Transaksi 27 Februari 2012

Transaksi pembelian saham Indospring (INDS) adalah transaksi rutin mingguan untuk memenuhi kuota lot dalam portfolio, apalagi harganya sedang turun. Dengan transaksi ini akhirnya seluruh batas maksimal portfolio 10 lot untuk saham Indospring terpenuhi.

Saham Trias Sentosa (TRST) juga sedang meluncur ke 420 dan bahkan sempat menuju 415 beberapa saat. Jumlah akhir portfolio Trias sudah melebihi kuota 65 lot. Tujuan pembelian 5 lot tambahan adalah untuk mencari peluang safe average down saham ini.

Disclaimer: Ini bukan saran untuk bertransaksi beli/jual saham. Segala transaksi saham yang Anda lakukan adalah tanggungjawab Anda sendiri.

TRANSAKSI

  • INDS: beli 500 saham pada harga Rp3.500,-
  • TRST: beli 2.500 saham pada harga Rp420,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • TRST: 35.000 saham pada harga rata-rata Rp408,57/410,56* per saham
  • JTPE: 5.000 saham diperoleh tanpa biaya (surplus) Rp31/15* per saham
  • ADMF: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp11.650/11.726,63* per saham
  • PANS: 500 saham pada harga rata-rata Rp1.520/1.708* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • INDS: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp3.580/3.587,16* per saham
  • EKAD: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp300/300,6* per saham
  • BRNA: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp1.700/1.703,4 per saham
  • BBRI: 500 saham pada harga rata-rata Rp6.900/6.913,8 per saham

Catatan: *harga rata-rata net asli dan harga rata-rata net menyertakan biaya transaksi.

Yang Baru dan Penegasan yang Lama

Mulai hari ini saya mengenalkan menu baru bernama Value Investor yang bisa diakses dari mana saja di seluruh situs ini. Menu baru ini, seperti namanya, akan berisi data dan profil singkat para value investor. Data di halaman ini akan senantiasa dimutakhirkan agar informasinya selalu akurat dengan perkembangan value investor. Saya juga punya rencana akan menambah satu menu lainnya yang pasti akan berguna buat pembaca. Tunggu saja tanggal mainnya :)

Penegasan

Kenapa value investing? Mungkin demikian Anda bertanya. Mungkin ada yang menyebut gaya ini sebagai fundamentalis, tapi saya lebih suka memakai istilah value investor. Alasannya adalah karena gaya investasi inilah yang saya anut.  Jadi ini sekaligus sebagai penegasan, blog ini adalah tentang value investing. Bukan situs panduan cara cepat menjadi kaya lewat saham. Bukan panduan saham ala metode yang lain, seperti analisis teknikal misalnya, karena itu semua bukan kapasitas saya. Saya tak punya keahlian di bidang-bidang lainnya itu. Bila Anda baru di blog ini, maka ini sekaliagus sebagai perkenalan bahwa blog ini hanya akan mengulas, mengajak, memandu, mengingatkan, merayakan dan mencoba hidup dalam sebuah gaya investasi bernama value investing.

Format Blog

Bila ada yang bertanya kenapa format blog? Kenapa saya menampilkan portfolio? Atau ada yang bertanya, apakah ini portfolio nyata? Apakah fiksi atau simulasi? Kenapa saya menampilkan laporan keuangan? Kenapa saya menampilkan transaksi harian? Hal itu semua ada alasannya.

Saya baru masuk investasi saham sejak akhir 2010. Tapi pada saat itu saya sudah berusaha belajar tiga tahun sebelumnya, dengan membaca The Intelligent Investor dan buku-buku lainnya, juga berlatih analisa fundamental. Namun pada 2010 pun kemampuan analisis fundamental saja masih dasar, membaca laporan keuangan pun masih meraba-raba. Ada sebuah pertanyaan besar dalam diri saya, bagaimana agar saya bisa belajar secara cepat, disiplin, terukur, sehingga investasi saya sukses. Jawabannya adalah blog ini.

Pertanyaan setiap orang biasa yang ingin terjun ke dunia investasi saham adalah bisakah orang biasa tanpa pendidikan finansial formal bisa sukses di investasi saham, yang konon liar dan membuat banyak orang tidak berhasil ini? Saya punya pertanyaan serupa, bisakah saya berhasil? Pada akhir 2010 belum ada blog investasi yang menyajikan transaksi saham, portfolio dan laporan keuangan kelolaannya secara terbuka.

Saya memberanikan diri untuk tampil berbeda dengan melakukan eksperimen ini. Dengan pelaporan terbuka, maka saya tak bisa berbohong lagi, seandainya pilihan saya keliru maka saya dan Anda akan tahu kekeliruan tersebut. Semua kekeliruan, proses belajar, analisa, penilaian, akan saya bagi secara terbuka di blog ini agar saya bisa belajar dari kekeliruan saya, sehinga Anda tak perlu mengalaminya. Dan syukur-syukur kalau ada kesuksesan, semua orang bisa melihatnya sebagai hasil dari proses belajar yang rumit dan lama. Itulah kenapa semua informasi investasi saya buka di media ini. Itu semua nyata, bukan fiksi, bukan untuk niat pamer. Saya tak berharap setiap orang yang ingin sukses di dunia saham meniru saya dengan membuka data investasinya, karena hal itu bisa jadi tidak baik dan kontra-produktif, termasuk pada faktor privasi dan keamanan. Itulah alasan saya tidak membuka jati diri saya, juga karena hal itu tak penting.

Perlu diketahui, saya mungkin akan berhenti berbagi informasi investasi (transaksi, portfolio, laporan keuangan) di masa yang akan datang, entah awal 2013 atau setelahnya, saya belum tahu. Saya ada rencana tapi tidak pasti tentang hal itu. Semua masih dalam pertimbangan. Bila waktunya tiba pembaca blog ini akan tahu paling awal tentang rencana ini. Tapi selama informasi ini masih terbuka, silakan baca dan silakan kritik. Semoga kita semua bisa belajar dari media ini.

Li Lu, Kandidat Penerus Buffett?

Li Lu (foto WSJ)

Kali ini saya ingin berbagi tentang seorang value investor asal negeri Cina bernama Li Lu. DIa lahir pada 1966. Dua puluh tahun lalu dia adalah pemimpin demonstran di Tiananmen Square. Setelah masa itu ia dan teman-temannya mengasingkan diri ke Perancis. Dari Perancis ia kemudian mendapat kesempatan kuliah di Columbia University, Amerika Serikat, sarang value investor dari era Graham hingga sekarang. Di sinilah ia ditakdirkan menjadi seorang value investor.

Li Lu saat itu masih penasaran kenapa kadang-kadang bisa berhasil dalam saham, atau kadang-kadang rugi besar. Setelah mendengar ceraham Buffett tentang cara pandangnya dalam berinvestasi, segala konsep yang ada di kepalanya berubah.

Lanjut membaca

Transaksi 23 Februari 2012

Saya selalu senang kalau berinvestasi di perusahaan baru seketika harga sahamnya turun. Hampir selalu begitu setiap saat. Dan saya percaya itu tandanya pilihan saya tepat. Jaman sekarang kok percaya mitos, hehehe :)

Begitu pula yang terjadi ketika saya menaruh investasi pertama saya di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ini. Saya tak perlu mengulas detil perusahaan ini karena pasti banyak yang sudah tahu tentang perusahaan ini. Tapi satu hal, harga pembelian saham BRI ini memang tidak bisa dianggap murah. Padahal ada rencana saya hanya membeli saham dengan diskon minimal 30% untuk perusahaan besar-tumbuh. Maka alasan pembelian ini ada disengaja karena dua alasan yang saya rasa logis. Alasan tersebut adalah:

  • Alasan pertama, saya percaya rasio PEG yang dipopulerkan oleh Peter Lynch, bekas legenda manajer investasi dari Fidelity. Lynch percaya bahwa bila perusahaan punya rasio P/E 15 dengan growth earning 30% (rasio PEG 15/30 = 0,5) itu lebih baik daripada perusahaan dengan rasio P/E 5 tapi growth cuma 7% (rasio PEG 5/7 atau 0,7. Dalam jangka panjang pertumbuhan perusahaan pertama biasanya akan lebih bagus. BRI mempunyai rasio P/E 11,12 dengan growth 24%, maka PEG-nya di bawah 0,5, jadi masih terlihat bagus. Inilah pembelian saham pertama saya pada harga yang premium atau agak mahal.
  • Alasan kedua adalah alasan-alasan pribadi, termasuk: saya ingin memantau lagi saham ini, selain juga ingin mempunyai akses ke RUPS yang mungkin akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Alasan selain itu adalah keluarga saya adalah nasabah loyal bank ini, baik untuk urusan kredit atau tabungan. Maka tak ada salahnya saya mengambil secuil keuntungan dari bank ini, ini toh dari keringat keluarga saya juga.

Tapi saya belum akan menaikkan posisi BRI dalam waktu dekat. Saya akan melihat perkembangan laporan keuangan tahunannya, juga melihat perkembangan harganya. Bila ada penurunan harga saham yang tajam maka tak ragu lagi saya akan coba menambahnya, tentu bila ada kecukupan dana. Saya bisa “menabung” di BRI tanpa perlu menjadi nasabah BRI :)

Disclaimer: Ini bukan saran untuk bertransaksi beli/jual saham. Segala transaksi saham yang Anda lakukan adalah tanggungjawab Anda sendiri.

TRANSAKSI

  • BBRI: beli 500 saham pada harga Rp6.900,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • TRST: 32.500 saham pada harga rata-rata Rp407,69/409,77* per saham
  • JTPE: 5.000 saham diperoleh tanpa biaya (surplus) Rp31/15* per saham
  • ADMF: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp11.650/11.726,63* per saham
  • PANS: 500 saham pada harga rata-rata Rp1.520/1.708* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • INDS: 4.500 saham pada harga rata-rata Rp3.588,89/3.596,06* per saham
  • EKAD: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp300/300,6* per saham
  • BRNA: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp1.700/1.703,4 per saham
  • BBRI: 500 saham pada harga rata-rata Rp6.900/6.913,8 per saham

Catatan: *harga rata-rata net asli dan harga rata-rata net menyertakan biaya transaksi.

Laporan Tahunan ADMF 2011

Saya baru baca ringkasan berita dari harian Bisnis, katanya PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) salah satu emiten dalam portfolio saya, sudah melaporkan laporan tahunannya. Berkasnya sudah bisa diunduh di situs BEI: Laporan Keuangan Tahunan Adira Dinamika Multi Finance tahun buku 2011.

Berikut kutipan ringkasan dari Bisnis:

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk membukukan kenaikan laba bersih komprehensif Rp1,58 triliun pada tahun lalu, meningkat 7,68% dari Rp1,46 triliun tahun sebelumnya.

Dalam paparan laporan keuangan di surat kabar hari ini, manajemen perusahaan yang masih dipimpin Stanley Setia Atmadja itu menelurkan laba bersih akibat meningkatnya pendapatan perseroan sebesar 36,08% pada 2011 dari 2010.

Pendapatan itu dibukukan naik menjadi Rp5,3 triliun pada 2011 dari Rp3,89 triliun pada 2010, yang sebagian besar disumbangkan oleh pendapatan dari bisnis pembiayaan konsumen.

Pembiayaan konsumen perusahaan dibukukan sebesar Rp3 triliun pada 2011, meningkat 41,97% dari Rp2,11 triliun yang dibukukan sepanjang 2010.

Dari sisi aset, emiten saham dan obligasi berkode ADMF itu membukukan peningkatan aset 122,24% menjadi Rp16,88 triliun pada 2011 dari Rp7,59 triliun pada 2010.

Mantap sekali kenaikan asetnya. Sementara pertumbuhan bisnisnya masih meyakinkan. Dari laporan laba rugi ada dua pos yang cukup mengurangi margin laba bersih, sehingga kenaikan laba bersih cuma 7,83% dibandingkan kenaikan tahun sebelumnya 21,12%. Pos pertama tampaknya ada peningkatan penyisihan kerugian dari piutang yang bermasalah, dengan asumsi rasio pembiayan naik 41% dari 2,11 T ke 3 T, sementara penyisihan kerugian piutang konsemen naik 135% dari 193,46 miliar ke 456,33 miliar. Apakah ini tanda ekonomi Indonesia semakin berat sehingga nasabah bermasalah Adira bertambah? Pos kedua adalah beban bunga yang naik 295%, seperti kita tahu Adira banyak meningkatkan pinjaman guna mencari dana guna peningkatan pembiayaan nasabah.

Dengan data laba bersih baru ini, variabel EPS .1583, asumsi dividen 65% (seperti asumsi tahun lalu) dari laba bersih atau 1.028,95 per saham, maka perhitungan harga wajar memakai metode arus kas terdiskon dari harga saham 12.600 menunjukkan masih ada margin of safety 57%. Posisi saya tidak akan berubah pada saham Adira.

Disclaimer: Ini bukan saran untuk bertransaksi beli/jual saham. Segala transaksi saham yang Anda lakukan adalah tanggungjawab Anda sendiri.

Walter Schloss Meninggal

Walter Schloss, salah seorang murid langsung Graham, juga teman Warren Buffett, dan pernah menjadi karyawan di Graham-Newman fund, meninggal pada usia 95 tahun karena leukimia.

Walter Schloss disebut sebagai salah satu super-investor oleh Warren Buffet di penutup buku The Intelliegent Investor dalam esai berjudul The Super Investors of Graham-and-Doddsville (bisa dibaca di link tersebut, bacaan wajib buat value investor). Dari esai Buffett tersebut Walter tercatat menorehkan average annual return 21,3%. Sementara itu dalam versi agak lebih panjang, average annual return Schloss adalah 15,3% untuk jangka waktu 45 tahun. Uang 10 juta akan menjadi 12,3 M bila dikelola oleh Schloss selama itu.

Dalam Value Investing From Graham to Buffett and Beyond yang ditulis oleh Bruce Greenwald (2001), keunikan dari manajemen investasi Schloss (yang dikelolah Walter dan anaknya, Edwin) adalah minimalisme. Kantornya terdiri dari 1 petak ruang (apakah sewa saya kurang tahu). Mereka tidak mengunjungi perusahaan. Mereka jarang bicara pada manajemen. Mereka tidak menggunakan internet. Menurut laporan lain kantor mereka membutuhkan biaya operasional $11.000 padahal manajemen investasi mereka menghasilkan keuntungan 19 juta dolar. Hal unik lain dari gaya investasi mereka adalah seketika tahu saham yang masih undervalued mereka akan membeli dalam posisi kecil. Lambat laun ketika ada perkembangan menarik mereka akan menambah posisi semakin besar. Schloss juga dikenal memegang lebih dari ribuan saham dalam portfolio mereka.

Dari Schloss kita bisa belajar salah satu gaya investasi value investor sukses. May he rest in peace.

Referensi dan bacaan Walter Schloss:

Transaksi 20 Februari 2012

Transaksi rutin untuk menambah saham Indospring (INDS) hingga komposisi portfolio mencapai 10 lot. Hari ini harga saham kebetulan turun. Siang ketika saya akan transaksi posisi offer 3575, posisi bid 3550. Saya taruh bid pada 3525. Ternyata ada penawaran yang cocok. Lumayan jadi bisa menurunkan harga rata-rata nih :)

Disclaimer: Ini bukan saran untuk bertransaksi beli/jual saham. Segala transaksi saham yang Anda lakukan adalah tanggungjawab Anda sendiri.

TRANSAKSI

  • INDS: beli 500 saham pada harga Rp3.525,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • TRST: 32.500 saham pada harga rata-rata Rp407,69/409,77* per saham
  • JTPE: 5.000 saham diperoleh tanpa biaya (surplus) Rp31/15* per saham
  • ADMF: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp11.650/11.726,63* per saham
  • PANS: 500 saham pada harga rata-rata Rp1.520/1.708* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • INDS: 4.500 saham pada harga rata-rata Rp3.588,89/3.596,06* per saham
  • EKAD: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp300/300,6* per saham
  • BRNA: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp1.700/1.703,4 per saham

Catatan: *harga rata-rata net asli dan harga rata-rata net menyertakan biaya transaksi.

Portfolio Buffett Akhir 2011

Membicarakan seorang Warren Buffett memang tak ada habisnya. Legenda investasi kita ini belum lama menyatakan dengan tegas tidak tertarik emas dan lebih memilih saham. Buffett pernah bilang ia lebih suka memegang 9 perusahaan setara Exxon, dimana nilainya setara dengan seluruh emas di bumi beserta cadangannya yang belum diambil.

Nah, kegiatan lain yang suka saya lakukan adalah memperhatikan bagaimana pergerakan portfolio Warren Buffett. Tidak. Saya belum ingin masuk bursa Amerika kok. Tetapi dari mempelajari portfolio Buffett saja kita bisa belajar banyak tentang cara dan strategi investasinya. Kali ini kita coba lihat bagaimana portfolio Buffett di akhir 2011. Ternyata ada banyak perkembangan baru di sana. Apa saja ya? Mari kita lihat.

Lanjut membaca

Transaksi 16 Februari 2012

Transaksi kali ini untuk menambah saham Adira Dinamika Multi Finance (ADMF), saham Trias Sentosa (TRST) dan saham Berlina (BRNA). Eksekusi pembelian saya laksanakan hari ini karena sudah beberapa hari terakhir saham turun dalam seminggu ini, selain itu saya lihat harga ketiga saham ini pada hari ini masih menarik.

Alasan pembelian: 1) Adira sudah turun 300 poin dari harga terakhir saya beli, saya tempatkan pembelian 50 poin di bawah pada harga 12.250, sore hari langsung terserap dan harganya makin turun hingga 12.100. Pada harga rata-rata 11.727 saja saya percaya masih ada margin of safety 71%. 2) Trias juga sudah turun lagi beberapa poin dari 435, dan masih turun hingga 420. Dengan pembelian tambahan 425 sebanyak 5 lot maka harga rata-rata akan menjadi 409,77, masih ada batas keamanan 118%. 3) Hanya Berlina yang naik sementara ke 1.730, harga 1700 adalah pembelian saya sebelumnya, pada harga rata-rata 1.703 masih ada batas keamanan 78%.

Rencana portfolio Adira adalah 3 lot dengan batas toleransi maksimal 4 lot. Rencana portfolio Trias adalah 65 lot dengan batas toleransi maksimal 90 lot. Rencana portfolio Berlina adalah 10 lot dengan batas toleransi 15 lot. Ada perubahan sedikit dalam rencana portfolio ini karena ada tambahan dana investasi dan juga penyesuaian rencana portfolio dengan mengabaikan saham-saham lainnya. Dari daftar ini Adira dan Trias sudah tak mungkin ditambah, kecuali harganya turun signifikan, maka saya akan melakukan pembelian hingga batas maksimal. Sisa yang harganya masih menarik hanyalah Berlina dan Indospring (INDS). Pembelian sisa kedua saham ini akan saya laksanakan bertahap.

Disclaimer: Ini bukan saran untuk bertransaksi beli/jual saham. Segala transaksi saham yang Anda lakukan adalah tanggungjawab Anda sendiri.

TRANSAKSI

  • TRST: beli 2.500 saham pada harga Rp425,-
  • ADMF: beli 500 saham pada harga Rp12.250,-
  • BRNA: beli 500 saham pada harga Rp1.700,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • TRST: 32.500 saham pada harga rata-rata Rp407,69/409,77* per saham
  • JTPE: 5.000 saham diperoleh tanpa biaya (surplus) Rp31/15* per saham
  • ADMF: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp11.650/11.726,63* per saham
  • PANS: 500 saham pada harga rata-rata Rp1.520/1.708* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • INDS: 4.000 saham pada harga rata-rata Rp3.598,88/3.604,06* per saham
  • EKAD: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp300/300,6* per saham
  • BRNA: 1.500 saham pada harga rata-rata Rp1.700/1.703,4 per saham

Catatan: *harga rata-rata net asli dan harga rata-rata net menyertakan biaya transaksi.