Transaksi 21 Oktober 2011

Beberapa transaksi untuk menambah posisi PANS dan PGAS. Untuk PGAS, hal ini juga sebagai ganti dari kesalahan karena penjualan sebelumnya. Rencananya saya akan memegang 5 lot saham dalam portfolio.

Untuk ARNA, saya telah melakukan kalkulasi baru yang dihitung dari seluruh rekap transaksi saham ARNA sejak awal masuk portfolio. Hasil input ulang ini saya harap bisa secara jelas menunjukkan posisi harga rata-rata yang benar. Ternyata benar, harga rata-rata saham ARNA aslinya jauh lebih rendah, yaitu pada Rp275,5 atau Rp280 bila memperhitungkan biaya komisi pembelian/penjualan. Terlihat portfolio saya masih atraktif.

TRANSAKSI

  • PGAS: beli 500 saham pada harga Rp2.875,-
  • PANS: beli 500 saham pada harga Rp1.180,-
  • ARNA: jual 5.000 saham pada harga Rp340,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp275,5/280* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp193/196* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.800/10.921* per saham
  • PANS: 7.500 saham pada harga rata-rata Rp1.260/1.267* per saham
  • PGAS: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.687,5/2.700* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 20 Oktober 2011

Saya sepertinya agak terobsesi dengan safe average down, dan cenderung melangkah sangat oportunitis dengan mementingkan transaksi jangka pendek, akibatnya saya sedikit melupakan strategi investasi jangka panjang.

Hari ini, mungkin dengan terjadi agak impulsif karena melihat keuntungan temporer sambil memikirkan penurunan harga rata-rata, maka saya menjual 1 lot (500 lembar) saham PGAS di portfolio. Padahal untuk mendapatkannya di harga 2.650 adalah sebuah hal yang susah. Pasti transaksi ini menguntungkan, dengan gain sekitar 175 per saham, atau sekitar 6,19%. Padahal jumlah 2 lot tersebut masih jauh dari rencana akumulasi PGAS dalam rencana investasi, hingga 5 lot. Itulah.

Benar kata orang-orang, jauhi terminal saham dan kita akan lupa bertransaksi.

TRANSAKSI

  • PGAS: jual 500 saham pada harga Rp2.825,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 30.000 saham pada harga rata-rata Rp338,87/340* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp193/196* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.800/10.921* per saham
  • PANS: 7.000 saham pada harga rata-rata Rp1.266/1.273* per saham
  • PGAS: 500 saham pada harga rata-rata Rp2.575/2.587* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Menghitung Harga Rata-rata Pembelian Saham

Di era perdagangan saham yang serba elektronis, mengetahui harga rata-rata pembelian saham adalah perkara mudah. Cukup dengan mengakses menu portfolio (kebanyakan namanya ini), lalu kita bisa mengetahui komposisi seluruh saham koleksi kita, mulai dari jumlah lot, jumlah lembar saham, harga aktual yang selalu bergerak, dan juga harga rata-rata. Dari harga rata-rata inilah kita akan dengan mudah mengukur kerugian/keuntungan investasi dibandingkan pergerakan harga aktual. Dengan data yang mudah diperoleh, kenapa kita harus mencoba hitung lagi?

Ada masalah dengan harga rata-rata yang ditampilkan di perangkat lunak transaksi saham. Kalau kita hanya melakukan pembelian, pembelian, dan pembelian saja, maka harga rata-rata itu seharusnya akurat. Tapi langkah operasi investasi tidak mungkin demikian. Kadangkala kita menjual. Kalau setelah penjualan tersebut saham kita habis, itu tidak masalah, karena kalkulasi keuntungan/kerugian cukup jelas. Masalahnya bagaimana kalau kita pernah menjual sebagian saham dalam posisi lebih rendah atau lebih tinggi dari pada harga rata-rata terakhir? Ternyata harga rata-rata yang tampil jadi tidak benar!

Untuk itulah kita perlu menghitung harga rata-rata pembelian saham kita secara benar.

Lanjut membaca

Transaksi 18 Oktober 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok hari ini, jatuh -106 poin atau -2,87%. Memanfaatkan momen ini saya masuk ke sebuah saham blue chip dalam daftar indeks LQ-45 yang sedang turun dan harganya sudah cukup menarik, yaitu PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS). Pasti sudah banyak analis yang mengulas perusahaan ini, juga Parahita dalam blognya tahun lalu menghitung harga wajarnya pada kisaran Rp4.700. Menurut kalkulasi saya, dengan segala rasio agak konservatif, harga wajar pada kisaran Rp3.242, atau mempunyai margin of safety 22,34%. Harga yang menarik untuk sebuah perusahaan besar dengan profil keuangan yang bagus, potensi pertumbuhan bagus, margin laba tinggi, ROE tinggi, rasio hutang rendah, dan juga utilitas gas yang masih diperlukan dalam beberapa dekade ke depan.

Mengingat kondisi global yang belum stabil, saya memang tak yakin besok atau dalam waktu terdekat pasar saham akan berhenti turun, tapi inilah kesempatan saya buat masuk. Kalau harga saham PGAS turun lagi maka akan saya lakukan safe average down. Kalau naik ya biarkan saja. Rencana sementara adalah mengkoleksi sekitar 5 lot saham PGAS dalam komposisi portfolio. Dua (2) lot awal saya rasa cukup taktis. Mari kita lihat perkembangannya.

TRANSAKSI

  • PGAS: beli 1.000 saham pada harga Rp2.650,-

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 30.000 saham pada harga rata-rata Rp338,87/340* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp193/196* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.800/10.921* per saham
  • PANS: 7.000 saham pada harga rata-rata Rp1.266/1.273* per saham
  • PGAS: 1.000 saham pada harga rata-rata Rp2.650/2.655* per saham

Catatan: *harga rata-rata asli dan harga rata-rata menyertakan biaya transaksi.

Transaksi 12 Oktober 2011

Transaksi dalam rangka safe average down saham JTPE. Sebenarnya dari rencana portfolio saham JTPE belum terlalu banyak. Tapi kalau harganya turun lagi, saya akan coba akumulasi.

TRANSAKSI

  • JTPE: jual 5.000 saham pada harga Rp205 per saham, transaksi dalam rangka safe average down, masih untung 11% dari pembelian terakhir pada 183, atau untung 6% dari harga rata-rata terakhir. Ternyata penjualan saya ini adalah harga terendah. Pada hari itu JTPE melesat hingga 250-an.

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 30.000 saham pada harga rata-rata Rp338,87/340* per saham
  • JTPE: 15.000 saham pada harga rata-rata Rp193/196* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.800/10.921* per saham
  • PANS: 7.000 saham pada harga rata-rata Rp1.266/1.273* per saham

Catatan: *harga rata-rata adalah harga rata-rata asli dan harga rata-rata dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.

Korespondensi: Permintaan Artikel

Ada permintaan melalui surat-e agar saya menulis tentang cara valuasi harga saham dan juga cara membaca laporan keuangan.

Saya punya rencana untuk menulis kedua topik itu. Masalah waktunya, atau kapan, saya masih mencari waktu yang tepat untuk hal itu. Saya tidak ingin isi blog ini belum lengkap tapi saya sudah mengeluarkan ringkasan berbentuk strategi spesifik seperti itu, padahal dasar filosofinya belum dibahas.

Saya ingin memuat panduan investasi saham yang konservatif dan aman, semuanya dimulai dari filosofi yang benar, langkah yang benar, valuasi yang benar, dan kemudian sikap investasi dan strategi yang benar. Untuk melangkah menuju pembahasan valuasi saham, maka saya harus menulis beberapa tulisan lain sebagai pendukungnya. Untuk melangkah menuju kemampuan menelaah bisnis yang baik, maka kita harus cakap dalam membaca laporan keuangan. Urutannya bagaimana, saya masih mengatur cara untuk menuju ke sana. Tapi jujur saja, saya masih belajar kedua topik ini. Saya masih belajar dengan serius. Nanti kalau saya merasa sudah paham secara total kedua topik ini, berarti saya sudah siap menuliskannya.

Bila ingin membaca tentang metode valuasi, bisa dibaca di buku The Intelligent Investor tentang metode valuasi sederhana Ben Graham. Untuk metode Discounted Cash Flow, pembahasannya yang sederhana bisa ditelaah dari buku Getting Started in Value Investing yang ditulis Charles Mizrahi. Kebetulan dua metode tersebut yang saya pakai selama ini. Sobat kita Parahita Irawan sudah pernah membahas dua hal ini, silakan cari di blognya. Saya sendiri belajar metode DCF dari blognya itu. Kalau Anda mau, dengan googling pun kita bisa mencari dua metode ini secara rinci.

Ada yang bilang belajar strategi investasi itu gampang. Yang lebih susah bagi investor adalah keyakinan dan pemahaman filosofi investasi. Hanya sedikit orang yang tahan terhadap kerugian berbulan-bulan atau bertahun-tahun demi mempercayai sebuah teori sederhana dari investasi nilai. Bahkan banyak orang meragukan filosofi holding forever yang dikemukakan Fisher, dan menjadi panutan Buffett. Kalau landasan berpikir kita tak ada, tak peduli kita sudah paham puluhan metode valuasi saham, ketika saham yang kita pegang turun hingga -50% bisa jadi kita langsung panik dan tak percaya dengan pilihan kita. Juga sebaliknya ketika saham kita naik 50% saja, maka kita buru-buru menjualnya. Dengan landasan lemah, kita tak akan pernah bisa untung 500% atau justru kita selalu rugi dalam setiap langkah investasi kita. Maka landasan berpikir itu penting. Setelah kita paham filosofinya, barulah kita melangkah ke beberapa metode yang bersifat pragmatis.

Selamat berinvestasi!

Percaya Dirimu Sendiri

Dalam berinvestasi, salah satu faktor penting adalah mempercayai diri sendiri.

Terdengar tak masuk akal? Tunggu dulu. Bila diberikan fakta yang rinci, mungkin hal ini akan masuk akal.

Apa juga terdengar konyol? Ya, kalau Anda berpikir siapalah diri kita, tanpa bekal ilmu akuntansi hebat, tanpa jaringan yang dekat dengan direktur-direktur perusahaan terbuka, siapa yang akan menjamin sukses diri kita berinvestasi, kecuali ditipu oleh aksi pasar yang bisa bergerak dari kiri ke kanan, atas ke bawah, ibaratnya demikian.

Lalu, dengan cara apa kita bisa mempercayai diri kita sendiri, padahal kita sering salah?

Lanjut membaca

Laporan Keuangan Investasi BolaSalju.com Triwulan ke-3 tahun 2011

Berikut adalah laporan keuangan Investasi BolaSalju.com periode triwulan ke-3 yang berakhir pada 30 September 2011. Laporan keuangan disajikan apa adanya, disajikan ulang dari halaman Laporan Keuangan sebagai arsip.

Posisi aset bertambah 16,52%, hal ini disumbang dari penambahan modal disetor sebesar Rp8.000.000 dalam triwulan ini. Bisa dilihat, di tengah gejolak crash bursa, kinerja investasi tidak terlalu parah. Meski mengalami penurunan sedikit, namun itu wajar saja. Laba/rugi ekuitas masih terjaga dan tumbuh 4,36%.

Lanjut membaca

Strategi Safe Average Down

Setelah mengetahui strategi average down, kali ini kita coba membahas pengembangan strategi ini, yaitu strategi safe average down. Kata kunci dalam strategi ini adalah safe, yaitu faktor keselamatan atau keamanan dalam langkah investasi kita. Kaidah keamanan ini penting agar investasi kita mempunyai risiko lebih rendah. Tapi bagaimana keamanan ini bisa dicapai? Padahal kita menghadapi keadaan yang sama, yaitu volatilitas harga saham yang dinamis, kondisi makro ekonomi global yang masih amburadul, ancaman crash bursa yang masih bisa terjadi. Bagaimana kita bisa meminimalkan risiko?

Jawabannya, sama seperti seperti average down, penurunan risiko adalah dengan menurunkan harga rata-rata pembelian saham. Dengan sedikit variasi dalam operasi transaksi saham, ternyata ada peluang bisa menurunkan harga rata-rata, tapi juga tidak menambah volume portfolio. Inilah yang saya sebut safe average down. Berikut penjelasan strategi ini termasuk risiko dan tantangannya.
Lanjut membaca

Transaksi 11 Oktober 2011

Hari ini saya keluar dari saham ADHI. Saya tidak ingin menghadapi peluang kerugian saham ini meskipun peluang kenaikan juga ada. Saya merasa dalam waktu dekat kita masih bisa menghadapi kemungkinan penurunan saham lagi, sementara saya tidak aman melakukan average down pada saham ini karena pergerakannya kurang memuaskan. Juga perlu diketahui, saya telah melakukan kesalahan ketika masuk dalam saham ini. Karena banyak faktor ketidakyakinan, maka lebih baik uangnya saya manfaatkan untuk mengakuisisi saham lain.

ADMF saya jual hanya untuk mengembalikan portfolio ke posisi awal. Kalau saham ini akan turun lagi, saya akan beli lagi karena saya masih yakin dengan performa perusahaannya.

TRANSAKSI

  • ADHI: jual 10.000 saham pada harga Rp490 per saham, dibanding harga rata-rata pembelian sebesar 656 per saham (termasuk biaya), maka saya membukukan kerugian total Rp1.625.000 (-24,9%). Kerugian terbesar hingga saat ini.
  • ADMF: jual 500 saham pada harga Rp10.000 per saham.

PORTFOLIO SAHAM

  • ARNA: 30.000 saham pada harga rata-rata Rp338,87/340* per saham
  • JTPE: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp196/198* per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp10.800/10.921* per saham
  • PANS: 7.000 saham pada harga rata-rata Rp1.266/1.273* per saham

Catatan: *harga rata-rata adalah harga rata-rata asli dan harga rata-rata dihitung menyertakan biaya transaksi (jual/beli) agar penghitungan realisasi lebih akurat.