan atau kerugian. Di dalam laporan ini kita dapat melihat jumlah pendapatan bersih (net revenues/sales), serta biaya (beban) untuk mewujudkan penjualan tersebut baik berupa bahan baku dan biaya utama lainnya. Setelah dikurangi beban pokok inilah akhirnya kita bisa membaca yang namanya laba kotor (gross profit/income). Laba kotor artinya laba yang diperoleh dari hasil operasi penjualan sebelum dikurangi biaya-biaya lain yang tidak berhubungan dengan penjualan. Dari sana kita bisa tahu biaya administrasi untuk menjalankan perusahaan, biaya pemasaran, dll. Setelah dikurangi biaya rutin perusahaan inilah maka kita akan mendapatkan yang namanya laba usaha (operating income). Tapi nilai ini belum dipotong oleh pajak, biaya laba/rugi kurs dll. Setelah dikurangi biaya pajak dan kurs inilah maka kita akan mendapatkan nilai akhir yang bernama laba bersih (net income). Angka inilah yang merupakan keuntungan/kerugian perusahaan. Nilai akhir dari laba bersih inilah yang kemudian bisa diatribusikan kepada pemegang saham. Dalam laporan ini biasanya kita juga bisa mendapatkan data laba bersih per saham. Seandainya ada perusahaan yang tidak mencantumkan angka ini, bisa kita hitung sendiri dengan cara membagi laba bersih dengan jumlah saham beredar.

Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan ini akan mencatat perkembangan modal yang disetor oleh pemegang saham dalam suatu perusahaan. Inilah pos penting yang menunjukkan hak pemegang saham. Dari sinilah kita bisa belajar apakah uang kita berkembang atau malah merugi. Arti dan maksud pelaporan ini cukup jelas. Dalam laporan ini biasanya kita akan menjumpai: posisi saldo ekuitas awal tahun, jumlah laba bersih, jumlah dana yang dicadangkan apakah untuk modal usaha atau lainnya, juga jumlah dana yang dibagikan sebagai dividen (artinya mengurangi ekuitas).

Laporan Arus Kas

Inilah laporan penting lain yang berguna sebagai mekanisme kontrol apakah pelaporan laba/rugi atau neraca tadi benar. Seperti kita ketahui, kalau ada penjualan barang kepada perusahaan lain, biasanya perusahan tidak langsung menerima dana yang bisa dimasukkan kas, tetapi transaksi penjualan ini akan dimasukkan dalam posisi akuntansi. Inilah gunanya laporan arus kas, di sini kita bisa mengontrol apakah penjualan menghasilkan kas atau tidak. Dalam laporan arus ini ada tiga macam laporan utama berikut:

  • Arus kas dalam aktivitas operasi, berupa penerimaan/pengeluaran uang yang didapat dari jual/beli barang atau jasa, juga pembayaran kas untuk pemasok, karyawan, dll.
  • Arus kas dalam aktivitas investasi, berupa penerimaan/pengeluaran uang dari komponen yang dianggap sebagai unsur investasi. Unsur yang dianggap investasi biasanya kegiatan keuangan lain guna mendapatkan imbal balik baik langsung atau tidak langsung. Kegiatan investasi misalnya pembelian tanah, pembangunan pabrik, atau juga penyertaan modal di perusahaan lain.
  • Arus kas dalam aktivitas pendanaan, berupa penerimaan/pengeluaran uang dari komponen yang dianggap sebagai pendanaan (financing). Suatu misal perusahaan bisa menjual barang kepada perusahaan lain, seluruh stok habis, tapi sayangnya pembayaran baru selesai tiga bulan berikutnya. Maka perusahaan melakukan operasi pendanaan (baca: hutang ke bank) untuk mendapatkan kas segar guna membiayai produksi dan menyediakan stok guna penjualan berikutnya. Seiring perusahaan mendapatkan pembayaran maka mereka bisa membayar kepada bank yang masuk dalam operasi investasi ini.

Laporan arus kas ini penting sekali agar kita bisa paham posisi keuangan dalam kondisi yang sebenarnya, yaitu perputaran uang yang sesungguhnya, bukan posisi keuangan dalam pos akuntansi.

Catatan

Perlu diingat, ada berbagai perbedaan praktik pada tiap-tiap perusahaan, baik dalam pencatatan neraca, laba rugi, dan arus kas. Dalam suatu operasi yang sama misalnya bunga dari bank, ada yang mencatatkan hal ini sebagai investasi, ada perusahaan lain mencatatkannya sebagai operasi. Ada yang mencatatkan beban bunga sebelum laba kotor, ada yang mencatatkan sebelum laba bersih. Kita perlu paham adanya perbedaan ini. Tak perlu pusing, kita hanya perlu memahaminya agar kita bisa melihat posisi keuangan secara proporsional. Mempelajari laporan keuangan bukan ilmu eksakta, diperlukan seni dan kebiasaan sehingga lambat laun kita akan makin paham dan tak terasa seperti para musisi memahami notasi musik, kita juga akan bisa secara cepat mendengar nada perusahaan apakah merdu atau tidak dari membaca laporan keuangannya.

Dalam tulisan berikutnya kita akan mempelajari cara terbentuknya laporan keuangan secara lebih dalam.

18 thoughts on “Laporan Keuangan (2): Empat Jenis Laporan Keuangan

  1. Salam hangat,

    Saudaraku Bola Salju, saya banyak belajar dari anda ttg saham tapi kali ini saya rasa anda perlu memeriksa lagi konsep anda, khususnya ttg konsep neraca. Apa yg harus sama timbangannya dalam Laporan Neraca? Seperti kita tahu, dalam Laporan Neraca terdapat tiga unsur, yaitu Aset, Liabilitas (Utang), dan Ekuitas (Modal). Hubungan ketiganya dirumuskan: Aset = Utang + Modal. Itulah sebabnya jumlah aset selalu sama dengan jumlah utang ditambah modal.
    Praktik akuntansinya kira-kira begini: modal dibelikan aset. Di sini berlaku keseimbangan: Aset = Modal.
    Jika aset yg ada masih dirasa kurang, perusahaan akan meminjam uang (utang). Utang ini digunakan untuk menambah aset, maka di sini berlaku keseimbangan: Aset = Modal + Utang.
    Bisa saja seseorang memulai usaha dengan seluruh modalnya dari utang. Maka di sini berlaku keseimbangan: Aset = Utang.
    Dari konsep ini saya ingin menyinggung cara anda “mencari saham yang harganya sangat menarik”. Dalam kasus saham CLPI seperti yg telah anda alami, anda membagi kapitalisasi pasar dengan aset perusahaan. Ini cara yg belum bersih, karena aset perusahaan masih mengandung utang. Yg lebih bersih ialah dengan menghitung PBV, karena pada PBV, kapitalisasi pasar dibandingkan dengan modal. Nilai PBV (market cap dibagi modal) pasti lebih kecil daripada market cap dibagi aset, jadi lebih meyakinkan.
    Anda bicara tentang “margin keamanan”. Maka cara yg anda lakukan (membagi market cap dg aset) belum menjamin keamanan. Katakanlah sebuah perusahaan bangkrut, apa yang bisa dilakukan perusahaan? Menjual seluruh aset. Dikemanakan hasil penjualan aset ini? Pertama untuk bayar Utang, barulah sisanya dibagikan kepada para pemodal.
    Demikian. Maaf jika saya keliru. Saya belajarnya belum lama.

    Salam
    AsepS

    1. Saya rasa konsep neraca yang saya sampaikan di tulisan ini sudah betul, yaitu ada dua: Aset dan Kewajiban. Aset adalah Kewajiban secara prinsip memang begitu. Prinsipnya aset harus sama dengan kewajiban. Nah, mungkin istilah bahasa saja, kewajiban di sini tidak sama dengan hutang, kewajiban adalah hutang + shareholder’s equity. Kalau Aset = Hutang + Modal agak kurang betul. Kalau Aset = Hutang (lancar+tidak) + ekuitas, itu betul. Di mana ekuitas sendiri terdiri modal + laba bersih, ekuitas ini selisih aset dikurangi hutang.

      Tentang konsep PBV, kita harus tahu Book Value dulu. BV = Total Aset – Hutang, biasanya juga disebut shareholder’s equity atau ekuitas. Seperti para pakar bilang, memandang BV seperti ini saja ada banyak kelemahan, ekuitas di posisi neraca kan berwujud menjadi aset. Padahal sifat aset ada yang bisa langsung dijual, ada yang nilainya berkurang banyak bila langsung dijual, ada pula aset tak berwujud. Di situlah para value investor biasanya mengurangi aset yang tidak gampang diuangkan, seperti yang saya lakukan di kalkulasi CLPI itu. Jadi kalau BV saja bisa bermasalah karena terlalu optimis, saya merasa menilai perusahaan hanya dari PBV saja kurang bagus.

      Mengenai detil kalkulasi CLPI, saya akan pelajari dulu. Mungkin ada kesalahpahaman. Mungkin saya ada salah kutip/tulis. Sepertinya saya perlu menyajikan data biar argumen dan pembacaan gamblang :) Bila perlu saya akan jawab di tulisan tersebut sebagai update atau tulisan baru. Terima kasih atas komentarnya.

      Tak perlu sungkan pak. Saya di sini juga masih belajar kok. Kita sama-sama belajar.

  2. Sekadar penjernihan istilah, saya menggunakan istilah Utang dalam arti yang sama persis dengan Liabilitas ataupun Kewajiban. Kemudian istilah Modal sama persis dengan Ekuitas.

    Aset bukan hanya Kewajiban. Aset = Utang (Kewajiban; Liabilitas) + Modal (Ekuitas), ini adalah rumus akuntansi.

    Silakan anda cek angka di halaman Aset dan di halaman Liabilitas+Ekuitas, jumlahnya pasti sama.

    Salam,

    1. Anda tadi di atas kan bilang Aset = Modal + Utang, istilah modal saja mungkin juga kurang tepat, maka saya koreksi di tulisan di atas. Aset = Utang + Ekuitas. Ekuitas sendiri = modal + laba/rugi. Itu yang saya sampaikan di balasan komentar di atas, Pak :)

      Memang tulisan panduan ini belum lengkap. Apa saya terlalu sederhana pembahasannya ya? Saya belum sampai membahas detail Aset dan Kewajiban soalnya, ternyata pak Asep sudah melangkah jauh ke sana hehehe

      Terima kasih!

    1. Terima kasih komentarnya pak.
      Rencananya saya akan mengubah redaksi bagian neraca di atas. Rasanya memang ada yang kurang jelas karena penjelasan hanya berhenti Aset = Kewajiban (Liabilities) saja.

  3. Saya kira masalahnya di konsep Kewajiban, di mana anda memasukkan Ekuitas ke dalamnya. Ekuitas bukan kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang harus dibayar kepada pihak ketiga (orang lain, bank), sedangkan para pemodal bukan pihak ketiga. Pemodal sama dengan pemilik perusahaan, atau mgkn boleh juga disebut pihak pertama.

    Apakah perusahaan punya kewajiban membayar sesuatu kepada pemiliknya sendiri? Rasanya kok janggal ya. Tentunya perusahaan harus bekerja sebaik mungkin supaya mendapat laba, tapi dia TIDAK WAJIB mendapat laba. Sistem yang berlaku bagi para pemodal adalah bagi hasil (share), kalau untung ya dibagi, rugi juga dibagi.

    Jika sebuah perusahaan bangkrut, misalnya, maka yang WAJIB didahulukan untuk dibayar adalah pihak ketiga (para pemberi utang). Sisanya, kalau ada, baru dibagikan kepada para pemodal.

    Itulah kenapa Aset bukan hanya Kewajiban. Aset adalah Kewajiban plus Ekuitas.

    1. Yth. Pak Asep, konsep neraca memang demikian. Silakan dilihat di seluruh laporan keuangan perusahaan, bagian kanan atau Liabilities yang menyeimbangkan bagian kiri atau Aset. Konsepnya hampir sama meski istilahnya ada yang beda-beda. Mohon baca artikel saya ini, juga baca ulang komentar Anda dan balasan saya di atas, Anda sendiri yang bingung dan tidak konsisten. Saya pahami kebingungan Anda, karena dulu saya juga bingung. Mohon bersabar :)

    2. Pagi ini ketika menyiapkan lanjutan tulisan ini, saya mempelajari lagi tulisan ini. Saya akhirnya baru sadar telah terjadi kesalahan fatal dalam penulisan saya di atas, terutama tentang konsep Kewajiban. Konsep neraca bahwa di sebelah kiri adalah harta milik perusahaan dan sebalah kanan adalah hak yang dimiliki oleh orang lain tetaplah benar. Ini konsep besar yang sangat penting. Kekelirun saya adalah bersikukuh bahwa di sebelah kanan NAMANYA adalah Kewajiban saja. Saya ngotot namanya benar begitu saja meski saya paham konsepnya bukan hanya Kewajiban tapi juga ditambah Ekuitas. Sesungguhnya sebelah kanan memang terdiri dari Kewajiban (Liabilities) dan Ekuitas (shareholder’s equity). Tapi penulisan dan labelnya biasanya mencantumkan dua hal yaitu: KEWAJIBAN DAN EKUITAS. Tanpa mengecek kembali saya mengabaikan kritik Pak Asep dalam hal ini. Pernyataan Pak Asep benar. Tulisan di atas sudah dimutakhirkan dengan pengistilahan yang benar.

      Tapi satu hal pernyataan Pak Asep dalam komentar di atas yaitu: Aset = Modal + Utang, saya bilang Modal saja tak cukup untuk menjelaskan konsep ini, yang benar adalah Ekuitas. Argumen saya tetap benar.

      Saya mohon maaf terhadap Pak Asep atas kesalahan ini sekaligus berterima kasih karena kritik dan komentarnya lah tulisan ini bisa diperbaiki sehingga benar. Saya berharap Pak Asep tak kapok terus memberi kritik bila ada hak yang salah dalam tulisan saya. Mohon maaf bila terjadinya diskusi kurang terarah gara-gara kesilapan saya ini. Saya akan belajar lebih hati-hati di waktu yang akan datang. Terima kasih.

  4. Salam,

    Menurut saya, pada hakikatnya ekuitas dan modal itu sama. Jika menurut anda Ekuitas itu Modal + Laba Bersih, maka sy ingin menyampaikan tiga catatan:

    1. Bahwa perusahaan tsb sudah berjalan lebih dari satu periode laporan keuangan. Jika perusahaan baru berdiri, tentu blm ada laba bersih, shg yg ada di kolom Ekuitas hanya Modal atau Modal Awal saja.
    2. Tidak selamanya Laba Bersih ditambahkan ke kolom Ekuitas. Sebagian ada yang dibagikan kepada pemegang saham dlm bentuk dividen, ada yg dipakai untuk membayar utang, dan ada yg digunakan untuk menambah modal usaha.
    3. Laba yg ditambahkan ke modal usaha, istilah yang biasa dipakai bukan Laba Bersih, tapi Retained Earning (Salo Laba atau Laba Ditahan). Kadang2 ditambahkan keterangan “Saldo Laba yg Belum/Sudah Ditentukan Penggunaannya”.

    Begitu pula, Kewajiban atau Liabilities pada hakikatnya sama dengan Utang, karena akun-akun yg ada di kolom Kewajiban isinya utang semua. Utang dalam berbagai bentuknya. Utang bank, utang kpd pihak ketiga, utang kepada pihak berelasi, utang usaha, utang pajak, utang dividen, biaya yg masih harus dibayar, gaji karyawan yg blm dibayar, dll.

    1. Pak Asep, saya tidak pernah bilang laba bersih, tapi laba/rugi.

      Tentang catatan Anda:
      1. Betul dan setuju. Konsepnya memang demikian.
      2. Tak pernah ada laba bersih masuk posisi ekuitas di neraca. Laba bersih biasanya di laporan laba rugi. Di neraca hanya Saldo Laba (Rugi). Posisi dividen pun tak akan pernah tercatat di neraca karena sifat neraca hanya snapshot (gambaran keuangan di rekening). Dividen di laporan ekuitas sendiri. Bahkan kalau Anda sadar, konsep Saldo Laba (RUgi) di neraca itu hanya sebagai penyeimbang Aset saja, maka bisa positif (berarti untung), bisa negatif (rugi). Saya bilang konsep lho ya :) Tapi alur yang sebenarnya memang ada hubungan laba bersih dari laporan laba rugi, lalu menuju posisi laba rugi di ekuitas, dan nilai saldo labanya ekuitas baru akan masuk ke neraca sebagai salso laba (rugi).
      3. Ini di laporan ekuitas pula.

      Kewajiban = Liabilities = Utang = Pasiva, saya setuju.

  5. Wah, sempat keder juga nih mengikuti diskusi Pak Asep dan Tuan Bola Salju. Padahal nilai akuntansi saya pas SMA dulu hanya pas2-an, jadi sampai jungkir balik juga supaya tidak ketinggalan. Yah, ini adalah harga yang harus saya bayar sebagai seorang investor agresif. Saya anggap saja investasi terhadap diri pribadi karena ini akan berbuah sangat manis jika investasi saham saya memberikan ‘adequate return’ menurut Benjamin Graham. :D

    1. Makasih komentarnya. Saya dulu malah heran dengan pekerjaan akunting itu. Apa gunanya? Hehehe… hukum karma, sekarang malah bergulat dengan akuntansi untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang :)

  6. Saya sedang belajar juga tentang laporan keuangan ini. Background pendidikan saya juga bukan ekonomi. Hanya ingin konfirmasi kepada yang sudah mengerti. Salah satu kesimpulan yang saya tarik, adalah PERBUAHAN EQUITY itu sama dengan LABA/RUGI BERSIH. Maksud saya itu adalah angka secara matematis. Sedang dalam operationalnya bisa saja perusahaan itu tak beraktivitas, tapi (misalnya) ada perubahan besar pada harga asset tak bergerak yang dikuasai yang menyebabkan laba/rugi bersih. Mohon konfirmasi atau koreksi :)

    1. Perubahan equity TIDAK SAMA dengan laba/rugi bersih. Laba/rugi (dalam laporan laba/rugi) adalah penjabaran selisih dari pendapatan dipotong oleh capex dan biaya-biaya lain serta pajak. EQUITY adalah perubahan posisi equity (di bagian liabilitas & ekuitas). Memang benar dalam laporan perubahan ekuitas biasanya menyertakan tambahan/pengurangan dari laba atau rugi yang terjadi.

Tinggalkan Balasan