Transaksi 5 Agustus 2011

Jumat, 5 Agustus 2011 lalu adalah hari kelabu dalam sejarah dunia investasi. Pengalaman penting yang mencatat penurunan tertinggi dalam sejarah Bursa Efek Indonesia, yang saya alami secara langsung. Pada masa resesi 2008-2009 saya sudah masuk dunia investasi melalui reksadana, dan syukur saya bisa melewatinya dengan baik tanpa panik dan kerugian fatal, bahkan investasi saya pada awal 2010 sudah menunjukkan pertumbuhan signifikan. Kali ini, entah apakah ini awal dari sebuah masa resesi atau tidak, kita semua tidak bisa mengetahuinya, tapi saya mengalami sendiri bagaimana beberapa saham rontok sangat fatal.

Menghadapi hari kemarin, ada dua hal yang selalu menjadi fokus saya:

  1. Antisipasi Krisis. Seperti dalam tulisan sebelumnya, sebagai pengelola dana investasi (meskipun kategori dananya masih mini), saya harus serius memikirkan dampak bila resesi akan datang. Langkah yang saya lakukan sepertinya masih tepat. Langkah pertama menyelamatkan dana ke sektor investasi pendapatan tetap. Langkah kedua, bila sinyal ketakutan pasar datang, saya harus mendapatkan dana kas tambahan untuk menghadapi gejolak yang lebih berisiko.
  2. Bila Resesi Tidak Terjadi. Bila krisis tidak akan datang, tentu kita semua bersyukur. Saya bisa memasukkan kembali dana ke dalam investasi lain yang mungkin masih terdiskon. Semoga kita semua beruntung.

Pada hari ini saya mengambil keputusan untuk melaksanakan tambahan antisipasi dari hal pertama, yaitu menjual beberapa saham untuk mendapatkan kas. Kenapa saya menjualnya? Bukankah bisa saja saya membiarkannya dan tak peduli gejolak, karena toh sebenarnya saya sudah melakukan penyaringan untuk saham-saham tersebut (kecuali ADHI tentu saja, seperti diketahui saya melakukan kesalahan).

Pertimbangan dan Alasan Penjualan

  • Faktor personal, karena potensi penambahan dana belum ada, maka diperlukan langkah pencairan beberapa saham menjadi kas untuk mengantisipasi kondisi-kondisi yang berisiko di masa yang akan datang.
  • Faktor risiko saham. Dua saham ini: yaitu Berlina Tbk (BRNA) dan Tiga Pilar Sejahtera Foods (AISA) adalah dua perusahaan yang mempunyai struktur permodalan tidak konservatif, mereka mempunyai rasio hutang cukup tinggi untuk mendukung pertumbuhan mereka (lihat evaluasi emiten). Di sinilah saya mempunyai risiko cukup tinggi.
  • Dua saham tersebut saat ini mempunyai potensi gain. Ini sebenarnya alasan yang bisa diabaikan, meskipun penting. Kalau fokus adalah untuk mendapatkan kas, sebenarnya saham apa saja bisa dijual. Termasuk ADHI, yang menurut pendapat saya jauh lebih berisiko, tapi ADHI tidak saya jual karena alasan lain. Alasan kecil lainnya adalah posisi harga Berlina cukup tinggi nominalnya, maka saya akan mendapatkan cukup banyak kas sebagai cadangan.
  • Saham Trias Sentosa Tbk (TRST) yang saya beli pada harga 415 sebenarnya sudah menunjukkan gejala overvalued. Saya ingin menjual saham ini pada harga 740 tapi ternyata tidak ada yang membeli. Setelah penutupan bursa, saya memutuskan akan membiarkan saham ini dalam portfolio karena saya percaya kinerja perusahaannya sangat bagus.
  • Dua perusahaan lain, yaitu Arwana Citramulia Tbk (ARNA) dan Fortune Indonesia Tbk (FORU) tidak akan saya jual karena inilah fokus investasi saya. Keduanya perusahaan yang bagus, dengan manajemen yang menurut pendapat saya kinerjanya memuaskan, dan punya potensi pertumbuhan ke depan. ARNA saat ini minus 25 poin. FORU masih ada potensi gain 20-an poin.

Catatan

Sebagai penutup, saya tidak menjual ADHI karena alasan personal, yaitu sebagai pengingat. Saya melakukan kesalahan fatal pada pembelian saham ini (lihat evaluasi emiten pada bagian ADHI). Saya akan berusaha menahannya agar bisa mengingat bahwa kesalahan itu ada. Entah apakah bila saham ini naik nanti saya akan menjualnya? Saya belum punya rencana. Selain itu saham ini juga mengalami penurunan yang fatal sebesar 150 rupiah.

TRANSAKSI

  • BRNA : jual 5.000 saham pada harga Rp 1.660 per saham, atau membukukan keuntungan Rp60 per saham. Dengan penjualan ini otomatis saya mengabikan potensi adanya dividen pada cum-date 19 Agustus mendatang.
  • AISA: jual 5.000 saham pada harga rata-rata Rp700 per saham, atau membukukan keuntungan Rp 40 per saham.

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA : 55.000 saham pada harga rata-rata Rp 351,59 per saham
  • FORU: 35.000 saham pada harga rata-rata Rp122 per saham
  • ADHI: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp750 per saham

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>