Transaksi 29 November 2011

Hari ini penyakit jualan saya kambuh lagi. Tapi saya punya pemikiran lain tentang hal ini.

Mulai hari ini saya ingin kembali menekankan fokus portfolio pada saham lapis kedua sementara fokus pada saham besar (blue chip) akan diturunkan. Tapi saya belum matang tentang rencana ini, apakah perbandingannya saham besar vs lapis kedua nanti akan 30:70, atau 40:60, saya belum pas keputusannya. Yang penting saham lapis kedua harus lebih besar. Rencana ini penting karena dalam satu tahun ini saya bisa menaikkan aset secara signifikan dari saham lapis kedua, seperti CLPI. Saya memantapkan keputusan ini sejalan dengan pemikiran saya sejak lama bahwa saham lapis kedua mempunyai peluang kenaikan lebih besar dari sisi profitabilitas, meski risikonya juga tinggi. Tidak hanya Lo Kheng Hong yang menginspirasi saya. Lynch mengatakan hal serupa di buku One Up on Wall Street, meski tidak secara langsung. Ia mengatakan bahwa untuk saham-saham matured, seperti perusahaan blue chip, ia akan memegang dan memanfaatkan mereka untuk mendapatkan dividen dan kenaikan yang stabil. Sementara untuk mendapatkan peluang keuntungan signifikan, saham lapis kedua adalah tempatnya. Buffett juga mengatakan hal demikian, tapi ini terjemahan saya saja, dia bilang di pasar saham yang semakin tidak logis itulah tempat mendapatkan keuntungan besar. Intinya, kalau setuju dengan pemikiran ini, untuk mencapai hal ini kita harus hati-hati dalam memilih saham-saham tersebut.

Dari daftar portfolio yang masuk radar saya, saya cukup puas dengan saham perusahaan lapis kedua yang ada di portfolio saya. Sebut saja (dari awal saya kenal): ARNA, JTPE, TRST, PANS dan SMSM. Mereka adalah perusahaan-perusahaan bagus yang manajemennya telah menghasilkan pertumbuhan signifikan, secara stabil, dan juga ramah kepada pemegang saham. LSIP dan ADMF memang tidak masuk daftar LQ 45, tapi saya menganggap perusahaan ini adalah kategori besar dan sudah dikenal, banyak analis membahas saham ini. Semakin banyak analis membahas sebuah perusahaan, peluang mendapatkan keuangan besar mungkin berkurang, sebabnya sudah banyak investor yang memegang saham itu karena mengikuti saran dari para analis. Peluang terbaik adalah saham-saham yang dilupakan analis. Sebenarnya SMSM juga sudah banyak yang membahas, tapi saya menilai peluang keuntungan dari saham  ini masih ada peluang keuntungan yang banyak dari dividen dan pertumbuhannya.

Dalam rangka mencapai itu semua, saya memutuskan untuk keluar sejenak dari saham-saham yang saya anggap sudah terkenal. Saya punya rencana memanfaatkan kas untuk transaksi di masa yang akan datang, dan mengubah sedikit komposisi portfolio. Saya pasti akan masuk lagi di SMSM bila harganya cukup memadai lagi. Saya juga akan masuk di PGAS lebih banyak bila harganya jauh lebih murah lagi. Saya juga pasti akan masuk lagi di LSIP, karena ini saham favorit saya. Tapi hari ini saya menjual mereka semua.

Satu hal konyol terjadi, saya melepas 1 lot saham PANS di harga 1220 hari ini. Besok saya rencana mendapatkannya lagi di harga yang lebih masuk akal. Pendapat saya tentang PANS tidak berubah. Pertumbuhan Panin Sekuritas kemungkinan akan terhambat karena risiko pasar saham global yang masih bergejolak. Dalam evaluasi portfolio, terlihat pada kuartal ke-3 laba bersih saham ini menurun sebanyak -37%. Dari evaluasi lebih jauh, penurunan ini terjadi karena pada saat laporan akhir September itu, kondisi pasar saham sedang parah. Otomatis nilai aset Panin pasti akan jeblok. Hal ini masuk akal. Dari Laporan Keuangan kita dapat angka unrealized gain dari saham menurun 67M, sementara itu lini usaha manajemen investasi (reksadana) naik 46M. Wajar saja nilai penjualan mereka turun. Yang penting profil usaha perusahaan masih bagus. Saya tidak khawatir memegang saham ini, tapi ada pemikiran juga untuk menurunkan portfolio untuk menjaga peluang keuntungan lebih banyak di masa mendatang. Entahlah.

TRANSAKSI

  • LSIP: jual 500 saham pada harga Rp2.350,- (untung Rp150 per saham)
  • PANS: jual 500 saham pada harga Rp1.220,- (rugi 40 poin)
  • PGAS: jual 500 saham pada harga Rp3.000,- (untung 175-an per saham)
  • SMSM: jual 1.500 saham pada harga Rp1.310,- (impas)
  • SMSM: jual 4.500 saham pada harga Rp1.330,- (untung 10 poin)

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 9.500 saham pada harga rata-rata Rp1.261/1.267* per saham
  • SMSM: 500 saham pada harga rata-rata Rp645/791* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.025/2.041* per saham
  • TRST: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp411,67/412* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 28 November 2011

Rencana memegang sebagian sisa SMSM untuk waktu agak lama akhirnya berantakan. Hari ini saya kena serangan berubah pikiran karena terlalu lama memantau layar transaksi, dan mungkin terlalu banyak baca forum gosip saham, akhirnya jadi ingin melepas salah satu saham favorit ini. Pikiran penjualan lebih banyak ini hanya karena ambisi untuk mendapat saham SMSM lebih murah di masa yang akan datang, jadi akhirnya melepas saham yang telah ada. Ambisi, keserakahan, pikiran pendek adalah penyakit investor. Oh, kenapa saya bisa menjualnya pada harga rendah ini, saya juga menyesalinya. Sebabnya belakangan SMSM naik pesat bahkan mencapai 1400. Saya membukukan kerugian untuk transaksi ini. Ya, meski kerugian tersebut telah digantikan oleh dividen, tapi tetap saja rugi rasanya kurang enak.

Kali ini saya menambah TRST, dan ini adalah langkah yang benar. Saya juga menjaga komposisi pembelian agar tidak terlalu banyak, yakni 5 lot saja. Inginnya saya akan meningkatkan volume saham ini sedikit demi sedikit. Juga mungkin memanfaatkan sisa alokasi lot untuk penurunan harga rata-rata melalui safe average down.

TRANSAKSI

  • SMSM: jual 1.000 saham pada harga Rp1.270,-
  • TRST: beli 2.500 saham pada harga Rp405,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp1.259/1.264* per saham
  • PGAS: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.625/2.702* per saham
  • SMSM: 6.500 saham pada harga rata-rata Rp1.272,69/1.280* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.187,5/2.192* per saham
  • TRST: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp411,67/412* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 25 November 2011

Transaksi ini terlupa untuk dilaporkan di blog ini. Fokus transaksi ini adalah untuk keluar dari PGAS karena penilaian bahwa pertumbuhan PGAS kurang begitu memuaskan meski tidak merugi.

TRANSAKSI

  • PGAS: jual 1.500 saham pada harga Rp2.875,- (untung 50-an poin per saham)

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp1.259/1.264* per saham
  • PGAS: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.625/2.702* per saham
  • SMSM: 6.500 saham pada harga rata-rata Rp1.272,69/1.280* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.187,5/2.192* per saham
  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415/416* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 23 November 2011

Saya malu untuk mengaku bahwa saya perlu meralat sebuah keputusan dalam beberapa hari sebelumnya. Saya tidak meragukan Selamat Sempurna Tbk (SMSM), secara fundamental seluruh faktor dari perusahaan ini bagus. Sayangnya harga yang saya bayar saat saya masuk memang tinggi, meski dengan faktor margin of safety 30%. Apalagi ketika turun ke 1270-an ini, jaring pengamannya makin lebar. Makin aman. Tapi saya memerlukan uang kas untuk persiapan ke depan. Entah mempersiapkan apa, saya tidak tahu. Saya menjual 8 lot saham SMSM untuk hal ini. Karena menjual 2 lot di harga yang sama, saya hanya rugi biaya transaksi jual/beli. Untuk 6 lot lainnya terjadi realisasi kerugian kapital hingga Rp150.000, tapi kerugian ini akan tergantikan karena saya mendapatkan dividen SMSM cum-dividen pada 17 November lalu. Saya punya rencana memegang SMSM dalam kisaran 10-20 lot. Bila saatnya tepat dan harga sudah menarik, saya akan menambah SMSM lagi di harga yang lebih rendah. Bila tidak turun, biarkan ini jadi takdir investasi saya di SMSM, saya toh masih memegang 15 lot.

Pada hari ini saya mengucapkan selamat datang kembali pada Trias Sentosa Tbk (TRST). Setelah melepasnya pada harga 425 sebulan yang lalu (untung 10 rupiah dari harga masuk 415), kemudian tidak bisa mengambilnya karena harga TRST sudah melambung tinggi. Pada hari ini saham TRST menukik tajam hingga saya bisa membelinya lagi pada 415. Selamat datang produsen plastik film untuk kemasan makanan dan industri ini. Saya suka perusahaan ini. Setelah sekian lama meriset perusahaan ini lagi, saya menyesal telah melepasnya pada saat itu. Bahkan diantara kompetitornya yang masuk bursa, seperti Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) dan Indopoly Swakarya Industry (POLY), pertumbuhan usaha Trias terlihat lebih menarik. Dalam evaluasi terbaru saya, laba bersih terlihat tumbuh 80,39% antara Q3 2010 dan Q3 2011, harga wajar saham pun terlihat menarik pada 730-an atau margin of safety 73%. Kita tunggu saja di kuartal keempat, dari laporan tahunan 2010 margin of safety malah sampai 112%. Kalau harga sahamnya turun lebih dalam lagi, tentu dengan gembira saya akan menyambutnya.

TRANSAKSI

  • SMSM: jual 4.000 saham pada harga Rp1.270,-
  • TRST: beli 5.000 saham pada harga Rp415,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 2.000 saham pada harga rata-rata Rp2.812,5/2.825* per saham
  • SMSM: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.265,33/1.271* per saham (harga rata-rata dihitung dengan memasukkan peluang pemasukan dari dividen)
  • LSIP: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.187,5/2.192* per saham
  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415/416* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 21 November 2011

Melihat gelagat pasar saham yang penuh gejolak. Hari ini saya memutuskan mengurangi portfolio untuk alasan kas. Transaksi ini adalah untuk mendukung keputusan itu. Hari ini saya jual santai 1 lot saham ADMF di portfolio pada harga 12.200, padahal harga aktual saat itu 11.800. Sore hari saham tersebut laku. Saya akan masuk dan menambah lagi ADMF karena saya punya rencana memegang saham ini hingga 3 lot. Begitu pula PGAS, saya jual 1 lot untuk mendapatkan sedikit kas.

TRANSAKSI

  • ADMF: jual 500 saham pada harga Rp12.200,-
  • PGAS: jual 500 saham pada harga Rp3.000,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.100/10.280* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 2.000 saham pada harga rata-rata Rp2.812,5/2.825* per saham
  • SMSM: 11.500 saham pada harga rata-rata Rp1.312,61/1.315* per saham
  • LSIP: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.187,5/2.192* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 18 November 2011

Setelah tanggal cum-dividen saham PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) pada Kamis, 17 November 2011, saham SMSM ternyata langsung turun, bahkan sempat menyentuh angka 1220, dari harga 1330 kemarin. Sayang ketika saya tengok harga sudah menanjak ke kisaran 1270. Saya beli tambahan saham Selamat Sempurna dari sisa kas yang ada di rekening.

Langkah pembelian ini saya lakukan untuk menurunkan harga rata-rata pembelian saham, dengan menggunakan metode safe average down. Pada saatnya nanti, bila ada kesempatan harga sangat memadai untuk dijual, saya akan melepas sebagian saham Selamat Sempurna agar sesuai dengan rencana portfolio. Namun saya belum pasti dalam jumlah berapa saya akan memegang saham perusahaan ini, yang jelas lebih dari 10 lot tapi tak lebih dari 20 lot saja.

TRANSAKSI

  • SMSM: beli 1.000 saham pada harga Rp1.270,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp11.150/11.222* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 2.500 saham pada harga rata-rata Rp2.850/2.859* per saham
  • SMSM: 11.500 saham pada harga rata-rata Rp1.312,61/1.315* per saham
  • LSIP: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.187,5/2.192* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Inspirasi dari Lo Kheng Hong

Membaca wawancara Lo Keng Hong ini, saya langsung terkesima, ternyata ada sosok investor Indonesia yang mempunyai gaya investasi nilai–ala Graham/Buffett–dengan memilih perusahaan secara hati-hati, memilih perusahaan yang menguntungkan dan manajemen yang baik, yang harga sahamnya masih murah. Dan investasinya tumbuh puluhan ribu persen. Mencengangkan! Gaya investasinya adalah fundamental dan jangka panjang, ia menyimpan sahamnya bertahun-tahun, selama perusahaan tersebut menguntungkan. Inilah inspirasi baru bagi saya. Berikut kutipan-kutipan menarik yang saya kira perlu kita telaah:

Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya banyaknya bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe investor jangka panjang.

Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya besar. Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp 250 dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal gain-nya sudah 12.600%.

Itulah yang terjadi. Kebanyakan orang lebih tertarik keuntungan instan dari saham. Bukan mengharap keuntungan jangka panjang, padahal itulah tujuan sejati dari berinvestasi di saham. Menarik di sini bahwa portfolionya kebanyakan bukan di LQ45. Gaya saya juga seperti itu, meski belakangan agak mengkoleksi saham-saham LQ45. Tapi alasan saya cuma satu, karena belum mendapatkan sebuah perusahaan bagus pada harga yang menarik, seperti yang dulu saya lakukan dengan saham CLPI. Hal menarik kedua, kalau kita bermain jangka pendek, kita akan mendapatkan eceran. Ingat itu!

Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG) atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya cari tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta saya.

Lalu hal lain setelah fundamental:

Harga. Saya lihat dari price to earning ratio (PER)-nya. Jangan bilang saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya Rp 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa lebih murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan emitennya dalam membukukan keuntungan.

Lalu bagaimana menjawab bila sudah memilih saham bagus, tapi nilainya malah turun?

Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli.

Dia juga bilang tidak memantau saham sehari-hari. Investor (atau spekulator), banyak yang hanya ikut-ikutan:

Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat market mengalami booming, semua masuk. Saatmarket buang-buang saham, mereka ikut-ikutan.

Jadi, cara pandang fundemantal adalah kuncinya. Kemudian, horizon investasi adalah jangka panjang. Ia menambahkan di akhir wawancara dan merupakan kunci rahasia investasinya, seperti juga yang dilakukan Buffett.

Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut turun. Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari sebelumnya.

 

Transaksi 11 November 2011

Seperti sudah saya ungkap dalam tulisan sebelumnya, saya telah meralat kesalahan saya dalam evaluasi perusahaan Perusahaan Perkebunan London Sumateran (LSIP), atau juga disebut Lonsum. Dalam evaluasi akhir, ternyata pertumbuhan usaha Lonsum hingga triwulan ketiga tahun ini sangat pesat, penjualan tumbuh 46%, bahkan laba bersih tumbuh 104%. Dari harga terakhir 2.200, rasio P/E terlihat rendah, 8,6. Margin of safety pun terlihat menarik, sekitar 29,12%. Tak perlu khawatir untuk masuk.

TRANSAKSI

  • LSIP: beli 500 saham pada harga Rp2.200,-
  • LSIP: beli 500 saham pada harga Rp2.175,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp11.150/11.222* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 2.500 saham pada harga rata-rata Rp2.850/2.859* per saham
  • SMSM: 10.500 saham pada harga rata-rata Rp1.316,67/1.319* per saham
  • LSIP: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.187,5/2.192* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 10 November 2011

Saya menurunkan harapan saya pada saham ARNA, meskipun saya masih menilai perusahaan ini sebagai perusahaan bagus. Pertumbuhan perusahan pada tahun ini masih menarik, laba bersih menunjukkan peningkatan 11% hingga kuartal tiga ini. Rasio hutang perusahaan juga menurun 20%, sangat bagus tentu saja. Meski asetnya turun sedikit. Tapi pertumbuhan 11% terlihat menurun dibandingkan harapan saya pada tahun lalu, sekitar 17%. Salah satu faktor yang membuat saya menurunkan harapan adalah karena industri perusahaan, industri keramik, yang masih mempunyai bahaya pelambatan, selain kejenuhan dan karena harga bahan baku yang katanya cenderung naik. Dalam rencana portfolio, saya akan mengelola saham ARNA hingga 30 lot saja. Transaksi ini meneruskan rencana ini, selain karena mengambil peluang kenaikan harga saham dalam dua hari ini (bahkan pada 9 November sempat mencapai 370, tapi saya tidak aktif memantau saat itu).

TRANSAKSI

  • ARNA: jual 10.000 saham pada harga Rp355,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp222,5/231* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp11.150/11.222* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 2.500 saham pada harga rata-rata Rp2.850/2.859* per saham
  • SMSM: 10.500 saham pada harga rata-rata Rp1.316,67/1.319* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 2 November 2011

Transaksi hari ini untuk menambah komposisi SMSM dari sisa maksimum dana dalam rencana komposisi saham portfolio.

TRANSAKSI

  • SMSM: beli 500 saham pada harga Rp1.300,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp275,5/280* per saham
  • JTPE: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp219,8/222* per saham
  • ADMF: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp11.150/11.222* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 2.500 saham pada harga rata-rata Rp2.850/2.859* per saham
  • SMSM: 10.500 saham pada harga rata-rata Rp1.316,67/1.319* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.