Metode Investasi Dollar Cost Averaging (DCA)

Kali ini kita akan membahas tentang suatu metode investasi yang dikenal mudah, sederhana, gampang dilaksanakan oleh siapa saja, dan juga aman. Sepertinya terdengar bagus ya? Tapi selain apa yang ditawarkan tadi, apakah metode investasi ini juga menguntungkan?

Metode ini diberi nama Dollar Cost Averaging (selanjutnya kita sebut DCA). Di Wikipedia, istilah ini artinya sebagai berikut:

Dollar cost averaging (DCA) is an investment strategy, that may be used with any currency. It takes the form of investing equal monetary amounts regularly and periodically over specific time periods (such as $100 monthly) in a particular investment or portfolio. By doing so, more shares are purchased when prices are low and fewer shares are purchased when prices are high.

Artinya kurang lebih demikian, “Dollar cost Averaging (DCA) adalah sebuah strategi investasi, bisa digunakan dalam basis mata uang apa pun. Metode ini adalah suatu bentuk investasi dalam sejumlah uang yang sama secara reguler dan dalam periode spesifik (misal sejumlah 1 juta setiap bulan) dalam suatu saham tertentu atau suatu susunan portfolio. Dengan melakukan metode ini, lebih banyak saham akan dibeli ketika harga saham turun dan lebih sedikit saham akan dibeli ketika harga tinggi.

Ikuti artikel selengkapnya untuk mengetahui metode investasi ini secara lebih detail, juga membaca hasil pengukuran metode DCA dengan statistik harga saham salah satu emiten terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Lanjut membaca

RUPS dan Public Expose CLPI 2010

Disclaimer: pada saat ini saya mengkoleksi saham CLPI sejumlah 40 lot (20.000). Karena alasan inilah maka artikel ini dibuat. Blog ini akan berusaha memuat setiap berita mutakhir dari emiten yang dimilikinya agar bisa tercatat sejarah emiten berikut aksi investasi yang dilakukan.

Manajemen PT Colorpak Indonesia, Tbk (CLPImengumumkan panggilan resmi Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan 2010 yang akan diadakan pada: Selasa, 14 Juni 2011 pukul 10:00 WIB di Hotel Mulia, Ruang Leatris Mezzanine Level Senayan , Jakarta. Detil bisa dibaca dari salinan panggilan RUPS CLPI di harian Investor dan Bisnis Indonesia.

Acara public expose akan diadakan pada tempat dan hari yang sama pada pukul 11:00 WIB. Bagi yang tertarik ingin mempelajari profil CLPI sekilas, ada materi public expose CLPI terbaru (430 KB). Dari data yang disajikan terlihat performa mereka memang sangat memuaskan. Bisnis coating dan resin memang agak menurun. Bisnis film tampaknya memang tumbuh pesat, karena inilah mungkin alasan CLPI memutuskan membuat anak usaha baru dengan nama PT Colorpak Flexible Indonesia. Semua indikator positif. Saya rasa keputusan hingga saat ini untuk menahan CLPI masih tepat.

Saya ingin hadir di RUPS dan Public Expose untuk mempelajari lebih jauh perusahaan ini.

Menguji Artikel Investasi

Hari Minggu atau hari libur adalah saat yang tepat untuk membaca koran dan bersantai bersama keluarga. Hari ini istri saya menyebutkan sebuah artikel investasi di koran langganan. Kami sering berdiskusi setiap ada artikel tentang investasi. Bila istri menemukannya, biasanya ia langsung mengatakan pada saya agar membacanya pula. Bila saya yang membaca dulu, saya akan coba meng-update istri tentang artikel tersebut.

Kami biasanya mendiskusikan tema investasi yang coba dibahas penulis artikel, apakah temanya sesuai perspektif investasi yang kami yakini, ataukah temanya melenceng jauh.

Kali ini saya ingin menguji artikel investasi di artikel di koran langganan ini.

Lanjut membaca

Bermain Saham?

“Gimana sih cara bermain saham?” demikian tanya teman yang sedang ngobrol dengan saya kali itu. Obrolan kami memang seputar investasi, dan ketika saya cerita investasi saya saham, kalimat itulah yang sering muncul.

Kalimat “bermain saham” ini hampir selalu disebut bila mana kita berbicara tentang investasi saham. Entah dalam obrolan warung. Obrolan via ruang chat. Atau juga obrolan di forum-forum internet. Bahkan ada buku yang memberi judul dengan kalimat ini pula.

Setiap pengantar dari investasi saham selalu bilang saham adalah investasi. Investasi jangka panjang pula. Dengan memiliki saham, kita berarti memiliki sebagain kecil dari sebuah perusahaan, atau disebut andil. Tapi kemudian pengantar ini dibumbui kenapa saham cocok untung investasi jangka panjang, karena keuntungan saham itu tinggi, tapi saham juga punya resiko tinggi (high risk, high return). Kemudian ada bumbu lain, mainlah dalam uang yang kecil dahulu. Ada pula yang bilang, gunakan uang yang benar-benar tidak dipakai. Dan seterusnya, dan seterunya. Lalu jatuhlah kita menganggap bahwa saham itu ya bermain saham.

Lanjut membaca

Transaksi 25 Mei 2011

Transaksi

  • ARNA : beli 2.500 saham pada harga Rp 370, total transaksi Rp950.000

Portfolio Saham

  • CLPI : 20.000 saham pada harga rata-rata Rp 375 per saham
  • EPMT : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 816 per saham
  • ARNA : 15.000 saham pada harga rata-rata Rp 365 per saham
  • GIAA: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp 600 per saham

 

Berita dan Citra Pasar Modal

Hampir setiap hari kita menjumpai berita tentang pasar modal di media massa. Porsi beritanya pun  lumayan banyak. Media cetak, media elektronik (radio dan televisi), dan juga media digital hampir selalu mempunyai sebuah rubrik khusus yang memfokuskan bisnis dan juga membahas pasar modal.

Bagaimana di media cetak? Biasanya ada satu halaman khusus memuat performa saham harian, misalnya saham-saham top hari itu: dalam nilai, dalam volume penjualan, dan juga dalam peruntungan. Selain harga saham, sebuah koran umum nasional juga sering membahas tingkah polah emiten dalam pasar modal, baik itu prestasi/wanprestasi, rumor, aksi korporasi dan lain-lainnya.

Kalau media televisi lain lagi. Dua stasiun televisi berita nasional yaitu MetroTV dan TVOne mempunyai acara khusus yang membahas pasar modal. Biasanya sang penyiar akan melaporkan berita mutakhir pasar, isu-isu, sering juga gosip, dan juga tampak laporan harga aktual saham (ticker) berseliweran saling berebut untuk mencuri perhatian kita.

Media digital lebih heboh lagi. Tak mau tanggung beritanya langsung ceprot muat seketika. Kalau ada isu aktual, biasanya akan muncul berita satu dua paragraf tentang isu pasar modal termutakhir. Ketika berita sudah matang, barulah muncul rangkuman yang lebih lengkap dan menyeluruh. Hampir seluruh media digital di Indonesia juga punya seksi khusus pasar modal, lengkap pula dengan seluruh grafik dan tabel yang begitu warna-warni meriah.

Seru deh kesannya pasar modal. Tapi apakah pasar modal memang seru, seperti olahraga? Ataukah pasar modal itu seram? Bayangkan, banyak banget angka-angka di satu halaman itu, kecil-kecil pula. Orang awam pasti berpikir orang-orang yang menggeluti dunia saham ini gila, bisa berurusan dengan informasi yang banyak, rumit, dan menyakitkan (kecil) itu?

Lanjut membaca

Berita Lucu Pasar Modal

Berita pasar modal itu kadang-kadang memang lucu. Coba kita cek berita-berita ini:

Pasar Rontok Terimbas China & Skandal Seks IMF

Bagaimana kita bisa membayangkan sebuah skandal seks Direktur IMF bisa merontokkan pasar saham Indonesia? Dan satu suku kata China itu apa maksudnya, padahal yang diomongkan adalah kenaikan suku bunga China. Absurd kan? Lalu seandainya pasar benar rontok, seberapa besar kerontokan itu? Padahal pada artikel tersebut, IHSG cuma turun 32 basis poin, atau 0,85% sekian. Benarkah angka sebesar itu menunjukkan kerontokan? Tentu saja tidak. Kita bisa bilang pasar modal rontok kalau seandainya terjadi penurunan 50%, misalnya. Kalau hanya 0,85%-an itu sih biasa terjadi.

Hari Kejepit, Cermati Saham Berdividen Besar

Begitu pula berita kedua ini. Gila ya kalau hari kejepit efeknya sedemikian besar? KIta tentu jadi ingin pemerintah menambah hari kejepit lain agar punya efek terhadap saham berdividen besar. Lho? Sabar, kok bisa demikian? Apa hubungannya? Ini penulis beritanya benar-benar keterlaluan. Tanpa membahas isi narasumbernya, ternyata sumber berita di artikel tersebut terang-terang tidak pernah menyebut sama sekali hubungan hari kejepit dengan kecermatan berdividen besar. Para analis tersebut hanya mengungkap perkiraan mereka tentang kinerja saham, peluang pasar, dan hal-hal biasanya yang memang kerjaannya para analis.

Mohon maaf kepada media digital yang saya sebut di atas. Seandainya saya menemukan berita lain di media lain, saya akan mutakhirkan artikel ini. Tapi sumber di atas sepertinya memang cukup sering membuat berita lucu dengan redaksi membuat judul heboh dan menarik kesimpulan yang salah kaprah.

Transaksi 23 Mei 2011

Saya memang punya rencana mengumpulkan Arwana Citramulia, Tbk (ARNA) dalam koleksi saya. Ternyata harga pembelian sebelumnya masih terlalu tinggi, dan harga turun hingga ke 340-an. Tak masalah, mumpung ada bujet, saya tambah koleksi ARNA saya sedikit. Saya juga menukar dana dari menjual sedikit koleksi CLPI buat pembelian ARNA ini.

Saya merasa ARNA punya peluang lebih bagus daripada saham baru yang saya temukan lainnya, seperti EPMT misalnya. Maka saya berusaha menambahnya dalam waktu singkat. Meski harga sahamnya jatuh, saya berusaha membelinya lagi karena toh hal itu akan mengurangi nilai rata-rata pembelian saya.

Transaksi

  • ARNA : beli 5.000 saham pada harga Rp 355
  • ARNA : beli 2.500 saham pada harga Rp 340
  • CLPI : jual 2.500 saham pada harga Rp 830

Realisasi Untung/Rugi

  • CLPI : harga rata-rata Rp375 jual Rp 830, untung 121,33%.

Portfolio Saham

  • CLPI : 20.000 saham pada harga rata-rata Rp 375 per saham
  • EPMT : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 816 per saham
  • ARNA : 12.500 saham pada harga rata-rata Rp 364 per saham
  • GIAA: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp 600 per saham

 

Transaksi 20 Mei 2011

Pekan ini adalah minggu yang sibuk. Kegiatan ini terutama adalah membaca laporan keuangan, beberapa laporan tahunan, juga riset hasil RUPS serta memutakhirkan harga wajar beberapa saham yang saya monitor. Kapan-kapan saya akan ungkap metode saya ini. Saya juga menyempatkan mengunduh riset Pefindo di situs BEI. Dari daftar ini, adalah PT Arwana Citramulia, Tbk (ARNA) yang sepertinya cukup potensial. Saya juga dapat konfirmasi dari blog lain (saya rutin mengikutinya) yang mencatat margin of safety 95% pada saat ini. Saya mengkonfirmasi dengan hitungan saya, mungkin terlalu pesimis parameternya atau saya pakai angka terbaru, akhirnya saya dapat margin of safety 65%, sangat lumayan tentu saja. Akhirnya setelah baca Laporan Tahunan emiten ini, saya memantapkan hati membeli 10 lot (5000) saham mereka, dengan harga premium terakhir minggu ini yaitu Rp 385 per saham. Dan ternyata di akhir hari jatuh 25 poin, lumayan deh. Mungkin saya akan melego koleksi saham lain untuk ditukar emiten ini, soalnya belum memungkinkan untuk menambah deposit di rekening investasi :)

Transaksi

  • ARNA : beli 5.000 saham pada harga Rp 385, total transaksi Rp 1.925.000, komisi Rp 3.850.

Portfolio Saham

  • CLPI : 22.500 saham pada harga rata-rata Rp 375 per saham
  • EPMT : 10.000 saham pada harga rata-rata Rp 816 per saham
  • ARNA : 5.000 saham pada harga rata-rata Rp 385 per saham
  • GIAA: 5.000 saham pada harga rata-rata Rp 600 per saham