Transaksi 26 Agustus 2011

Transaksi terakhir sebelum libur pasar seminggu ke depan. Sisa dana terakhir di rekening.

TRANSAKSI

  • PANS: beli 500 saham pada harga Rp 1.290 per saham.

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA: 70.000 saham pada harga rata-rata Rp 340,54 per saham
  • FORU: 22.500 saham pada harga rata-rata Rp122 per saham
  • ADHI: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp750 per saham
  • JTPE: 12.000 saham pada harga rata-rata Rp 210 per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp 11.400 per saham
  • PANS: 3.000 saham pada harga rata-rata Rp 1290 per saham

Transaksi 24 Agustus 2011

Dengan ada kelebihan sedikit dana dari penjualan sebelumnya, akhirnya saya belikan saham perusahaan baru yang sudah beberapa hari saya teliti. Saya memantau perusahaan ini bersama-sama dengan riset ADMF lalu. Istilahnya mumpung sudah terjun ke dunia finansial, akhirnya deh menceburkan diri ke saham lain, termasuk sekuritas. Dan pilihan akhirnya jatuh ke PT Panin Sekuritas Tbk (PANS). Sekilas saja: pertumbuhan bisnis PANS dari tahun ke tahun cukup memuaskan, detailnya belum bisa saya sampaikan saat ini. Fakta yang jelas, yield dividen cukup lumayan. ROE cukup tinggi. Dan margin of safety masih terbuka luas, sangat memuaskan peluangnya. Saya rasa ini investasi yang cukup aman meski harga sekarang termasuk harga kisaran tinggi saham ini. Saya janji akan mengulasnya dalam tulisan lain.

TRANSAKSI

  • PANS: beli 2.500 saham pada harga Rp 1.290 per saham.

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA: 70.000 saham pada harga rata-rata Rp 340,54 per saham
  • FORU: 22.500 saham pada harga rata-rata Rp122 per saham
  • ADHI: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp750 per saham
  • JTPE: 12.000 saham pada harga rata-rata Rp 210 per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp 11.400 per saham
  • PANS: 2.500 saham pada harga rata-rata Rp 1290 per saham

Transaksi 18 Agustus 2011

Alasan saya menjual sebagian saham Fortune Indonesia (FORU) adalah karena ingin menukar dana penjualannya untuk dibelikan saham lain yang mempunyai harapan potensi kenaikan lebih banyak lagi. Untuk memotret harapan potensi pertumbuhan yang paling jitu adalah dari rasio laba bersih per ekuitas (return on equity), semakin tinggi rasio ini semakin bagus. Sementara itu ROE FORU pada data keuangan terakhir 2010 adalah 12%. Meski fundamental perusahaan pada posisi yang bagus, tapi melihat sejarah ROE-nya tampaknya keputusan saya meminang FORU perlu dievaluasi.

Tampaknya saya banyak melakukan keteledoran ya beberapa waktu terakhir paska penjualan CLPI. Hm… mungkin saya memang harus lebih santai lagi dalam langkah investasi saya. Masih 14 tahun lebih waktu saya untuk menggelindingkan investasi buat anak kuliah.

TRANSAKSI

  • FORU: jual 12.500 saham pada harga Rp 163 per saham, total realisasi keuntungan Rp 41 per saham (pada harga beli 122) atau 33%.

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA: 70.000 saham pada harga rata-rata Rp 340,54 per saham
  • FORU: 22.500 saham pada harga rata-rata Rp122 per saham
  • ADHI: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp750 per saham
  • JTPE: 12.000 saham pada harga rata-rata Rp 210 per saham
  • ADMF: 500 saham pada harga rata-rata Rp 11.400 per saham

Prasyarat Menjadi Investor Perseorangan

Ini adalah beberapa prasyarat menjadi investor perseorangan yang saya simpulkan dari berbagai bacaan, di antaranya dari: The Intelligent Investor (Benjamin Graham), One Up on Wall Street (Peter Lynch), dan Common Stocks and Uncommon Profits (Philip A Fisher) dan sebagian dari Security Analysis (Benjamin Graham)–saya masih membaca buku terakhir ini. Beberapa hal mungkin juga saya ambil dari Getting Started in Value Investing (Charles Mizrahi). Beberapa pemikiran saya simpulkan dari hasil pengalaman berinvestasi selama setengah tahun terakhir.

Prasyarat ini seyogyanya tidak dibaca berurutan, karena sifatnya yang saling melengkapi. Seyogyanya setiap investor perseorangan harus mampu memiliki semua kriteria. Bila belum bisa memenuhi kriteria tertentu, tentu saja bisa dicicil, atau diperbaiki secara perlahan-lahan. Saya sebagai penulis pun belum tentu bisa memenuhi seluruh prasyarat ini. Tapi saya selalu berusaha memperbaiki. Pun, saya belum bisa dianggap sebagai investor yang sukses, saya masih belajar dan waktu saya masih lama. Bila lima tahun nanti sudah teruji barulah saya bisa berkata Anda harus mengikuti langkah-langkah saya.

Bila kita mampu memenuhi seluruh prasyarat ini, saya yakin kita bisa menjadi seorang investor perseorangan yang sukses. Seorang investor perseorangan yang sukses bisa saja mengalahkan kinerja investasi dari badan institusi atau reksadana. Benarkah bisa? Investor institusi sebenarnya juga manusia, tentu saja kita bisa mengalahkan mereka. Apalagi secara institusi mereka juga punya beberapa hambatan yang ditimbulkan dari aturan internal atau juga aturan dari Bapepam, hambatan ini misalnya: hambatan jumlah investasi maksimal di perusahaan tertentu, hambatan investasi sektoral, hambatan indeks tertentu, hambatan kapitalisasi perusahaan, hambatan kinerja–seorang manajer investasi dituntut untuk menghasil return tertentu dan tidak bisa gampang menjaga kerugian dalam jangka panjang, dan mungkin hambatan lainnya. Seorang investor perseorangan yang bebas tentu saja peluangnya lebih banyak.

Lanjut membaca

Transaksi 16 Agustus 2011

Karena ada sedikit sisa dana kas di rekening sekuritas, saya punya rencana untuk memanfaatkan membeli saham baru yang potensial, hasil riset beberapa hari terakhir. Kenapa saya tidak membeli beberapa saham lama yang pernah saya miliki seperti BRNA atau AISA? Jawabannya karena mereka sudah keburu naik :)

Itulah risiko dari penjualan saham beberapa hari yang lalu. Ketika kita ingin merealisasikan keuntungan, akhirnya kita berhadapan dengan risiko tidak bisa masuk lagi. Tentu saja hal ini harus diikuti prasyarat bahwa saham tersebut masih masuk dalam kategori kita sebagai investasi yang baik. Karena dalam evaluasi semester lalu BRNA kurang memuaskan saya dan rasio ROE sekitar 16% saja, akhirnya saya melarikan dananya untuk operasi investasi di saham lain saja. Dan pilihan jatuh ke saham PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF).

Lanjut membaca

Transaksi 12 Agustus 2011

Sejak pagi tadi saya memasang beberapa perintah beli untuk ARNA dan JTPE, tapi ternyata hanya dua perintah yang cocok dan terlaksana.

TRANSAKSI

  • JTPE: beli 2.000 saham pada harga Rp 210 per saham, total transaksi Rp 420.840.
  • ARNA: beli 5.000 saham pada harga Rp 305 per saham, total transaksi Rp 1.528.050.

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA: 70.000 saham pada harga rata-rata Rp 340,54 per saham
  • FORU: 35.000 saham pada harga rata-rata Rp122 per saham
  • ADHI: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp750 per saham
  • JTPE: 12.000 saham pada harga rata-rata Rp 210 per saham

Transaksi 11 Agustus 2011

Kemarin (11/8) adalah seperti hari gembira bagi para investor di Bursa Efek Indonesia. Karena kabar-kabar dari Amerika cukup bagus, meski Eropa masih lumayan sendu, tapi rata-rata semua pemain bursa sangat gembira. Terbukti hal ini diganjar dengan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sejak Kamis kemarin saya mulai menyemai sebuah saham baru dalam portfolio, yaitu saham perusahaan Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE). Sekilas saja, JTPE pada harga sekarang masih cukup murah. Dari rekam jejak keuangan tahun buku 2010 (yang sudah disesuaikan dengan pemecahan saham 1:5 Juli lalu), rasio P/E kurang dari 5, masih sangat menarik. Pada beberapa hari yang lalu saham ini sempat meroket ke 290-300. Dengan margin of safety 44% untuk sebuah perusahaan yang menanjak, apakah ini sebuah investasi yang aman? Menurut saya masih aman, asal kita menjaga pembelian hingga 30% dari MoS. Ingat return of equity rasio perusahaan ini cukup bagus, sehingga potensi risiko bisa dianggap agak mengecil oleh potensi growthnya. Penjelasan lengkap tentang JTPE akan saya buat dalam tulisan lain.

Wah, hutang saya bakal banyak nih, selain JTPE, saya sebelumnya berjanji akan menulis profil singkat dan evaluasi beberapa emiten yang dulu pernah saya miliki dan juga emiten lain yang saya anggap menarik: BUDI, CLPI (evaluasi semester I, bisa dibaca evaluasi CLPI Januari lalu), TRST, ARNA, FORU, BRNA, JTPE, TBLA, MRAT, dan ADHI. Dan mungkin beberapa saham baru yang masuk dalam pantauan saya. Mohon diingatkan ya!

TRANSAKSI

  • JTPE: beli 10.000 saham pada harga Rp 210 per saham, total transaksi Rp2.104.200.

PORTFOLIO SAHAM

  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA: 65.000 saham pada harga rata-rata Rp 343,27 per saham
  • FORU: 35.000 saham pada harga rata-rata Rp122 per saham
  • ADHI: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp750 per saham
  • JTPE: 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 210 per saham

The Snowball: Warren Buffett and the Business of Life

The Snowball: Warren Buffett and the Business of Life

Judul Buku: The Snowball: Warren Buffett and the Business of Life
Penulis: Alice Schroeder
Penerbit: Bantam Books (Edisi Hardcover, Cetakan I, September 2008)
Tebal: 959 halaman (termasuk indeks)

“Life is like a snowball, The important thing is finding wet snow and a really long hill” ~ Warren Buffett

Ada banyak kisah sukses yang diceritakan ulang dalam berbagai buku. Namun saya tetap berpikir kisah seorang Warren Buffett adalah sebuah kisah yang unik. Saya menganggap Buffett adalah potret menarik seseseorang yang sukses karena ia berkarir melalui sebuah dunia khusus, yaitu investasi saham. Itulah kehidupan Warren Buffett yang coba dilukiskan buku ini. Mungkin banyak orang sukses dalam bisnis lainnya, tapi kebanyakan mereka adalah sukses karena manajemen, kharisma, atau sebuah lompatan-lompatan besar dan heroik. Kehidupan Buffett jauh dari itu semua. Ia mungkin tidak punya kharisma, tetapi gaya bicaranya yang lugas mudah ditangkap oleh siapa saja dan langsung mengena. Gaya manajemennya pun tidak cukup terceritakan di mana-mana, bahkan ia cenderung tidak mau ikut campur dan cukup mempercayakan kepada orang yang dipercayainya. Tapi terbukti dalam pemilihan perusahaan, delegasi wewenang, dan juga penanganan masalah ia mampu menanganinya secara sukses. Dan ia mencapai itu semua dengan mengakumulasi kekayaannya, kehidupan bola salju yang selalu diluncurkan dari sebuah bukit yang dipilihnya secara hati-hati.

Lanjut membaca

Transaksi 8 Agustus 2011

Bursa dunia terguncang. Aksi jual dan kepanikan menyebabkan hampir seluruh indeks bursa saham di berbagai penjuru dunia merah berdarah selama dua hari terakhir. Apakah ini awal dari sebuah resesi? Saya tidak tahu. Apakah ini gejala sesaat? Saya juga kurang jelas. Apakah ada orang yang bisa meramalkan hal-hal baik nanti? Ataukah mereka yang meramalkan hal buruk itu benar? Saya juga buta tentang hal ini.

Yang jelas tidak ada seorang pun yang akan tahu nasib kita di depan. Saya yakin seorang Gubernur Bank Sentral pun tidak akan tahu apa besok bursa akan anjlok atau naik. Itulah pakem dasar yang kita percaya. Lalu bagaimana kita bersikap? Di tengah segala kebingungan, ada satu metode operasi investasi yang sederhana: cari perusahaan yang bagus, perusahaan yang pertumbuhan stabil dan menjanjikan, yang harganya masih di bawah harga wajar. Bila kita percayai ini semua, kita bisa melangkah tanpa peduli kekhawatiran. Itulah selama ini yang selalu kita laksanakan, bukan?

Hari ini pun saya menggunakan landasan operasi investasi di atas dalam mengevaluasi portfolio investasi, termasuk pembelian pada hari ini.

Lanjut membaca