Transaksi 30 Juni 2011

Transaksi

  • FORU: beli 5.000 saham pada harga Rp121 per saham, total transaksi (termasuk biaya) sejumlah Rp606.210. Koreksi: harga sebelumnya tertulis 120. Untuk angka total transaksi sudah benar.

Portfolio Saham

  • CLPI : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 375 per saham
  • EPMT : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 816 per saham
  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA : 35.000 saham pada harga rata-rata Rp 353 per saham
  • FORU: 25.000 saham pada harga rata-rata Rp122 per saham

Hasil RUPS Fortune Indonesia 2011

Sebagai pemegang saham PT Fortune Indonesia Tbk (FORU, Reuters), saya juga akan melaporkan perkembangan emiten ini di blog. Manajemen FORU baru saja mengumumkan berita hasil RUPS yang diadakan di Hotel Four Seasons pada Jumat 24 Juni 2011 lalu. Hasilnya adalah sebagai berikut:

  • Menerima dan melepas tanggungjawab direksi untuk tahun buku 2010.
  • Mengesahkan laporan keuangan yang sudah diaudit untuk tahun buku 2010.
  • Menetapkan penggunaan laba bersih perusahaan tahun buku 2010, yaitu:
    • Rp 1,8 miliar akan dibagikan sebagai dividen, nilai ini setara dengan Rp 4 per saham.
    • 15% keuntungan akan digunakan sebagai cicilan untuk dana cadangan
    • sisanya digunakan sebagai modal kerja
  • Menyetujui pergantian dewan komisaris.

Tata Cara Pembagian Dividen

Tanggal Cum-Dividen 19 Juli 2011
Tanggal Ex-Dividen 20 Juli 2011
Tanggal Pencatatan yang Berhak atas Dividen 22 Juli 2011
Tanggal Pembayaran Dividen 5 Agustus 2011

Transaksi 27 Juni 2011

Karena kesibukan saya belum sempat memuat catatan transaksi saham pada 27 Juni yang lalu. Seperti sudah menjadi niat awal pendirian blog ini, saya akan mencatat seluruh transaksi yang saya lakukan dalam sejarah investasi saya, termasuk jumlah keuntungan dan kerugian. Seyogyanya setiap investor punya catatan pribadi untuk setiap transaksi saham mereka. Setiap pembelian, penjualan, juga alasan dibalik terjadinya transaksi-transaksi. Semua seyogyanya harus dicatatat. Hal ini saya lakukan di blog ini agar saya bisa belajar dan juga mudah-mudahan berguna untuk orang lain. Pencatatan ini tidak dimaksudkan agar orang lain meniru langkah investasi saya. Setiap pembaca blog tunduk pada Disclaimer blog ini. Pencatan ini dilakukan agar bila ada kesalahan perhitungan, kesalahan langkah, atau kesalahan konyol, saya bisa belajar dan memperbaikinya di masa mendatang. Terbukti catatan-catatan ini selalu berguna.

Transaksi pada hari ini terjadi karena ada dana hasil penjualan dari transaksi sebelumnya. Karena sudah ada dua kandidat perusahaan baru yang bisa dikoleksi, akhirnya saya memulainya sejak hari ini. Dua saham baru itu adalah perusahaan PT Fortune Indonesia Tbk (FORU, Reuters) dan PT Trias Sentosa Tbk (TRST, Reuters).

FORU adalah sebuah perusahaan periklanan berbasis di Jakarta, sudah 40 tahun perusahaan ini berdiri, tapi baru go public sepuluh tahun lalu. Sejarah kinerjanya bagus. Profitabilitasnya lumayan cerah. Daftar kliennya mantap. Harganya pun, menurut saya terbilang masih murah, punya margin of safety lumayan yaitu sekitar 44%. Sebenarnya perusahaan ini sudah masuk dalam pantauan saya ketika dalam periode belajar setahun sebelum saya masuk investasi saham. Saat ini kondisi FORU adaah P/E masih rendah, komitmen dividen bagus, potensi pertumbuhan bagus, dan harga masih masuk dalam kewajaran. Ketika melihat kondisinya masih bagus dan meyakinkan, akhirnya saya memantapkan untuk melangkah koleksi saham ini.

Sementara itu, saya tahu TRST karena sering melihat kantornya ketika naik bus dari terminal bus Bungurasih menuju bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Kantor (atau pabrik) perusahaan ini selalu terlewati, letaknya di kiri jalan. Saya ingat perusahaan ini berdiri lama di situ. Pada perjalanan terakhir di Surabaya saya sempat menengok namanya, lalu ketika tahu ia perusahaan terbuka, saya cek namanya dan menelusuri lebih jauh. Ternyata bisnis perusahaan ini tidak jauh dari CLPI, yaitu produksi flexible packaging film, bedanya CLPI dalam distribusi. Pasar produk TRST kemungkinan masih bagus, khususnya untuk industri makanan dan rokok. Apakah perusahaan ini ada afiliasi dengan CLPI, saya tidak bisa mengkonfirmasinya saat ini. Tapi salah seorang komisarisnya ternyata menjadi komisaris di CLPI. Komitmen dividen sama dengan CLPI. Harganya meski sudah naik 200-an poin sejak pertama saya melihatnya (dulu pada kisaran 285-an), tapi saya kira masih punya potensi tumbuh dengan margin of safety 39%.

Portfolio saya tampaknya sudah terdiversikasi, ada perusahaan materi dasar, periklanan, keramik, dan distribusi farmasi.

Transaksi

  • ARNA: beli 10.000 saham pada harga Rp350, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp3.507.000
  • FORU: beli 5.000 saham pada harga Rp122, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp611.220
  • FORU: beli 5.000 saham pada harga Rp123, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp616.230
  • FORU: beli 10.000 saham pada harga Rp124, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp1.242.480
  • TRST: beli 5.000 saham pada harga Rp415, total transaksi termasuk biayanya adalah Rp2.079.150

Portfolio Saham

  • CLPI : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 375 per saham
  • EPMT : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 816 per saham
  • TRST: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp415 per saham
  • ARNA : 35.000 saham pada harga rata-rata Rp 353 per saham
  • FORU: 20.000 saham pada harga rata-rata Rp123 per saham

 

Transaksi 23 Juni 2011

Akhirnya saya menjual separuh dari portfolio Colorpak Indonesia Tbk (CLPI, Reuters) milik saya kemarin. Kenapa saya menjualnya? Bukankah saya sudah yakin akan makna memiliki sebagian perusahaan, yaitu mempertahankan kepemilikan selama-lamanya?

Saya mengalami dilema, bahkan saya melakukan debat panjang dengan istri saya soal satu ini. Ada pendapat bahwa harga CLPI saat ini sudah terlalu overvalued. Kalau dihitung dari harga wajar terbaru, yaitu pada kisaran 810-an. Harga saat ini 1890 sudah overvalued. Tapi Fisher pernah menulis yang kira-kira artinya demikian, “Setiap saham perusahaan bagus akhirnya akan selalu overvalued. Kalau kita menjual lalu berharap bisa masuk lagi di harga yang lebih murah, kebanyakan tidak akan pernah ada yang bisa masuk. Jadi kalau angka masih berbunyi, lebih baik dipertahankan saja. Bahkan seringkali selamanya” (Common Stocks and Uncommon Profits, Phil A. Fisher). Saya selalu ingin membuktikan teori Fisher ini. Tapi saya juga tidak ingin mengabaikan pesan istri, yang berpikir untuk kepentingan dan profit tentu saja, yaitu menjual sedikit demi sedikit sisa saham. Ini mirip dengan teori yang diangkat Graham tentang fluktuasi saham.

Akhirnya kami mencapai kata sepakat untuk melakukan penjualan separuh portfolio, sisa separuhnya kita pertahankan untuk menguji teori Fisher. Kompromi separuh-separuh ini mungkin perlu dilakukan. Separuh untuk mengambil untung dari harga sekarang. Separuh sisa portfolio CLPI nanti akan kami biarkan tanpa diotak-atik, dan tidak boleh diotak-atik selama performa dan kinerja CLPI masih berbunyi bagus, dengan tujuan untuk dipertahankan selama-lamanya. Apakah saya berencana akan membiarkannya bila harganya jatuh merosot hingga tidak terbayangkan potensi keuntungan yang hilang? Kemungkinan, berdasarkan teori yang saya percayai, saya harus membiarkannya. Apa saya tidak takut kehilangan potensi? Tentu saja takut. Sebagai ilustrasi saja, pada angka 800-an dan 1000-an dulu, saya juga sempat takut akan kehilangan potensi keuntungan. Tapi karena saya pernah menjual hampir separuh koleksi CLPI periode sebelumnya, maka saya yakin kali ini saya harus menahannya saja, dan terbayar sudah keyakinan saya.

Kenapa sebuah teori perlu diuji? Sebuah teori memang meyakinkan, dan tentu saja penulisnya sudah membuktikan hal itu. Saya tidak ragu akan hal itu. Saya bisa menjadi investor berbasis value investing seperti ini, dengan tanpa kekhawatiran saham jatuh atau bergejolak, karena percaya dengan teori-teori yang diberikan oleh mahaguru seperti Graham, Fisher, Buffett, dan Lynch. Graham, Fisher, Buffett dan Lynch, semua tentu pernah menguji teori-teori yang dipercayainya masing-masing, seiring dengan kesalahan-kesalahan yang mungkin mereka punya. Investasi adalah pengalaman. Saya mendapatkan pengalaman berharga dari kesalahan-kesalahan sebelumnya seperti menjual terlalu terburu-buru padahal kenaikan harga saham tidak seberapa, padahal saya membaca teori ini dari Graham dan Lynch. Setelah mengalaminya sendiri, pelajaran tersebut akan lebih bermakna dan sikap kita akan lebih impuls alih-alih berpikir. Jadi inilah saatnya menguji teori Fisher, dengan menghapus separuh dari keraguan untuk mengambil untung. Tentang teori Fisher ini lebih detailnya akan dibahas dalam tulisan lain.

Sisa sedikit dana dari dividen Arwana Citramulia Tbk (ARNA, Reuters) saya belikan sedikit saham ARNA untuk menyeimbangkan portfolio. Akhirnya saya memegang 50 lot atau 25.000 saham ARNA.

Transaksi

  • ARNA : beli 2.500 saham pada harga Rp 345, total transaksi Rp862.500
  • CLPI : jual 2.500 saham pada harga Rp 1.900, total transaksi Rp4.750.000
  • CLPI : jual 5.000 saham pada harga Rp 1.920, total transaksi Rp9.600.000
  • CLPI : jual 2.500 saham pada harga Rp 2.000, total transaksi Rp5.000.000

Realisasi Untung/Rugi

  • CLPI : total harga rata-rata pembelian untuk 10.000 saham adalah Rp 3.750.000, total harga penjualan adalah Rp 19.350.000, realisasi keuntungan Rp 15.600.000 atau gain 416% (ya, empat kali lipat, sangat luar biasa!). Catatan perhitungan ini tanpa menghitung biaya transaksi, yaitu sejumlah Rp59.775. Saya tentu saja sangat beruntung masuk pada angka yang tepat dan bisa membukukukan keuntungan 4 kali lipat dalam 7 bulanan, ini hanya faktor beruntung saja. Dalam visi investasi saya, potensi keuntungan 20% hingga 40% saja sudah menarik, kalau dapat lebih ya tentu saja itu rejeki.

Portfolio Saham

  • CLPI : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 375 per saham
  • EPMT : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 816 per saham
  • ARNA : 25.000 saham pada harga rata-rata Rp 354 per saham

Pemutakhiran 29/6: Penambahan beberapa kalimat saja agar tidak terlalu bombastis :)

Menghadapi Emosi

Hal terpenting dalam investasi adalah emosi. Investasi adalah tentang cara kita menghadapi emosi. Ilmu akuntansi dan manajemen keuangan tidak akan langsung menjadikan seorang akuntan pasti sukses dalam investasi. Begitulah yang selalu sering saya baca di berbagai buku investasi. Kalimat yang menurut saya benar, tetapi baru saya dalami maknanya beberapa waktu ini.

Faktor emosi ini jauh lebih penting dibanding kemampuan lain, misal membaca laporan keuangan perusahaan. Orang selalu bisa belajar ilmu akuntansi, tapi orang yang tidak bisa menghadapi emosinya sesungguhnya akan mengantarkan ilmu tersebut menjadi sebuah belenggu, seperti perasaan serba tahu dan kesombongan diri sendiri, yang akhirnya menjerumuskan investasinya.

Ketika kita akan menyeleksi saham, ketika kita meneliti saham-saham pilihan, ketika kita meriset saham-saham tersebut, lalu melakukan eksekusi atas saham-saham itu, maka kita akan selalu berhadapan dengan faktor emosi, yaitu emosi kita. Ternyata faktor emosi ini tidak hanya dalam lingkup sebelum hingga pembelian saham saja, bahkan dalam seluruh masa investasi, yaitu dalam masa memegang saham, hingga periode akan menjual, sesungguhnya faktor emosi memegang perananan penting.

Lanjut membaca

Dividen Arwana Citramulia (ARNA) 2010

Saya baru mendapat surat-e dari sekuritas, isinya tentang kabar distribusi dividen yang dilaksanakan oleh PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA, Reuters)., salah satu emiten di portfolio. Seperti diinformasikan melalui BEI, ARNA akan membagikan dividen sebesar Rp 15 per saham untuk pemegang saham pada cum-date 31 Mei 2011. Distribusi dilaksanakan pada hari ini.

Realisasi Pemasukan

  • ARNA: Dividen Rp 15 per saham untuk 15.000 lembar saham atau Rp 225.000, dipotong Pajak Penghasilan atas dividen sebesar 10% atau Rp 22.500, jumlah keuntungan bersih dari dividen adalah Rp 202.500.

Metode Seleksi Saham

Saya mengaku bukan orang yang ahli dalam bidang keuangan, khususnya akuntansi. Tapi saya berusaha belajar untuk memahami rahasia dibalik angka-angka dalam sebuah laporan keuangan perusahaan terbuka yang menerbitkan saham di Bursa Efek Indonesia demi menunjang rencana investasi jangka panjang saya. Karena saya menganggap diri saya sebagai investor aktif, maka saya harus selalu berusaha meluangkan waktu untuk bekerja dalam berinvestasi, diantaranya: menyeleksi saham, melakukan sistem pembelian/penjualan yang tepat, dan memonitor perkembangan emiten yang sahamnya telah saya miliki.

Meski saya mengaku belum sempurna dan banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam beberapa langkah investasi saya, tapi saya menemukan sedikit pola yang saya rasa cukup baik. Untuk tulisan ini saya akan membahas cara saya menyeleksi saham. Langkah ini meliputi beberapa langkah sederhana, yang saya yakin setiap orang bisa melakukannya, terutama investor yang ingin secara aktif mengelola investasinya (bukan investor pasif atau defensif).

Lanjut membaca

Jadwal Pembagian Dividen Final EPMT Tahun Buku 2010

Manajemen PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT, Reuters) baru mengumumkan tata cara pembagian dividen final untuk pemegang saham EPMT.

Tanggal Cum-Dividen 8 Juli 2011
Tanggal Ex-Dividen 11 Juli 2011
Tanggal Pencatatan yang Berhak atas Dividen 13 Juli 2011
Tanggal Pembayaran Dividen 27 Juli 2011

Seperti telah dimuat dalam tulisan sebelumnya, dividen EPMT untuk tahun buku 2010 adalah sebesar Rp 5 per saham. Untuk yang belum familiar dengan istilah-istilah tanggal dividen, silakan baca tulisan sebelumnya tentang istilah seputar dividen dan tanggal dividen.

The Intelligent Investor

The Intelligent Investor, oleh Benjamin Graham, terjemahan dari edisi 1973

Catatan: Mulai tulisan ini saya akan membuka sebuah rubrik baru bernama Resensi. Seperti namanya, rubrik ini akan berisi tulisan resensi yang berhubungan dengan topik investasi. Hal yang akan diresensi tentu saja buku, tapi juga tidak menutup kemungkinan situs, dan resensi film tentang investasi (meski jumlahnya mungkin sedikit). Selamat membaca!

Judul Buku: The Intelligent Investor: Kitab Suci Dalam Berinvestasi (edisi terjamahan dalam bahasa Indonesia)
Penulis: Benjamin Graham (Ben Graham)
Penerbit: Serambi, Cetakan III Februari 2008
Tebal: Hardcover 747 halaman (termasuk indeks)

Buku pertama dalam rubrik resensi ini adalah buku yang paling penting dalam sejarah kehidupan berinvestasi saya. Saya kira buku ini juga penting bagi banyak orang yang terjun dalam dunia investasi.

Saya tidak sengaja menemukan buku ini di toko buku Gramedia. Saat itu 15 Agustus 2007, saya iseng ke Gramedia Matraman di daerah Salemba, Jakarta Pusat. Saya sedang mencari buku investasi. Saya merasa sudah cukup banyak membaca buku tentang perencanaan keuangan. Saya ingin membaca buku investasi. Sebuah buku yang benar-benar bisa mencerahkan tentang rencana investasi.

Setelah berkeliling di rak buku bisnis dan keuangan, saya menjumpai buku-buku investasi, yang kebanyakan berjudul seperti “cara cepat mencari uang”, “langkah menjadi kaya”, atau judul-judul semacam itu. Saya tidak suka membaca buku yang berjudul mirip seperti itu (pesan pada penerbit: kenapa sih membuat judul yang tidak pede seperti itu). Saya menghindari buku-buku seperti itu.

Saya lihat ada beberapa buku biografi tokoh keuangan Warren Buffett dan George Soros. Saya saat itu belum mengenal Warren Buffett seperti saat ini. Saya ingin mempelajari Buffett tapi saya kira buku-buku berbahasa Indonesia kurang menarik. Ada sebuah buku bio Bufett dalam bentuk komik, saya sudah membaca tuntas di Gramedia itu. Saya tahu Soros, meskipun sedikit. Namun saya tidak tertarik dengan metode investasi Soros, yang lebih banyak model spekulan, saya merasa tidak bisa dipakai oleh seorang kepala keluarga dengan modal sedikit seperti saya. Saya ingin metode investasi yang cocok buat orang biasa.

Setelah capek dan kaki gempor, saya menemukan buku tebal bersampul biru ini. Sepintas judulnya menarik. Tapi sub judulnya membuat saya ngeri, Kitab Suci Berinvestasi. Hmmm… saya kurang suka, saya lihat dulu pengantar atau resensinya, siapa tahu menarik. Siapa pula Benjamin Graham ini? Di sampul buku ini ada kutipan dari Warren Buffet, “Buku terbaik tentang investasi yang pernah ditulis dan tak ada tandingannya”. Wow, seorang Buffett bilang seperti itu, memangnya buku ini terbit tahun berapa? Kan Buffett aja sudah tua, kapan ya buku ini ditulis? Akhirnya saya menghabiskan beberapa jam sore itu mempelajari buku ini, dan kemudian membelinya. Harganya saat itu Rp99.000 pas (kalau tak salah ingat). Dan saya tahu saya tidak rugi membeli buku ini.
Lanjut membaca

Peter Lynch tentang Berjudi di Saham

Forget Wall Street and take your mad money to Hialeah, Monte Carlo, Saratoga, Nassau, Santa Anita, or Baden-Baden. At least in those pleasant surroundings, when you lose, you’ll be able to say you had a great time doing it. If you lose on stocks, there’s no consolation in watching your broker pace around the office.

~ Peter Lynch, One Up on Wall Street page 79

Terjemahan bebasnya:

Lupakan Wall Street (dalam konteks Indonesia Bursa Efek Indonesia) dan bawa uang gilamu ke Hialeah, Monte Carlo, Saratoga, Nassau, Santa Anita (pusat perjudian di Amerika) or Baden-Baden (Jerman). Paling tidak di tempat-tempat menyenangkan itu, ketika kamu kalah, kamu bisa mengatakan bahwa kamu sedang bersenang-senang melakukannya. Jika kamu kalah di saham, tidak ada satu kesenangan pun untuk melihat langkah cepat brokermu di kantor.

~ Peter Lynch, One Up on Wall Street halaman 79

Pesan moral: kalau bermimpi bisa untung cepat di bursa saham, lupakan mimpi itu. Kadangkala mungkin Anda bisa mendapatkan jackpot dalam waktu singkat, tapi ketika Anda ingin mendapatkannya lagi, Anda baru akan sadar ketika kerugian Anda dahsyat atau hutang menumpuk. Lupakan. Benar deh, lupakan. Tidak ada untungnya.